Sok Sibuk
Aku tidak tahu rasa dinginnya 0 derajat Celcius itu seperti apa. Tadi malam handphone-ku menampilkan angka tersebut dan yang aku rasa hanya hawa hangat dari penghangat ruangan yang kusetel 25 derajat Celcius. Tapi kalau 6 derajat aku tahu rasa dinginnya seperti apa. Beberapa jam yang lalu aku berjalan dari stasiun, sudah berjaket dengan baju hangat di dalamnya tapi masih merasakan hawa dingin di wajahku. Aku pun berpikir, haruskah aku menutupkan kain hijab ke mukaku juga biar tidak diterpa angin. Kalau kamu bertanya bagaimana rasanya dingin, aku akan menjawab dengan jujur rasanya tidak enak. Kamu akan berada pada situasi dilematis dan serba salah. Sungguh, baju hangat yang berlapis-lapis benar membuatmu tampak seperti badut. Kamu jadi gendut dan bantet. Tapi kalau kamu mau tampil kece, kamu bisa membeku. Pun ketika kamu sudah pulang, menyalakan penghangat ruangan sepanjang waktu memang menyenangkan. Tetapi, ketika tagihan listrik itu tiba di lokermu, kamu tidak akan sesenang itu melihat angkanya.
Menjaga tubuhmu tetap sehat salah satu caranya adalah dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang. Dan mie instan tidak termasuk di antaranya. Apakah mie instan bergizi? Yang aku tahu gandum itu ada gizinya. Tapi percayalah, rasa kenyang yang timbul sehabis makan mie rebus itu semu. Mungkin kamu akan merasa lambungmu terisi penuh. Iya, terisi mie dan kuah, syukur-syukur pakai telur juga sayur. Tapi, beberapa jam kemudian rasa itu kian memudar, rasa kenyang maksudnya. Nggak awet kenyangnya. Tetep kamu butuh asupan nasi, sayur, lauk. Meskipun sayurmu cuman wortel sama paprika, atau sawi dan sawi lagi, atau sop-sopan, atau wortel lagi wortel lagi, dan laukmu telur lagi telur lagi atau nugget lagi nugget lagi. Itu lebih baik dan manusiawi.
Tapi jangan pernah mencibir apalagi menghakimi orang yang makan mie instan. Apapun tujuanmu, orang itu pasti punya alasan kenapa dia makan mie instan. Tahan-tahan buat nggak nyeletuk, "Dih, kok makannya mie instan sih, kan nggak sehat"
Tahan deh. Kamu nggak tau mungkin itu mie instan pertamanya selama berbulan-bulan nggak makan mie instan. Kamu juga nggak tau mungkin itu usaha penghematannya karena mungkin buat makan sehat butuh budget lebih dan ingat kamu nggak ngasih dia uang makan jadi nggak usah menghakimi. Tahan deh pokonya ya. Jangan langsung mencibir, jangan langsung ngatain, jangan langsung menghakimi. Nanti ndak tuman mrembet ke yang lain wkwk.
Aku sok sibuk tiga weekend ini. Sok penting sok punya urusan. Dan sok lemah, atau sok manja? Mana yang betul, lemah menjadikan manja atau manja menjadikan lemah? Lelah melemahkan kemudian menumbangkan, apakah itu manja? Ataukah karena manja, lelah jadi lemah kemudian tumbang? Ah, bukan keduanya. Itu manusiawi. Tapi, temanku sepertinya baik-baik saja. Ah tapi kan tidak bisa disamakan begitu. Kondisi kekebalan tubuh kita pasti berbeda. Titik lemah kita juga berbeda. Asupan harian kita juga berbeda. Kita berbeda, jadi tidak ada yang salah. Toh, sekarang sudah baik-baik lagi.
Anak-anak memang auranya asik ya. I mean the real kids. Lucu banget sumpah yang namanya Teru bisa begitu imutnya yaampun. Aku rindu gemuruh ombak. Pantai hasil reklamasi memang cantik, tapi nggak ada deru ombaknya seperti pantai selatan Jawa. Nggak ada pemandangan ombak bergulung-gulung, nyaris nggak ada angin, nggak ada uap asin yang membawa pasir, nggak lengket, nggak pliket, nggak kerasa pantainya. Cantik, rapi, bersih, sangat metropolis dan terlalu apik.
Setidaknya aku pernah muter-muter ga jelas seharian di festival pake kebaya plus kain batik instan di negeri Yukata dan Kimono. Bangga loh aku. Bangga juga sama orang-orang Indonesia yang di manapun berada selalu punya rasa kekeluargaan dan persaudaraan yang erat. Terus-terusin ya yang kaya begitu.
Ya, jadi mengeluh dan menggerutu emang bener-bener ngga bisa merubah apa-apa. Ada juga cuman memperkeruh suasana... hati. Bersyukur tuh klise banget. Nyuruh bersyukur dan bersabar tuh klise parah. Jangan pake mulut makanya, pake hati aja, rasain. Random ya, ga ada sub-sub judulnya. Ga jelas. Ngga masalah.
Komentar