Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2016

Sepik

Cowok yang suka nyepik itu... gombal. Cewek yang suka disepik itu... murah. Ah... masak sih. Tapi, bukannya emang kodratnya ya cowok itu hobinya nyepik, dan cewek emang hobi disepik. Terlepas dari modus dan baper dibalik kelanjutan sepikan itu, take it easy aja keles.. Urusan persepikan mah gak usah dianggep serius. Kenapa? Karena yang serius ya nggak bakal hanya sekedar nyepik aja. Melainkan bakalan serius gitu menjajaki tahapan demi tahapan hingga mendapatkan kita. Dia yang serius pasti bakal merjuangin nggak cuma nyepikin doang. Jadi, yaudah sih buat lucu-lucuan aja biar suasana cair dan nggak garing. Misalnya, "Mbak, kok tambah cantik aja?" Atau, "Mbak, boleh nitip salam nggak? Buat bapaknya di rumah" Ini mau nyepik mbaknya apa bapaknya. "Mbak, pacar baru ya? Oh, buka to. Alhamdulillah.. berarti aku masih punya kesempatan." Sakkarepmu -,- "Mbak, dia suka sama kamu lho mbak. Oh, kalo dia nggak suka berarti aku." Hahaha...

Don't let him go

Dia indah, meretas gundah.. Dia yang selalu ada untukmu.. membawa suka, memanja rasa, dia yang selama ini kau tunggu.. Di dekatnya, kamu lebih tenang.. bersamanya, jalan lebih terang.. Gimana kalo kamu sukanya sama dia, nyamannya sama dia, pewenya sama dia, nyambungnya sama dia, pinginnya sama dia, tapi dia malah ga gerak gerak.. Dan.. malah ada orang lain yang nggak kamu ingingin, nggak kamu sukain, nggak bikin kamu nyaman, malah ngedektin kamu.. Gimana kalo dia ternyata malah sukanya sama yang lain.. padahal kamu selalu ada buat dia.. di saat dia sedih, dia gundah, kamu selalu siap buat ngehibur dia.. tapi kamu cuman kayak persinggahan sementara aja buat dia.. dan di saat dia sering mengabaikan kamu, ada orang lain yang mengharapkan kamu.. padahal kamu nggak mau diharapin sama orang itu.. kamu maunya diharapin sama dia.. Tapi, dianya gitu.. nggak juga menoleh ke kamu.. Jadi ada orang lain ngarep ke kamu, kamu ngarepin dia, dia masih ngarepin another orang lain.. Kamu he...

Pahitnya Kopi

Kamu tidak hidup di negeri dongeng. Kamu tidak tinggal di istana nan indah. Ayahmu bukan raja dan ibumu bukan ratu. Ketika kamu pergi ke pasar tidak akan ada yang berlutut memberi hormat kepadamu. Lemarimu tidak berisikan gaun pesta yang mahal. Dan tidak akan terdengar suara musik dansa di ballroom istanamu. Ya, kamu tidak punya itu semua. Jangankan menjadi seorang putri, menjadi seorang gadis biasa yang selalu ceria saja kamu kesulitan. Terlepas dari persaan terbuang dari jurusan impian dan  sukarela menjalani kuliah di pilhan kedua,  kamu masih juga harus memikul beban-beban lain yang berat. Hidup ini mahal. Apalagi di kota besar. Jatah biaya hidup beberapa rupiah per bulan terdengar tak masuk akal bahkan untuk sekadar makan sebulan penuh. Padahal hidup bukan hanya soal perut. Jika, uang hidup tak kunjung terbit, kamu harus lebih mengencangkan ikat pinggang lagi. Dua tiga ratus ribu rupiah harus diakali sedemikian rupa biar berumur panjang. Yeahh.. that's life, dude! ...