Buah Pear yang Baik Hati
Ini buah pear yang aku beli kemarin malam di Indomaret ujung gang Sospol. Rasanya nggak manis, nggak asem juga. Lebih seperti menggigit air. Tapi, meskipun begitu bukan berarti pear ini boleh dicela. Pear ini tumbuh dari bibit pear, atau bahkan benih pear yang disemai oleh petani pear entah di mana. Kebetulan aku enggak belajar mendalam soal pertanian buah pear. Jadi aku nggak tau pada usia berapa pear bisa dipanen.
Tapi, yang aku tau... dalam usaha pertanian atau perkebunan itu ada upaya merawat yang butuh ketelatenan dan kesabaran. Hingga waktu panen tiba, pohon pear ini harus dipenuhi kebutuannya. Mulai dari air, unsur hara, mineral-mineral, dijauhi dari hama.. Petani buah pear ini sudah mencurahkan waktu, energi, dan tenaganya demi menjaga pohon-pohon pear ini sampai waktu panen tiba.
Ketika waktu itu tiba, buah-buah pear ini dipetik, dijaga jangan sampai rusak, jangan sampai busuk. Dipilih dan dipilah lagi. Hingga bisa masuk ke supermarket atau minimarket tentu sudah melewati tahapan sortir terlebih dahulu. Dibungkus busa jaring, diletakkan di atas stereofoam, dicover pakai plastik bening, dilabeli dengan harga terbaik. Disimpan dalam lemari es supaya terjaga kesegarannya.
Begitulah, hingga tanganku meraihnya dan membawanya ke kasir. Lalu kubawa pulang ke kos, dan kumakan. Masuk lewat mulut, kerongkongan, sampai lambungku. Aku perlu berterima kasih karena kandungan airnya membantuku meredakan haus karena saat aku belum sempat buka galon.
Terima kasih, buah pear. Kamu hebat.
Komentar