Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2015

Buka Mata dan Pikiranmu, Masbro!

Manusia memang makhluk Tuhan yang unik. Rasanya bahasan tentang manusia memang tidak ada habisnya. Manusia punya sifat dan karakter yang berbeda-beda. Menariknya lagi, setiap manusia memiliki ceritanya masing-masing. Semua cerita itu unik dapat mengalir apik bila kita mau meluangkan waktu untuk duduk mendengarkan mereka bercerita. Kita akan mendapai kisah-kisah epic dari orang yang tak terduga. Inilah manusia dan dunianya, kisahnya, karakternya, wataknya, dan mimpinya. Layaknya cerita, tentu tidak akan seru jika tokohnya semua baik, alurnya lempeng-lempeng saja, serta konfliknya garing. Begitu pula kehidupan sesungguhnya. Manusia mampu memberikan warna pada dunia. Seperti yang saya bilang di awal, cerita tidak akan seru jika semua tokohnya baik. Begitu pula manusia, tidak semua manusia baik.  Sejatinya baik atau buruk itu tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya. Sebagai umat muslim misalnya, kami telah diberi buku panduan hidup bernama Al Quran serta tokoh telad...

Surat untuk Kaum Intelek

Wahai kalian kaum intelek Dan kami kaum awam Puaskah kalian terus menghina kami Senangkah kalian tertawa di atas kebodohan kami Inikah caramu mensyukuri titipan-Nya Beginikah caramu Tertawa atas kebodohan kami Mengejek dan mempermainkan kami Wahai kalian kaum intelek Inikah caramu menggunakan intelektualitasmu Mengumbar kebodohan kami Menertawakannya Menjadikannya bahan olokan Inikah caramu Wahai kamu intelek Inikah caramu menunjukkan kepintaranmu Dengan mempertontonkan kebodohan kami Dengan membodohi kami Dan menertawakannya Wahai kaum intelek Kaum yang lebih mampu dari kami Kaum yang lebih bisa dari kami Kaum yang lebih paham dari kami Kaum yang pada akhirnya Menginjak injak kami Kaum awam nan bodoh Wahai kaum intelek Yang tertawa di atas kebodohan kami Dengan ilmu yang Tuhan titipkan Inikah caramu memanfaatkannya Inikah caramu?

Sabar Hari Ini Jadi Investasi Masa Depan

“Pelanggan yang cerewet benar-benar menyebalkan, membuatku jengkel dan gondok saja.” Pergantian kabinet memberikan banyak perubahan di dalam kepengurusan organisasi tempatku mengabdi. Pada periode sebelumnya aku masih bisa dibilang mahasiswa kurang kerjaan, karena periode itu merupakan ujung periode sebelumnya. Sehingga tugas anak yang baru bergabung hanya meneruskan proker yang belum selesai.  Organisasi ini bernama dewan mahasiswa (DEMA), sebutan lain untuk lembaga eksekutif mahasiswa. Mungkin nama BEM atau LEM lebih akrab di telinga. DEMA hanyalah sebutan lain. Aku tergabung dalam biro kewirausahaan yang bernaung di bawah kedirjenan Kesejahteraan Mahasiswa (Kesma).  Ketika satu periode telah habis, maka dibentuklah kepengurusan untuk periode berikutnya. Nah, di sinilah petualangan baru dimulai. Secara keseluruhan, Dema memiliki beberapa proyek besar yang dijalankan oleh kedirjenan di dalamnya. Biro tempatku bergabung pun demikian. Di bawah pimpinan kepala biro ...

Senior Cilik

Seperti biasa, saya memulai rutinitas dengan mandi. Setelah rapi, saya keluar kamar kos dengan tak lupa menguncinya. Saya langkahkan kaki dengan ringan ke pangkalan ojek. “Pak, ke Pusat Studi Jerman ya.” Ojek pun melaju mengantarkan saya ke tempat tujuan. Seperti biasa juga, di jam yang sama tempat ini sepi. Setelah membayar ongkos ojek saya memasuki pelataran bangunan tempat kursus. Tepat pukul sembilan pagi, kelas dimulai. Guru-guru menerangkan materi dan murid-murid diberi latihan. Pukul dua belas siang matahari terik bersinar di atas sana. Puasa ini sungguh berat jika saja tak ada iming-iming pahala dari-Nya  Rasa haus merayapi kerongkongan saya yang tidak bisa bangun sahur untuk makan dan minum. Sengaja saya duduk-duduk dulu untuk menunggu sang surya sedikit condong. Setengah jam berlalu. Peserta lain pulang satu per satu, saya pun mengangkat pantat dan mulai berjalan. Area perumahan dosen ini memang sangat kondusif dijadikan tempat tinggal. Namun sayangnya, jarang ada ...

Elemen Bahasa, Elemen Berkomunikasi

Membaca adalah sebuah hobi yang saya patenkan menjadi hobi saya. Memang, sedari kecil saya gemar membaca apa saja. Bahkan karena keterbatasan bahan bacaan, ketika selesai makan nasi bungkus kertas koran pembungkusnya saya bentangkan lalu saya baca. Sedikit cerita, waktu kelas satu SD saya biasa sarapan nasi uduk. Layaknya nasi bungkus, nasi uduk ini dibungkus oleh dua lapis kertas. Pertama tentu saja kertas nasi yang berwarna cokelat, dan lapisan luarnya merupakan kertas bekas koran atau majalah. Nah, tukang nasi uduk langganan saya ini membungkus nasi uduk menggunakan kertas majalah bobo yang edisinya sudah lewat. Setiap selesai makan nasi uduk, saya bentangkan halaman bobo ini. Ibu saya pun kasihan. Akhirnya, ia meminta tumpukan majalah bobo bekas itu dari tukang nasi uduk. Daripada dipakai bungkus nasi mending jadi bahan bacaan saya toh? Kebiasaan ini berlanjut hingga periode sekolah. Sejujurnya, saya kekurangan bahan bacaan, dulu. Setiap awal tahun ajaran, sekolah membagikan b...

Baca Buku (?)

Di era digital ini membaca buku menjadi sebuah kejadian langka, termasuk bagi saya sendiri. Contoh riilnya terjadi pada diri saya sendiri. Beberapa tahun silam, ketika teknologi informasi belum se booming sekarang, saya masih rajin membaca paling tidak satu buah buku setiap bulannya. Buku apa saja, tidak harus buku penunjang pelajaran. Namun, semenjak memasuki era gadget  dan internet semakin mudah diakses saya mulai meninggalkan kebiasaan membaca buku. Sekarang buku dianggap sebagai sesuatu yang berat, kuno, dan tidak menarik. Begitu pulang dengan membaca buku. Membaca sebuah buku menjadi kegiatan yang sanga berat untuk dijalani. Bila dibandingkan dengan membaca bacaan di internet melalui gadget , membaca buku tentu kalah menarik bahkan terkesan membosankan. Bila membaca di internet kita tinggal membuka browser, mengetik url, lalu memilih bacaan apa yang mau dibaca. Bila bosan, tinggal close dan cari yang lain. Mau ganti halaman? Tinggal klik next atau scroll ke bawah. Ingin ...