Pahitnya Kopi

Kamu tidak hidup di negeri dongeng. Kamu tidak tinggal di istana nan indah. Ayahmu bukan raja dan ibumu bukan ratu. Ketika kamu pergi ke pasar tidak akan ada yang berlutut memberi hormat kepadamu. Lemarimu tidak berisikan gaun pesta yang mahal. Dan tidak akan terdengar suara musik dansa di ballroom istanamu. Ya, kamu tidak punya itu semua.

Jangankan menjadi seorang putri, menjadi seorang gadis biasa yang selalu ceria saja kamu kesulitan. Terlepas dari persaan terbuang dari jurusan impian dan  sukarela menjalani kuliah di pilhan kedua,  kamu masih juga harus memikul beban-beban lain yang berat. Hidup ini mahal. Apalagi di kota besar. Jatah biaya hidup beberapa rupiah per bulan terdengar tak masuk akal bahkan untuk sekadar makan sebulan penuh. Padahal hidup bukan hanya soal perut. Jika, uang hidup tak kunjung terbit, kamu harus lebih mengencangkan ikat pinggang lagi. Dua tiga ratus ribu rupiah harus diakali sedemikian rupa biar berumur panjang. Yeahh.. that's life, dude!

Pangeran tampan berkuda putih yang baik hati dan selalu siap sedia menolongmu benar-benar hanya angan kosong. Bahkan seorang anak lelaki biasa yang dengan serius memperjuangkanmu pun masih merupakan kumpulan asap yang perlu dikepulkan lagi. Seorang anak lelaki yang senantiasa rela berkorban untukmu, siap sedia mengulurkan bantuan untukmu, mencurahkan perhatian untukmu, dan membuatmu merasa jadi ratu sejagad masih menjadi mimpi bagimu.

Yang ada di sampingmu saat ini hanyalah tuan patah hati yang cintanya bertepuk sebelah tangan. Tuan yang bersedih karena ditinggalkan gadis impiannya. Tuan kesepian yang mencarimu ketika butuh tempat berbagi. Tuan sendu yang bahkan sulit berkata kepadamu.

Jangankan menjadi arsitek yang mampu mendesain gedung-gedung nan tinggi, mendesain planning untuk hidupmu sendiri saja yang berhasil nyaris tak ada. Ketika kamu menginginkan meninggalkan A untuk berjuang di B, keadaan malah berbalik. Ketika kamu sudah berlapang hati merelakan diri berjuang di B namun ingin menarik diri dari A, kamu tak berdaya melawan A. Yang ada kamu hanya terjebak di antara A dan B tanpa bisa memberikan totalitasmu di keduanya. Pada akhirnya, semua hanya berjalan setengah-setengah. Kamu capek, kesal, dan tidak bahagia.

Kaum urban berkata bahwa PHP disebabkan oleh perasaan ngarep yang kebangetan. Tapi, apa mau dikata sudah dijanjikan, masak tak boleh berharap. Sudah jadi rahasia umum jika wanita sangat mudah percaya pada janji. Sekalipun janji itu hanya di bibir saja. Tapi, sekalinya berharap tapi ternyata harapannya tidak atau belum kesampaian, rasanya yaaa... kecewa. Yaa... sedih. Yaa.. kesal. Yaa.. mau marah tapi tak bisa. isanya yaa.. terima saja lah. Yaa.. sudahlah, kita bisa apa.

Tadinya sudah banyak rencana-rencana tersusun di otak kamu. kamu mau ini, kamu mau itu. Kamu akan begini, kamu akan begitu. Dan bodohnya lagi adalah melintasnya seonggok pikiran bahwa, "Saya akan bahagia." Tapi, ketika semua harapan itu hilang, dan rentetan rencana itu gugur satu per satu rasanya. Ya sudahlah. Kita bisa apa. Terpaksa ya, pinjam dulu selagi belum bisa punya. Diakalin dulu, meskipun sejatinya butuh. Terima dulu yang ada sekarang, meskipun berat. 

Hidup bergantung memang tak enak. Anggrek butuh cahaya matahari tapi dia tak tinggi. Jadilah dia hidup nebeng pohon tinggi untuk bisa menjangkau sinar matahari. Untung pohon baik. Untung anggrek nggak maksain diri nyari cahaya matahari sendirian. Sebab jika demikian yang ada dia malah mati sebelum berkembang. Untung anggrek tahu dri dan cerdas. Tapi tetap saja yang namanya hidup menumpang itu nggak enak. Nggak bebas. Harus mengikuti aturan dari si pohon. Sekalipun terlihat nempel, tetap harus mencari makanan dan air sendiri. Harus menjulurkan akar sedemikian panjangnya. Tapi, tapi, tapi... kamu bukan anggrek. 

Kamu butuh, kamu perlu ke sana kemari. Kupu-kupu tanpa sayap hanya akan menjadi ulat yang menggeliat dari satu daun ke daun lainnya dengan lambat sekali. Kamu akan selalu kelelahan memanjat batang yang tinggi. Ketika kamu mendongak ke atas di tengah teriknya hari, kamu hanya akan melihat pemandangan kupu-kupu lain terbang melintas berseliweran memamerkan sayapnya yang indah-indah. Terbang anggun membelah langit. Terbang cantik mengepakkan sayap. Hinggap dari satu bunga ke bunga yang lain mencari nektar. Sementara kamu hanya bisa menggeliat di atas tanah berlumpur dan setiap waktu bisa menjadi santapan burung yang melintas. 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rahasia Lolos Beasiswa International Summer Course di Nagoya University

Mengikuti Tes Psikologi dan Wawancara Psikolog Toyota Astra Finance (TAF) Service

Kompleksnya Manajemen Sumber Daya Perairan di Selat Bali