G o s i p

So long time ga ngeblog. Aku nggak mau ngebahas kenapa aku menghilang selama itu, atau apa aja yang udah aku lakuin selama itu. Aku mau ngomongin tentang circumstances. Setaun belakangan ini aku banyak menempatkan diri aku diantara orang-orang yang banyak ketawa. Aku banyak menghabiskan waktu aku buat percakapan yang nggak berat-berat dan dalem sih. Dan hal itu membuat aku jadi terbiasa. Iya, terbiasa untuk menerima hal-hal yang enteng-enteng aja. 

Lalu timbul suatu pertanyaan di kepalaku. Apakah kita yang memilih circumstances sesuai kapasitas kita ataukah circumstances itu merupakan gambaran dari kapasitas yang kita punya? Karena ada beberapa hal menarik yang aku temui. Misalkan saja, wanita cerdas cenderung untuk jadi pendiam diantara wanita hobi gosip karena menurut dia ngomongin orang itu nggak menarik dan nggak penting. Alhasil, dia lebih tertarik untuk membicarakan masalah karir, keilmuannya dia, atau isu-isu populer dan cenderung berat.

Begitu juga halnya dengan wanita yang agamis. Karena aku Islam aku ambil contoh wanita agamis yang Islami. Di dalam Islam, ngomongin orang itu dosa. Katanya bagaikan memakan bangkai saudaranya (manusia) sendiri. Ya, pokoknya itu termasuk hal yang cukup dihinakan lah ya. Lalu, ketika dia tau kalo ngegosipin orang itu ga baik, dia nih cenderung buat menarik diri dari para gosipers gitu. Nah, padahal dalam beberapa fenomena sosial yang aku temui, menggosip itu merupakan salah satu cara buat mengakrabkan diri dan melekatkan hubungan pertemanan gitu di dalam suatu lingkup sosial. Wkwk sotoy banget dah ya. 

Tapi, emang begitu faktanya cah. Contoh gampangnya aja nih di dunia kuliahan, kantoran, sekolahan, tetanggaan, ketika segerombol orang saling berbincang ujung-ujungnya pasti ngomongin orang. Dan kalau segerombol orang itu punya persepsi yang sama terhadap si doi, kohesivitas diantara mereka tuh bisa semakin kuat. Kohesivitas kelompok itu istilah untuk menyebut keeratan hubungan sosial diantara sekelompok masyarakat. Aku dapet dari kuliah dinamika kelompok, asek wkwk..

Nah, jadi kita bisa ga sih bilang kalo ngegosip itu merupakan salah satu sarana untuk mengakrabkan diri. Karena, emang udah jadi sifat alami ngga sih kalo kita ngga suka ngebuka keburukan kita di dalam suatu kelompok, tapi kita akan bersemangat gitu buat ngomongin kejelekan orang yang nggak ada di dalam kelompok kita. Nah, orang yang kita omongin jeleknya ini, kemudian kita benci bersama dan akan jadi musuh bersama kita. Secara naluriah ya kita akan bersatu dong merapatkan barisan untuk memberikan tekanan sosial kepada orang ini. Sumpah deh, kasihan sebenernya. Cuman ya gimana ya udah jadi habit juga sih. Dan ya inilah lingkungan kita sehari-hari. Dan parahnya sih udah kayak jadi norma pergaulan yang nggak tertulis gitu. Kalo kamu mau gaul, mau diterima sama suatu kelompok ya inilah realitanya. 

Makanya terkadang hal kayak gini tu jadi pressure bagi beberapa orang. Ya, contohnya aja dua tipe wanita yang aku sebutin di awal tulisan ini. Agak dilematis juga sih pastinya. Bagi wanita cerdas, dia menganggap ngomongin orang adalah omong kosong, tapi wanita di sekelilingnya kebanyakan ya ngomongin orang dan kalo dia nggak bertingkah seperti itu dia malah seperti terasing dan bisa-bisa dia yang jadi bahan omongan karena ga pernah nimbrung gosip. Pun begitu dengan wanita agamis yang Islami. Mungkin bisa terjadi perang batin di dalam dirinya karena dia berkeyakinan kalau ngomongin orang itu laksana memakan bangkai saudaranya, tapi kalo dia nggak ngikutin arus di sekitarnya ya dia akan bernasib seperti si wanita cerdas itu. Ya nggak? 

Nah jadi kembali ke pertanyaan awal, apakah kita yang memilih circumstances sesuai kapasitas kita ataukah circumstances itu merupakan gambaran dari kapasitas yang kita punya? Ya, itu lebih kayak pilihan sih. Dan pilihan kita dipengaruhi sama kapasitas kita juga. Jadi? Ya kapasitas kita yang menentukan sih, hehe.. Tapi itu cuma opini tanpa riset serius. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rahasia Lolos Beasiswa International Summer Course di Nagoya University

Mengikuti Tes Psikologi dan Wawancara Psikolog Toyota Astra Finance (TAF) Service

Kompleksnya Manajemen Sumber Daya Perairan di Selat Bali