Dia yang Nilainya Lebih dari Sekedar Piranti
Pasti gara-gara serial Are You Human aku jadi punya pikiran tentang ini. Menilai sesuatu, terutama benda, bukan dari harga bahkan fitur-fitur canggih yang bisa dia berikan melainkan dari seberapa bisa benda itu memberikan manfaat buat kita. Aku mau cerita tentang handphone ini. Yang sedang aku pakai buat ngetik postingan ini. Dia, ah fix gara-gara serial tentang robot AI itu aku jadi ikutan memanusiakan hapeku ishh.
Aku beli handphone ini dua tahun yang lalu. Setelah aku bertahan dengan hape Oppo-ku selama dua tahun lebih, dua tahun tiga bulan mungkin. Wait, aku juga udah pake hape ini selama dua tahun tiga bulan. Wah, bingo! Oke.. fokus fokus.
Aku beli handphone ini bulan Maret tahun 2017. Aku sendiri yang beli, dateng ke konternya, nyari-nyari infonya sendiri. Isshh, pokonya sendirian. Aku pergi ke Jogjatronik, tapi ga dapet apa-apa. Lalu aku pergi ke.. aku lupa nama tokonya, pokoknya di jalan ke bandara, kiri jalan.. ada KFC nya. Di situ, tanpa babibu... kubeli tunai. Bahkan kerdus seplastik-plastiknya juga masih ada, kemarin kulihat waktu beres-beres, entah kalau sekarang udah kubuang.
Mulai saat itu, rupanya ada banyaaaaaaaaaaaaaaaak banget cerita selama pakai hape ini. Ya, dia si ASUS Zenfone Go dengan layar 4,5 inchi. Mulanya aku agak kesel ketika aku cuman bisa dapet hape ini karena waktu itu aku pingin hape dengan layar yang lebih lebar lagi. Ya you know aku suka ngeblog. Membayangkan sepertinya bakalan seru kalo aku bisa ngeblog dengan hape yang layarnya cukup lebar. Tapi, aku nggak bisa. Jadi, yaudah waktu itu pol mentok aku cuman bisa beli hape ini. Tapi aku tetep bersyukur. Karena si hape Oppo-ku udah bener-bener gabisa ditolong lagi. Dia masih ada sekarang, di laci. Udah dua tahun tiga bulan juga dia jadi fosil.
Memulai pakai hape ASUS tanpa bahagia yang meluap-luap, karena dia second opinion, aku ga ada ekspektasi banyak-banyak. Pikiranku cuma yang penting aku punya android fungsional karena aku butuh itu.
Karena aku cukup bodoh, aku gabisa login google pake akun googleku yang lama. Terpaksa aku bikin akun baru, yang artinya semuaaanya juga baru. IG, Line, semuanya kecuali whatsapp. Jeleknya, aku kehilangan old footprintku. Tapi bagusnya, here's a new life begun. Nggak disangka, ternyata ada sejuta pengalaman seru yang aku alami selama aku megang hape ASUS ini.
Mari kita urai yang bisa aku ingat. Aku foto-foto sama temen-temenku di atap perpus. Aku punya geng main baru. Aku ke Bali lagi, meskipun itu bagian dari kuliah. Aku tinggal sendirian di Godean dan hape ini bener-bener jadi temenku yang bikin aku ga ngerasa kesepian. Ke Jepang lima bulan. Hapeku juga pernah mati di Jepang. Dia pernah aku pakein simcard Jepang. Aku pake nunjukin jalan. Aku andelin GPSnya. Aku pakek tethering. Aku pakek streaming. Pernah kukacaukan juga APN-nya. Menyimpan history chat sama temen-temen aku. Gosh..
Tau-tau udah setahun aja aku pake hape ini, ketika aku udah mulai struggle dengan skripsiku. Kali kedua aku pergi ke Jepang, dia yang berjasa merekam momen-momen yang pingin aku simpen. Semuanya! Dan aku juga bertemu dengan lebih banyak teman. Chattingan dengan lebih banyak orang. History chatnya makin berwarna. Aku melewati struggle nyekripsiku dengan memakai dia untuk jadi mediaku baca jurnal, karena aku suka baca sambil tiduran. Aku lulus, aku wisuda, aku berkawan dengan orang-orang baru lagi. Menimbun pengalaman lagi. Aku melewati semua hal itu dengan dia di dalam genggamanku. Aku memakainya untuk menuliskan keluh kesah. Aku menggenggamnya ketika aku sedang meluapkan kegembiraanku.
Aku suka dia karena dia ga rewel. Dia punya processor snapdragon, dia punya screen gorilla glass. Aku pernah menjatuhkan dia ke dalam akuarium. Waktu itu masih kupasangin screen guard. Aku keletek akhirnya. Hingga detik ini dia bertahan. Tanpa case, tanpa screen guard. Berkali-kali jatuh, karena aku ceroboh. Bahkan pernah jatuh sampe case belakang dan baterenya misah, wkwkw, tapi dia masih bandel aja. RAMnya cuman 2Gb, memory internalnya juga cuman 8Gb. Tapi meski berkali-kali aku hampir bikin dia penuh sampe aku suka gabisa instal aplikasi baru atau update aplikasi, dia masih berjalan, dengan cukup baik. Ya ekspektasiku emang jarang tinggi juga sih.
Dia hitam, jadi dia ga kelihatan dekil. Aku suka. Dia bukan hape 'mahal'. Bukan hape dengan fitur super canggih. Bukan hape yang punya kamera cantik. Bahkan mungkin dia bukan hape yang aku inginkan. Tapi dia memenuhi apa yang aku butuhkan. Sangat. Selagi dia masih bisa hidup.. aku nggak mau ngelepasin dia dan menukar dengan ponsel pintar lain yang lebih lebih daripada dia. Ketika aku punya uang lebih dan aku bisa beli ponsel lain yang mungkin lebih sesuai dengan kebutuhanku nantinya pun, aku bakalan tetep berniat untuk ngekeep dia.
Aku cuman sekali panik karena masalah sepele. Ya, dia buatan manusia. Cacatnya pasti ada. Tapi secara fungsional, aku belom pernah dikecewain atas bagaimana dia mengerjakan tugas-tugasnya. Hapeku, gomawo.
Komentar