Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2020

Museum Kalimantan Barat: Mengenal Sejarah dan Budaya Dayak, Melayu, dan Tionghoa

Gambar
Museum Kalimantan Barat (Kalbar) berlokasi di jalan A. Yani. Tidak jauh dari Mall Ayani, mereka satu jalur. Tiket masuknya pun terjangkau sekali harganya, Rp 2.000,- untuk pelajar dan mahasiswa serta Rp 3.000,- untuk umum. Oh iya, if you are an international tourist you need to pay Rp 10.000,- for the ticket.  Berhubung sekarang era new normal, sebagai bentuk awareness untuk mencegah penyebaran covid-19, museum ini juga melakukan penyesuaian jam buka.  Berhubung aku bukan profesional museum reviewer, let me show you hal-hal yang menurutku menarik aja yaah.. enjoy my post :) Dari entrance gate, pengunjung diminta mengisi buku tamu. Oh iya, pas mau beli tiket ku dikira masih mahasiswa wkwk. Harusnya ku iyain aja kali ya biar dapet tiket lebih murah. Pas ngisi buku pengunjung juga dikira mahasiswa, hmm salah tas ranselku deh kayaknya yang membuat bentukanku jadi seperti mahasiswa study tour.  Dari meja tamu, belok ke kiri tersaji sejarah umum dulu nih...

Buah Pear yang Baik Hati

Gambar
Ini buah pear yang aku beli kemarin malam di Indomaret ujung gang Sospol. Rasanya nggak manis, nggak asem juga. Lebih seperti menggigit air. Tapi, meskipun begitu bukan berarti pear ini boleh dicela. Pear ini tumbuh dari bibit pear, atau bahkan benih pear yang disemai oleh petani pear entah di mana. Kebetulan aku enggak belajar mendalam soal pertanian buah pear. Jadi aku nggak tau pada usia berapa pear bisa dipanen.  Tapi, yang aku tau... dalam usaha pertanian atau perkebunan itu ada upaya merawat yang butuh ketelatenan dan kesabaran. Hingga waktu panen tiba, pohon pear ini harus dipenuhi kebutuannya. Mulai dari air, unsur hara, mineral-mineral, dijauhi dari hama.. Petani buah pear ini sudah mencurahkan waktu, energi, dan tenaganya demi menjaga pohon-pohon pear ini sampai waktu panen tiba.  Ketika waktu itu tiba, buah-buah pear ini dipetik, dijaga jangan sampai rusak, jangan sampai busuk. Dipilih dan dipilah lagi. Hingga bisa masuk ke supermarket atau minimarket te...

A New Place, A New Hope

Gambar
🏠🏠🏠🏠🏠 Hari kedua aku nyicil pindahan. Ada sedikit  sedih sih karena setelah naik Maxim, koperku digeletakin begitu aja di jalan kayak orang diusir. Iya kali, bapak itu ngusir aku dari mobilnya karena koperku yang segede bagong. Tapi, alhamdulillah penjaga kosnya baik banget mau bawain koper bagongku ke lantai 3. Sewaktu dia nawarin, aku sempet tanya lagi. "Beneran pak? Berat loh ini koper saya"  Berhubung ybs ga keberatan yasudah alhamdulillah ku tinggal menenteng sapu aja sambil olahraga ngecilin paha (harapannya sih kalo aku naik turun tangga tiap hari ku bisa kurusan -_-)  Ga banyak sebenernya barangku ini cuy. Tapi kenapa pindahannya sampe 2 hari? Wkwkw gapapa, dicicil aja biar ga berat di akhir.  Alhamdulillah, aku belajar ngisi token hari ini. Thanks to Google. Kalo top up di Gopay mah aku bisa, gampang itu. Nah, dulek-dulek di kotaknya itu aku nggak mudeng sih sejujurnya. Percobaan pertama, ga berhasil. Kedua, belum juga sukses. Ada sih tetangga kos wira-...

Tabung Logam yang Terjatuh

Gambar
Selepas magrib, ibu kos baru belum juga bales pesan WA ku. Aku pun memutuskan untuk menelepon. Minta izin untuk mulai memasukkan barang ke kosan baru. Karena kosan baru ini di lantai 3. Barangku enggak banyak. Tapi gempor aja ngebayangin angkut-angkut dalam satu hari gitu.  Aku bawa sebagian kecil aja. Baju-baju yang jarang dipake, sprei abu, mukena dan sajadah, laptop usang, dan galon kosong. Air galonku habis dari kemarin. Aku biarkan aja deh supaya gampang dibawa-bawa sewaktu pindahan.  Mobil maxim yang ku order datang. Totebag, koper, dan ransel masuk bagasi belakang. Adapun galon, karena bentuknya membulat dan solid dia duduk di tengah sama aku. Tiba-tiba dia terguling saat mobil mulai berjalan. Aku masih cuek aja.  Begitu sampai di kos baru dan kuangakuti barang-barang itu ke kamar atas. Baru deh aku sadar akan suatu hal. Kayaknya ada yang aneh dengan water dispenserku. Dia memang menempel pada galon. Tapi kayaknya dia punya sesuatu deh yang harusnya ada...

Elegi #1

Tuan puan terduduk diam melihat bulan. Ada seekor hamster cokelat gendut mencuat dari saku kanan kemeja flanelnya. Hamster itu celingukan, bingung karena tidak terbiasa mendengar deru ombak berpadu dengan terpaan angin yang terlampau sejuk. Pasir basah di sekeliling tuan puan itu tak dihiraunya, ia biarkan fenomena partikel air merambat melalui celah-celah kecil terjadi lewat medium pasir serta celana jeans yang ia kenakan.  Pantai itu sepi sekali seperti tidak berpenghuni. Sepi itu menggelitik hingga menyelinap menggerayangi sendi-sendi tuan puan yang hanya berteman si hamster jinak yang kini sudah percaya diri bertengger di bahunya. Sepi itu merasuk menembus setiap celah dalam hening, menembus lapisan terluar kulit yang tipis, pandai mencari jalur via pori-pori.  Tuan puan duduk memeluk kaki di bibir pantai. Ia tidak takut pada ombak yang datang menerpa kakinya. Mula-mula ombak hanya menjangkau jemari kakinya, lama-kelamaan betisnya pun basah oleh deraan air laut itu.  ...