Perfect Therapy #1
Apa sih yang kamu rasakan ketika kamu mulai terjebak dalam kesibukan yang menjadi rutinitasmu sehari-hari sementara kamu harus kuat hati melihat sahabat-sabahat dan orang-orang terdekatmu bisa melenggang santai ke mall, jalan-jalan, pergi main, piknik, ketawa-ketiwi, happy-happy, hura-hura? Nyesek? Pasti. Dongkol? Iyalah. Sedih? Nggak usah ditanya. Belum lagi segala kewajiban itu adalah tanggung jawab yang harus kamu pikul. Kamu punya seabrek tugas yang harus kamu selesaikan. Kamu punya tanggung jawab yang nggak kecil. Kamu bahkan mendapatkan amanah yang harus kamu pertanggung jawabkan kepada pihak-pihak tertentu. Stress? Pastinya. Capek? Udah jelas lah.
Bahkan, kamu seakan nggak punya waktu untuk bersantai dan memanjakan dirimu sendiri. Parahnya lagi, badanmu mulai terforsir dan kamupun kecapekan lantas sakit. Akibat pikiran yang terus dituntut dan pola hidup yang tidak seimbang, pada suatu titik badanmu akan protes dan minta istirahat. Kehidupan macam apa itu?
Apa sih yang ada di pikiranmu ketika untuk menelan saja tenggorokanmu sakit. Untuk bicara saja suaramu timbul tenggelam. Bahkan untuk menarik napas saja tulang rusukmu pada nyeri. Belum lagi disusul batuk-batuk jika udara dingin menyerang. Bayangin deh.. Enak nggak kalo kayak gitu?
Dan bayangkan lagi, bahwa ada begitu banyak kata harus yang dilontarkan kepadamu. Ada begitu banyak hal yang harus kamu lakukan. Dan ada begitu banyak permintaan yang lebih tepat disebut sebagai perintah yang dilontarkan kepadamu. Dan demi tuntutan sebuah profesi kamu harus melakoni semua itu.
Apa yang ada dalam benakmu ketika kamu punya mimpi-mimpi besar dan kamu ingin mewujudkannya. Kamu pun dengan mantap melangkahkan kakimu untuk mewujudkan mimpi-mimpi itu. Tapi di tengah-tengah ternyata kamu kelelahan dan mulai kehabisan bahan bakar. Sudah gitu kamu mulai sekarat dan benar-benar lemeeeesss. Hampir mati deh.
Dan apa yang akan terjadi pula jika di tengah-tengah ‘dying’ itu kamu terjangkit sebuah virus yang luar biasa bisa mematikan atau membuatmu sehat seratus persen. Virus merah jambu atau boleh kita bilang cinta. Tapi, apa daya. Yang dicinta tak nampak batang hidungnya. Padahal rindu ini sudah menjalar dan berakar. Jadilah kamu benar-benar sekarat.
Ketika sebuah perjumpaan mampu membuat harimu indah, perpisahan ternyata mampu membuatmu mati perlahan.
Komentar