Elegi #1

Tuan puan terduduk diam melihat bulan. Ada seekor hamster cokelat gendut mencuat dari saku kanan kemeja flanelnya. Hamster itu celingukan, bingung karena tidak terbiasa mendengar deru ombak berpadu dengan terpaan angin yang terlampau sejuk. Pasir basah di sekeliling tuan puan itu tak dihiraunya, ia biarkan fenomena partikel air merambat melalui celah-celah kecil terjadi lewat medium pasir serta celana jeans yang ia kenakan. 

Pantai itu sepi sekali seperti tidak berpenghuni. Sepi itu menggelitik hingga menyelinap menggerayangi sendi-sendi tuan puan yang hanya berteman si hamster jinak yang kini sudah percaya diri bertengger di bahunya. Sepi itu merasuk menembus setiap celah dalam hening, menembus lapisan terluar kulit yang tipis, pandai mencari jalur via pori-pori. 

Tuan puan duduk memeluk kaki di bibir pantai. Ia tidak takut pada ombak yang datang menerpa kakinya. Mula-mula ombak hanya menjangkau jemari kakinya, lama-kelamaan betisnya pun basah oleh deraan air laut itu. 
 
Terdengar suara kapal dari kejauhan. Suara yang cukup mengejutkan si hamster hingga ia celingukan bingung. Tuan puan tak bergeming. Di kepalanya masih terekam sempurna kejadian sore itu tatkala ia, dengan segenap keberanian yang mampu ia kumpulkan, mengatakan sebaris kalimat dengan gemetar "Maaf, saya tidak bisa"


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rahasia Lolos Beasiswa International Summer Course di Nagoya University

Mengikuti Tes Psikologi dan Wawancara Psikolog Toyota Astra Finance (TAF) Service

Kompleksnya Manajemen Sumber Daya Perairan di Selat Bali