Harinya Praja Muda Karana
Halloooh pemirsaah!! Agak lemes ni Eky malem ini. Maap maap yeeh. Sebelumnya aku mau nyapa dulu dong handai taulanku apa kabar semuanya? Yang dari Jogja mana suaranya?? Yang dari Pacitan mana teriakannya?? Dari Indonesia mana semangatnya?? Okedeh.. Yang merasa masih menjadi manusia mana dengungannya??? Muahahaha... Abaikan kegilaan ini. Kembali ke laptop (Yaiyalah daritadi juga ngetik pake laptop dasar oneng).
Jeng jeng jeng (suara piano gitu maksudnya buat opening)
Guys aku baru aja selesai mandi dan keramasin rambut. Jadi, nggak kepala nggak badan adem bener nih rasanya. Padahal tadi sempet bueteee puoolllll. Sumpah yaa. Sekitar setengah jam yang lalu moodku habis anjlok besar-besaran. Tunggu, tunggu, tunggu... Setengah jam yang lalu bete abis, terus mandi, sekarang ngga bete, itu berarti mandinya setengah jam dong? Ahh bodo lah nggak usah dipikirin. Penasaran kenapa aku bisa bete abis-abisan?
Jadi begini ceritanya...
Alkisah pada hari Jumat tanggal 14 Agustus 2015 bertepatan pula dengan hari pramuka, aku bangun di pagi hari sambil ngolet-ngolet unyu gitu di tempat tidur. Selanjutnya aku ngapain aja cukup diskip, okey? Okey. Sekitar pukul delapan partner ngofas aku yang paling imut sedunia dateng. Udah kan kita keluar tuh ke jalan gejayan mau nyari tongkat pramuka. Begitu sampe di depan tokonya ternyata tutup. Okeeh mood pagi ini masih bagus. Baguuuuss banget. Secara malemnya perut kenyang habis diisi sop ayam pak min dan tidur juga nyenyak banget. Selain itu matahari bersinar cerah menghangatkan kamarku. Jadi, yaaa wajarlah aku riang banget pagi-pagi. Ditambah lagi hasil selfie aku pagi ini bagus-bagus karena fotonya cantik-cantik. See? Sempurna banget kan?
Ahasil, kami berdua memutuskan untuk berkunjung ke museum UGM. Biar kalo pas ngofas nanti ada gamada yang nanya museum UGM isinya apaan kita bisa jawab nggak asal jawab aja. Menit-menit pertama kita enjoy banget muter-muter gedung pertama. Sambil sesekali ngakak gegara sotoy bikin cerita asal-asalan. Daaaann sampailah kita pada sebuah pintu yang kita (eh aku aja ding) kira adalah pintu keluar. Ternyata... Jengjengjengjeng (gabisa musik lain) keluarlah seorang mas-mas yang mengenalkan dirinya sebagai seorang guide yang mau mendampingi kita keliling museum. Ternyata pintu yang aku kira pintu keluar itu baru akhir dari gedung pertama. Ohh jadi masih ada gedung kedua toh. Yaudah deh kita bertiga masuk ke gedung kedua. Dan bener aja mas-mas itu mulai deh ngoceh panjang lebar tentang sejarah UGM, sejarah museum UGM, isi barang-barang di dalam museum, dan berbagai cerita di balik setiap goresan sejarah (ceileehhh). Aslii, pada saat-saat itu sebenarnya merupakan saat genting dalam hidupku. Kenapa? Karena aku berasa dikasih kuliah dadakan. So, panas dong kepalaku dengerin masnya ngoceh. Akhirnya aku jalan-jalan muter-muter sendirian keliling dan membiarkan masnya ngoceh ditemenin partnerku yang broo banget.
Ohiya partner ngofasku namanya Tahul. Cewek teknik geomatika, strong, imut, manis, pinter matematika, baik hati, dan jomblo (hehehe promosiin temen). Dia nii baiiiikkk banget. Aku sujud syukur tuh dapet partner kayak dia. Okeeeh, kembali ke musem. Akhirnya tibalah kami di penghujung waktu. Sebenarnya aku udah ngode-ngode sama Tahul buat segera mengakhiri kuliah sejarah ini. Tapi kayaknya dia keasyikan gitu deh jadi nggak peka dan nggak nangkep kode-kodeku. Sedih.
Tapi nggak apa-apa. Ujung-ujungnya kita pergi juga kok dari museum itu (yaiyalah masak mau di situ terus ampe museumnya tutup). Sudah kan, kita meluncur ke kopma buat beli kardus seharga dua rebu perak. Buat apa? Nanti... Sabar lah. Makanya dibaca sampai tuntas. Hehehehe..... After that, kita balik lagi ke toko pramuka di gejayan dan ternyata masih juga tutup. Kita akhirnya mutusin buat nyoba cari toko pramuka di daerah jakal. Udah sampe km sekian ngga nemu juga. Aku pun berinisiatif untuk nanya temen yang anak pramuka. Masih juga ditambah gugling. Awalnya hasil gugling nihil. Tapi aku dapat pencerahan dengan mengganti kata kunci pencarian. Nemu deh ada toko pramuka di jalan monjali. Begitu dapet pencerahan itu kita langsung muter balik dan menyusuri jalan monjali dengan berbekal google map dan insting dua cewek ababil yang mulai kelaparan.
Naasnya kita nggak nemu toko pramuka yang tertulis di gugel. Setelah nyaris putus asa karena hampir satu jam dibakar matahari Jogja kita pun (lagi-lagi) muter balik. Eh, (lagi-lagi) aku dapet pencerahan. Di sebelah kiri jalan aku melihat sebuah toko yang menjual barang yang kita cari sedari tadi yakni: tongkat pramuka. Dan tau nggak sodara-sodara itu toko apa? Yup! Betul sekali! Bukan toko pramuka melainkan toko perabotan yang menjual sapu, pel, ember, dan kawan-kawannya. Alhasil aku langsung teriak “Eureka!!” di antara laju kendaraan (enggak ah, lebay ini mah). Intinya aku langsung bilang Tahul dan kita pun (lagi dan lagii) muter balik. Guys, kalian nggak akan tahu bagaimana gembiranya kita melihat sebilah bambu bersandar di dinding. Mata kami langsung hijau dan alarm pun berbunyi ngiung ngiung ngiung. Di atas kepala kami langsung mencul gambar lampu menyala. Ting teng! Ahaaa! Kita nemuin tongkat pramuka yeeeeyyy!!! Setelah memilah dann memilih mana tongkat yang paling enteng kita pun segera membayarnya dengan menyerahkan duit goceng agar bisa membawa benda keramat ini pulang.
Jadi, sepanjang jalan itu tangan kananku nenteng tongkat pramuka, tangan kiriku nenteng (lebih tepatnya ngempit) kardus bekas air mineral. Pulanglah kita ke kosanku di Swakarya. Sebelum ke kosan kita mampir dulu ke tempat print-print buat ngeprint tulisan nama gugus kita di kertas A3. Oiya gugus kita namanya: KARDONO DARMOYUONO 06. Selesai ngeprint kita masih harus nyari lakban. Yang ngeselin adalah cuman mau beli lakban aja kita musti menyusuri fotokopian satu demi satu karena ternyata nggak setiap fotokopian jualan lakban. Setelah berjalan cukup jauh, nemu deh kita sama benda keramat nomer dua (baca: lakban).
Begitu semua bahan terkumpul, kami pun segera menggelar eksekusi di kamarku. Sebenernya kita cuman mau bikin papan nama buat gugus aja sih dari bahan-bahan itu (tongkat pramuka, kardus, tulisan nama gugus di kertas A3, dan lakban). Pembaca udah pada kebayang kan papan nama bikinnya gimana dan bentuk jadinya kayak apa? Okey okey saya percaya kalian semua adalah pembaca cerdas nan budiman. Jadi nggak usah dijelasin panjang lebar udah pada tahu. Hwehehehe...
Proses pembuatan papan nama gugus memakan waktu sekitar tiga puluh menit. Setelah itu aktivitas kita yaa cuman glundungan di lantai aja sampai magrib. Yaaah, disisipi makan siang sebentar lah di burjo. Selebihnya kita yang bercengkrama, cerita-cerita, ngobrol-ngobrol, rumpi-rumpi, ketawa-ketiwi, banyak deh. Intinya ya sebenernya kita ngga buang-buang waktu juga sih. Kita kan sekaligus mengakrabkan diri demi mengenal satu sama lain agar tercipta suatu chemistry yang aduhai supaya pada saat ngofas kita bisa bekerja maksimal dan profesional. Egileee lebay amet Ky. Yaa biarin siapa juga yang nulis. Blog juga blog siapa :p
Dari rumpian kita yang nyaris tak berujung tiba-tiba azan magrib berkumandang. Tahul pun pamit undur diri dari hadapan pemirsaah. Dia pulang ke rumahnya di Klaten. Yaahh bye bye Tahul. Sebagai tuan kamar kos yang baik akupun mengantarkannya sampai pintu depan. Selepas kepergiannya aku pun merenung di kamar. Sembari apdet status dan cek-ek notif sosmed aku nunggui waktu isyak. Aku masih senyum-senyum sendiri karena kebahagiaan hari ini karena hampir seharian aku kan ada temen ngobrol jadi asyik banget kan tuh. Iyaa jadi makin cintaah sama Palapa. Apalagi dapet partner kerja yang bersahabat abis kayak Tahul. Duh, aku nggak bisa ngebayangin deh kalo sampai aku dapat parner yang egois, suka seenaknya sendiri, nggak kooperatif, nggak profesional, nggak ontime, anaknya suka ngilang, beehhh kalo kayak gitu pingin aku pites aja tuh manusia model begitu.
Namun, kegembiraan itu perlahan sirna seiring dengan kedatangan negara api. Iya, negara api sempat datang dan menyerang. Senyum di wajahku perlahan sirna dan lenyap. Jadi ceritanya adalah seperti ini:
Di saat aku sudah pakek mukena mau sholat ke masjid ibu kosku memanggil. Beliau menagih uang lorong timur untuk bayar petugas kebersihan bulan ini. Kebetulan aku PJ bulan ini karena aku penghuni pertama yang menghuni secara ajeg. Well, sebenarnya sejak awal aku menerima buku uang listrik dan kebersihan aku sudah mencium bau-bau yang aneh dan tidak beres. Karena besok adalah saatnya membayar petugas keberihan, jadi mau tidak mau yaa tetap harus dibayar. Oke, akupun meminta izin sholat dahulu. Selesai isyakan aku balik ke kos dan menyerahkan amplop berisi uang kebersihan. Sebenarnya karena ketidakberesan yang terjadi uang itu nggak cukup untuk membayar petugas kebersihan. Aku tahu kok. Tenang saja. Skenario masih berlanjut. Setelah menyerahkan amplop aku keluar mencari udara segar di jakal (duh orang bego juga tahu di jakal mah nggak ada udara segar). Anggap saja aku lagi mendekati kos-kosan kan.
Kebetulan sekali aku datang bersamaan dengan mbak Rani (PJ bulan lalu). Ibu kos yang baru saja membuang sampah pun menemui kami di garasi dan tanpa babibu langsung membahas masalah uang listrik dan kebersihan. Di tengah remang-remang garasi daku terdiam memelototi ibu kos dan mbak Rani berbicara. Sesekali aku menimpali. Kemudian disusul mbak Rani dan ibu kos bergantian. Setelah diskusi berjalan alot, diputuskan diskusi dilanjut di ruang tamu. Aku pun diminta membawa turun buku catatan listrik dan kebersihan. Awalnya hanya mbak Rani dan ibu kos yang saling klarifikasi. Aku hanya diam menyaksikan. Namun, aku pun merasa gatal dan mulai angkat bicara. Awalnya aku hanya memberikan komentar-komentar untuk memperjelas arah diskusi. Lama-kelamaan aku gerah dan mulai angkat bicara lebih banyak. Bahkan aku mulai menunjukkan bukti-bukti pendukung yang autentik berupa angka-angka yang tidak mungkin dibantah. Semuanya runtut dan jelas asal mulanya. Aku paham arah pembicaraan ini akan dibawa ke mana. Namun, melihat gelagat mbak Rani kami pun saling bahu-membahu untuk mempertahankan hak kami agar tidak disalahgunakan oleh pihak penguasa.
Diskusi yang alot mulai mengarah pada perdebatan. Kami semakin jeli untuk mencari akar permasalahan ini. Kami menelusuri setiap kronologis kejadian yang berhasil terekam dalam ingatan. Segala meode hitung kami keluarkan demi menemukan sebuah kebenaran. Akhirnya kami berhasil menemukan akar masalahnya, titik-titik mana saja yang bermasalah, hingga kepada solusi apa yang dapat dipecahkan untuk menyelesaikan masalah ini. Iya, kami cukup bersitegang dan aku cukup badmood. Untung saja kami bicara angka. Untung saja masalahnya ketemu. Untung juga solusinya berhasil tercipta.
Aslii diskusi tadi aloot sekali. Apalagi diperparah dengan perut yang mulai mengosongkan diri. Behh.. Bete kuadrat kuadrat! Sebenernya apa sih masalahnya? Pada kepo? Boleh kok kepo. Tapi kalo kepo beneran silakan pm aku aja yaaa. Buat yang beneran kepo loh. Entar bakal aku jelasin duduk perkaranya. Yang penting masalahnya selesai.
Tapi yang bikin aku betee lagi adalah ada dua agenda aku malam ini yang tidak terlaksana gara-gara diskusi alot gajelas yang alhamdulillah ujungnya bisa jelas. Ituu tuh bete banget sumpah. Udah ada gambaran agenda malam ini mau ngapain aja jam sekian sampe jam sekian, tapi gegara diskusi itu batal dweehh!
Makanya itu aku sempet buka laptop dan nulis satu paragraf di awal tapi aku tinggal mandi buat ngademin kepala. Eh nggak taunya bener aja tuh di tengah-tengah gebyar-gebyur di kamar mandi aku dapet PENCERAHAN.
Iya pencerahan. Dan pencerahan macam apa pula yang menghampiri Eky di saat mandi?
Jadi, kalo dipikir-pikir nih yaa apa yang terjadi hari ini tuh berhubungan gitu lho. Sepagian aku nongkrong di museum UGM, dikasih kuliah gratis tentang sejarah UGM, hepi-hepi sama Tahul, dan malamnya berjuang sama mbak Rani. Dari situ tuh di tengah adegan mandi aku sempett terdiam dan teringat kata-kata paraa aktivis senior yang hobinya orasi. Aku jadi inget tentang peranan mahasiswa dalam sebuah negara. Dan gambaran-gambaran perjuangan mahasiswa itu mulai berseliweran di kepalaku. Ada gambar reformasi, ada gambar Bung Karno, ada gambar tentara penjajah, ada gambar demo di jalanan, ada gambar pemberontakan, hingga yang terakhir adalah gambaran orator-orator yang tak lain tak bukan adalah kakak-kakak angkatanku. Mereka tak hentinya gitu meyuarakan peran mahasiswa sebagai penyambung lidah rakyat dan sebagai kontrol sosial.
Awalnya orasi itu hanya masuk kuping kanan keluar kuping kiri. Tapi setelah aku renungi lagi maknanya ( di kamar mandi sambil sikat gigi), aku mulai paham. Bahwa mahasiswa itu memang harus benar-benar aware dengan segala kebijakan penguasa (baca:pemerintah). Kita tuh nggak boleh terlena oleh fasilitas. Kita tetap harus kritis dan waspada terhadap setiap penindasan yang bisa terjadi kapan saja. Penindasan oleh penguasa bukanlah cerita baru. Itu telah terjadi beradab-abad yang lalu. Di sinilah peran mahasiswa sebagai kontrol sosial. Kita sebagai kaum terdidik harus mampu berpikir kritis. Dan setiap kali penguasa mulai melneceng dari otoritasnya kita harus sadar, tahu, tanggap, kritis, pokoknya jangan hanya diam lah apalagi pura-pura tidak tahu. Kenapa? Karena kita memiliki tanggung jawab sebagai penyambung lidah rakyat. Kita punya tanggung jawab untuk memperjuangkan hak rakyat. Biaya pendidikan ini asalya dari rakyat, jadi jika bukan kepada rakyat kita mengabdi lantas kepada siapa? Kita harus bangkit dan berjuang apabila kita tahu pemerintah mulai menyeleweng dan mulai membuat kebijakan yang bisa merugikan rakyat. Sebelum terlanjur kita harus cepa tanggap mencegahnya. Jangan sampai rakyat kena imbasnya deh.
Nah, uraian panjang lebar itu bisa juga dianalogikan dalam kehidupan kosan. Bisa saja toh kita tinggal di kosan milik orang yang zolim (baca: matre). Di situ uang kita sebagai rakyat (baca: penghuni kosan) bisa saja dikeruki untuk keperluan ini itu yang sebenernya kita tahu (melalui insting anak kos) bahwa tidak semestinya sepert ini. Nah, di sinilah fungsinya kekompakan anggota kosan terutama yang tinggal pada lorong yang sama. Kita harus kompak dan bahu-membahu untuk memperjuangkan keadilan. Kita tidak boleh pasrah saja dengan setiap kebijakan apalagi yang berpotensi merugikan kita. Kita harus berjuang kawan-kawan!! Jangan mau ditindas!! Indonesia sudah merdeka 70 tahun (hampir saja), masak iya kita masih aja mau memelihara mental terjajah kita untuk kembali dijajah. Nggak boleh!! Kita harus bangkit saudara-saudaraku. Mari kita ciptakan hubungan persaudaraan yang erat, pertemanan yang rukun, dan kekeluargaan yang kompak. Kita harus bersatu teman-teman. Kita jangan mau dirugikan dengan kebijakan-kebijkan yang merugikan kita. Kita harus selalu melek, sadar, aware, dan jangan terlena. Mari kita satukan tekad untuk menentang segala bentuk penindasan yang mungkin terjadi di bumi swakarya ini. Mariii kita bersatu!!! Bersatu kita teguh!! Bercerai kita rujuk lagi!!! Ayookk semuanya!! Anak-anak penghuni lantai dua lorong timur!! Jangan mau kalah kompak sama anak bawah! Ayo kita buktikan kalau kita BISA!!!
Wassalamu’alaikum wr. wb.
Komentar