Kompleksnya Manajemen Sumber Daya Perairan di Selat Bali

Mau perikanan mau perairan pasti udah pada tau kan ya ini sektor yang kompleks. Kalo ngomongin perairan apalagi perairan terbuka ini urusannya sama banyak pihak. Kenapa? Karea perairan terbuka itu sifatnya open source yaitu sumber daya alam yang terbuka pokoknya nggak ada yang bisa ngejudge ini punya siapa daerah ini punyanya si X daerah itu punyanya si Y dst, nggak bisa. Karena kalo udah ada kata open source artinya itu kawasan bebas dimiliki siapa aja dan nggak bisa diklaim. Milik umum lah kaya fasilitas umum gitu. Dipake bersama, dinikmati bersama, dimiliki bersama, tapi nggak bisa diklaim atau dimonopoli oleh satu pihak aja. Gitu sih teorinya.

Laut, salah satu contoh perairan terbuka
sumber: http://2.bp.blogspot.com/
Nah contohnya apa aja sih? Ya laut, ya sungai, ya danau, ya waduk, ya pantai, ya rawa-rawa, ya itu deh. Trus, trus namanya kawasan perairan kan nggak mungkin kan isinya air doang macam bak mandi atau kolam renang, tapi ada isinya baik komponen biotik (hidup) maupun abiotik (tak hidup). Bisa aja di dasarnya itu ada batu, pasir, lumpur, karang, atau yang lainnya, lalu di kolom airnya itu hidup ikan, udang, kepiting, larva ikan, kutu air, plankton, dan kawan kawan. 

Selat Bali udah terkenal dari kapan taun dan udah jadi jalan buat nyebrang kapal baik kapal orang maupun barang dari Pulau Jawa ke Pulau Bali ataupun sebaliknya. Ya intinya Selat Bali itu udah tenar jadi penghubung kedua pulau ini deh ya. Tapi, ternyata Selat Bali punya peranan yang lebih besar dari sekedar menghubungin dua pulau. Selat Bali itu ternyata perairannya subur banget loh. Kok bisa? Iya bisa. Karena ada peristiwa upwelling, yaitu naiknya massa air dari bawah ke atas yang otomatis membawa nutrien-nutrien penting yang selama itu adem ayem aja di wiayah perairan dalam. Apa sih untungnya? Untung dong tentunya, karena hal ini menjadikan teradinya pencampuran nutrien penting. Anggaplah massa air itu kita bagi jadi bagian permukaan sama bagian dasar. Di bagian permukaan ini kan arusnya kenceng tuh, jadi perpindahan airnya lebih sering. Otomatis nutrien di bagian ini tu lebih cepet nyebar ke tempat lain. Berbeda sama di bagian bawah yang relatif tenang jadi nutriennya relatif anteng. Lalu, ketika terjadi yang namanya upwelling, perairan itu seperti teraduk akibatnya nutrien dari dasar terbawa ke permukaan, mengakibatkan area permukaan yang tadinya sempet miskin nutrien jadi kaya lagi akan nutrien.

Salah satu komoditas unggulan di Selat Bali itu ikan lemuru atau Sadiniella lemuru. Udah terkenal loh Selat Bali ini sebagai kawasan penghasil ikan lemuru terbesar di Indonesia. Kok bisa sih selat sekecil itu menghasilkan ikan lemuru yang banyak banget? Salah satu alasannya ya itu tadi di paragaraf sebelumnya. Karena perairannya subur dan cocok jadi habitat ikan ini. 

Tingginya populasi ikan lemuru di Selat Bali ini memacu berdirinya industri-industri perikanan di kawasan sekitarnya. Sebut saja Muncar, sebuah kecamatan di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Kecamatan Muncar sudah puluhan tahun mengembangkan industri pengalengan lemuru dan ada banyak pabrik-pabrik pengalengan di sini. Bukan hanya pengalengan sebenernya masih ada industri cold storage, pembuatan minyak ikan, pembuatan tepung ikan, terasi, dan juga usaha penangkapan dong pastinya. Kronologis pengelolaan perikanan di Muncar ini dimulai dari menangkap ikan di laut,menyimpang hasil tangkapan di cold storage, mengolahnya menjadi ikan kalengan, mengolah limbahnya jadi minyak ikan dan tepung ikan, mengembangkan industri terasi dan freeze fish, dan tentunya pengelolaan limbah industrinya.

1. Penangkapan Ikan Lemuru

Ikan lemuru di Selat Bali ditangkap menggunakan purse seine (jaring lingkar). Alat ini lucu deh. Mekanisme penangkapannya itu begini: jadi ada gerombolan ikan di tengah laut, kemudian dikurung pakai jaring yang panjang dan membentuk lingkaran, setelah kedua ujung jaring bertemu maka akan ditarik tali 'kolor' yang akan menutup bagian bawah jaring dan jadilah bentuknya seperti kantong yang super besar berisi berton-ton ikan lemuru yang terjebak di dalamnya. Pengoperasian purse seine ini nggak boleh sembarangan. Harus pakai kapal yang besar, katakanlah 30 GT. 

Ini nih yang namanya Purse Seine
sumber : http://2.bp.blogspot.com/

Baik pemerintah Jawa Timur maupun pemerintah Bali, sudah mengatur penangkapan ikan lemuru di Selat Bali. Aturan itu berupa batasan jumlah kapal yang boleh dioperasi kan, besar maksimum kapalnya, dan juga jumlah tangkapan yang diperbolehkan. Kenapa harus diatur kaya gini? Tujuannya ya biar ikan lemuru di Selat Bali nggak punah. Walaupun jumlah populasinya banyak banget, tapi kalo ditangkap terus tanpa ada aturan yang jelas ya lama-lama bisa habis juga dong. Tapi sayangnya, meskipun udah diberi aturan untuk membatasi kegiatan penangkapan, masyarakat masih aja melanggarnya :( 

Untuk jumlah kapal yang boleh beroperasi misalnya, maksimal kapal yang boleh beroperasi itu harusnya 273 unit dengan porsi buat Jawa Timur 190 unit dan porsi buat Bali 80 unit. Tapi, namanya manusia ya usaha buat meningkatkan kesejahteraan hidupnya ya buat meningkatkan hasil tangkapan mereka ini masih aja pakai unit penangkapan (kapal) melebihi jumlah yang sudah ditetapkan. Padahal tuh, harusnya yang ditingkatkan teknologi dalam kapanya bukan jumlah kapalnya. Alhasil, jadilah perairan Selat Bali sekarang sudah over fishing, artinya melebihi batas maksimum yang boleh dieksploitasi.

Permasalahan Nelayan yang Dilematis

Sebenarnya permasalahan over fishing ini adalah permasalahan yang sangat dilematis dan sensitif loh. Dilihat dari segi ekosistem tentu ini sangat tidak baik. Tapi bila dilihat dari perspektif nelayan sebenarnya menyedihkan banget loh. Bayangin deh, dalam rantai perikanan nelayan itu pihak yang paling menderita. Secara nih ya nelayan tuh udah bertaruh nyawa loh ke laut nangkap ikan. Tau sendiri kan ya di tengah laut itu bahaya mengancam mulai dari gelombang laut yang kadang stabil kadang labil, angin yang kadang sepoi kadang ribut, belum lagi cuaca yang kalo siang panas kalo malem dingin, belom lagi kalo hujan dan badai, behh serem deh kalo cuman punya nyali seupil gabakal berani berangkat. 

Nelayan pesisir yang selalu identik dengan kemiskinan
sumber : http://static.republika.co.id/

Untuk bisa melaut nelayan butuh modal. Modal ini berupa persediaan makanan, bahan bakar, dan segala keperluan untuk melaut. Permasalahan yang jamak terjadi adalah seringkali para nelayan ini nggak punya modal untuk melaut. Akibatnya, muncullah pihak-pihak pemberi modal mulai dari tengkulak, bakal calon pembeli hasil tangkapan, maupun pengusaha perikanan tangkap atau dalam dunia perikanan dikenal sebagai nelayan juragan. Kalau udah kembali ke darat, hasil tangkapan ini akan dijual. Bila dibandingkan dengan produk perikanan lainnya hasil tangkapan dari laut ini memiliki nilai jual terendah. Hal ini karena ikannya ya ikan utuh belum diapa-apain masih ikan ya ikan aja. Kalo dalam dunia perikanan juga hal ini bisa dikatakan bahwa nelayan tangkap memiliki bargaining power yang sangat rendah. 

Perlu diketahui ya guys, ikan itu adalah produk yang perishable atau mudah banget rusak. Nanti dari sini muncul industri-industri peng-es-an atau cold storage. Ikan dikasih es biar bisa lebih tahan lama walaupun efeknya nggak signifikan banget tapi bisa lah ya memperlambat waktu pembusukan. Oke, balik ke bargaining position nelayan yang rendah. Kok bisa? Iya, bisa banget. Udah tau kan kalo buat melaut aja nelayan sering nggak punya modal hingga muncul 'malaikat-malaikat' pemberi modal. Mereka adalah para pembeli ikan ketika nelayan sudah sampai di darat. Jadi, ibarat kata si nelayan nih udah dipinjemin duit buat modal tapi entar dia kudu ngejual hasil tangkapannya ke si pemberi modal dengan harga yang nggak bisa ditentukan oleh nelayan dengan leluasa. Nah kan, mulai tercium aroma-aroma kapitalis kan. Si nelayan ini juga galau. Dia kalo mau ngolah ikan buat ningkatin harga jual juga nggak bisa. Mau nyimpen ikannya biar bisa tahan lama nggak punya mesin pendinginnya, karena cold storage itu beda ya sama freezer biasa yang ada di kulkas. Akibatnya, ya jadilah penghasilan nelayan itu pas-pasan banget. Bahkan dalam strata sosial ekonomi perikanan, nelayan itu posisinya di bawah banget loh. Hmm, cukup memprihatinkan ya. Iya, tapi itu yang terjadi khususnya di negara kita Indonesia tercinta ini. 

2. Cold Storage

Cold storage secara bahasa artinya kamar dingin. Iya emang bener wujudnya itu adalah sebuah ruangan yang dinginnya bisa mencapai suhu minus hingga dua digit angka dalam derajat Celcius. Salah satu alasan berdirinya industri ini adalah adanya sifat perishable pada ikan produk-produk klaster agro macam sayuran, buah, daging ternak dan juga olahannya. Prinsip dari cold storage ini sebenarnya ialah menonaktifkan enzim-enzim dan bakteri pembusuk pada suatu suhu tertentu. Memperlambat pembusukan deh pokoknya. 

Cold Storage
sumber : http://drewdalyonline.com/
Pada saat musim panen, hasil tangkapan ikan lemuru di Selat Bali sangat melimpah. Oleh karena itu sebagian hasilnya disimpan di cold storage. Cold storage juga ada yang atas kapal loh, jadi semisal habis ditangkap di tengah laut ikannya langsung masuk cold storage biar pada saat mendarat belom rusak atau busuk. Selain sebagai media menyimpan ikan, industri cold storage juga menghasilkan freeze fish atau ikan beku loh. Jadi ikan-ikan lemuru yang dibekukan ini kemudian dijadikan pakan ikan misalnya dalam budidaya tuna atau kerapu. Beberapa negara yang sudah mengembangkan budidaya ikan laut inilah yang biasanya mengimpor freeze fish dari Muncar.

3. Pengalengan Ikan Lemuru

Ini dia nih master produk perikanan yang ada di Muncar. Ikan lemuru kaleng atau lebih dikenal dengan ikan sarden. Pabrik-pabrik pengalengan ini memasok bahan baku utamanya, ikan lemuru, dari Selat Bali. Ya dari nelayan-nelayan itu yang udah bertaruh nyawa melaut itu. Dibandingkan usaha perikanan yang lain, industri pengalengan ini boleh dibilang industri yang paling bonafit. Soalnya satu kilogram ikan lemuru yang udah melalui proses pengalengan ini harganya berkali-kali lipat daripada ikan lemuru mentah yang baru saja ditangkap dari laut. Perbandinganya bisa lebih dari 1:5! Nah loh, kelihatan kan bedanya kontras banget. Jadi, nggak heran kalau pengusaha pengalengan ikan ini bisa sejahtera banget sementara nelayan yang melaut tetap aja hidupnya sengsara. 

Pabrik pengalengan
sumber : http://www.djpdspkp.kkp.go.id/
Usaha pengalengan nggak selamanya lancar-lancar aja loh. Namanya aja usaha pengolahan, tentu aja bergantung banget dong ya sama bahan baku utama. Nah, dalam satu tahun itu ada musim-musim yang menjadikan nelayan nggak berangkat ke laut. Biasanya karena faktor cuaca sih, dan istilahnya musim paceklik gitu. Akibatnya si industri pengalengan ini kekurangan bahan baku. Meskipun sudah ada cold storage seringkali belum juga bisa memenuhi kebutuhan industri. So, kebijakan perusahan adalah dengan mengimpor ikan lemuru dari negara lain deh.

Well, tidak hanya berhenti di pengalengan aja sih, masih ada industri minyak ikan yang punya nilai ekspor tinggi, industri tepung ikan untuk pakan ikan, hingga industri terasi yang selalu mengalami peningkatan. 

Alternatif Solusi

Untuk mengatas kesenjangan kesejahteraan dalam rantai ekonomi perikanan ini sebenernya bisa sih diatasi dengan cara integrasi ketiga poin di atas. Yups, mulai dari penagkapan, pendinginan, hingga pengalengan dilakukan di atas satu kapal besar dalam satu waktu saja. Jadinya nggak mencar-mencar gitu. Harapannya sih kesenjangan diantara pelaku usaha tidak terlalu kontras. 

Akhirnya, semoga saja perikanan di Indonesia terus berkembang dan semakin maju supaya tercipta kesejahteraan masyarakat nelayan khususnya. 

Referensi:

Mayasari, Lina Dwi,. 2012. PENGARUH HASIL TANGKAPAN IKAN LEMURU TERHADAP PRODUKSI PENGALENGAN IKAN PT MAYA MUNCAR DI KECAMATAN MUNCAR BANYUWANGI. Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Surabaya Kampus Unesa Ketintang Surabaya.

Nontji, A. 1986. Laut Nusantara. Penerbit Djambatan. Jakarta

Setyaningrum, E. W., 2014. PENGEMBANGAN PERIKANAN TANGKAP (ALAT TANGKAP PURSE SEINE) BERBASIS IKAN LEMURU (Sardinella lemuru) DI PERAIRAN MUNCAR KABUPATEN BANYUWANGI (SELAT BALI). Jurnal llmiah PROGRESSIF, Vol.11 No.31 April 2014 (Hal. 16-26).

Purwaningsih, R. 2015. ANALISIS NILAI TAMBAH PRODUK PERIKANAN LEMURU PELABUHAN MUNCAR BANYUWANGI. Jurnal Ilmiah Teknik Industri, Vol. 14, No. 1, Juni 2015 (Hal. 13-23). 

BPPI Muncar. 2010. Laporan Tahunan 2009. Banyuwangi.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rahasia Lolos Beasiswa International Summer Course di Nagoya University

Mengikuti Tes Psikologi dan Wawancara Psikolog Toyota Astra Finance (TAF) Service