Marah
Entah mimpi buruk macam apa yang sedang menghampiri, siang bolong seperti tadi waktu aku sedang lihat video bayi manusia di Youtube... tiba-tiba aku dengar suara orang yang kukira lagi orasi. Setelah berpikiran seperti itu, aku lanjut nonton lagi dong dengan santai. Eh tapi tunggu dulu, sepercik logika di otakku bersuara, gimana ceritanya di jalan kecil depan kosanku bisa ada arak-arakan demo sampe ada orang yang lagi orasi. Barulah aku tersadar, dan dengan sigap mengecilkan suara handphone. Berusaha menajamkan telinga barangkali ada satu-dua kata yang bisa aku curi dengar... positif! Itu suara orang marah-marah.
Kenapa di lorong depan kamar kosan aku bisa ada orang mengamuk seperti itu. Kok seram? Apa suara yang aku dengar? Nggak jelas duduk perkara yang bisa aku tangkap. Hanya anggota kebun binatang yang berulang kali terlontar. Mencekam. Ribut. Atom-atom di udara mungkin juga ikut terkejut. Seperti aku. Keributan macam apa yang baru terjadi? Apa perkara yang menyebabkan seorang manusia begitu dibanjiri amarah seperti itu.
Mungkin kejadian itu berlangsung hanya dalam waktu kurang dari satu jam. Tapi rekaman suara itu samar melintas di dalam kepalaku. Ingin aku hapus, tapi bagaimana caranya? Aku tidak tahu dan tidak mau tahu masalah orang. Tapi, bisa dong kalau punya masalah jangan dipercikkan ke lingkaran kedamaian hidup orang yang nggak ngerti apa-apa, macam aku. Intinya sih, ribut di ruang publik itu kalau bisa dihindari saja ya.
Untuk alasan apapun, aku bisa menerima kalau orang bisa marah. Macem-macem penyebab kemarahan itu. Pun demikian, tingkat kesabaran dan toleransi sesorang terhadap perkara yang bikin marah juga bertingkat. Ya, jadi paham lah pentingnya manajemen emosi, kontrol diri. Kalo kata agamaku, ketika marah coba redakan dengan atur nafas lalu istigfar (ucapan minta ampun sama Allah). Kalau lagi berdiri, coba duduk deh. Kalau lagi duduk lalu marah, coba tidur deh. Bahkan disarankan juga untuk wudhu, datengin air, cari yang seger-seger. Intinya, disuruh rilex dengan cara-cara tersebut. Santai bro. Kalem.
Tarik nafas, istigfar. Duduk dulu. Tidur juga boleh. Rileks. Wudhu, basuh tangan. Kumur-kumur, hirup air, cuci muka. Basahin tangan sampe siku. Basahin kepala, ubun-ubun. Basahin kuping. Basahin kaki. Nah, gimana? Seger kan? Hehehehe. Sekarang? Sholat. Gelar sajadah. Pake mukena atau pecinya. Takbir. Iftitah. Rukuk. I'tidal. Sujud, yang lama juga boleh. Duduk, baca doa... Sujud lagi, berdiri lagi. Santai, lipat tangan di depan dada. Ambil takbir lagi. Nunduk, lurusin punggung. I'tidal, baca doa. Sujud, biar aliran darah ke otak lancar. Ingat, di dalam darah ada haemoglobin yang bertugas membawa oksigen. Makin banyak oksigen yang mengalir ke otak, makin bagus dong metabolisme sel-sel di otak. Habis sujud, bangun deh duduk, beroda lagi. Perlahan, ucapkan doanya dengan tartil. Terus sujud lagi. Terakhir, duduk tasyahud akhirlah dengan santai. Tengok ke kanan, bilang Assalamualaikum wr.wb. Pun ke kiri. Alhamdulillah, dah dapat dua raka'at. Jadi, ke mana perginya marah yang barusan mau diledakkan?
Kalo habis sholat terus baca dzikir, bagus tuh! Istigfar yang banyak, seribu kali juga boleh. Baca Al-Quran. Udah ya? Ngobrol aja yuk, mediasi. Cari jalan tengah. Diskusi.
Kenapa di lorong depan kamar kosan aku bisa ada orang mengamuk seperti itu. Kok seram? Apa suara yang aku dengar? Nggak jelas duduk perkara yang bisa aku tangkap. Hanya anggota kebun binatang yang berulang kali terlontar. Mencekam. Ribut. Atom-atom di udara mungkin juga ikut terkejut. Seperti aku. Keributan macam apa yang baru terjadi? Apa perkara yang menyebabkan seorang manusia begitu dibanjiri amarah seperti itu.
Mungkin kejadian itu berlangsung hanya dalam waktu kurang dari satu jam. Tapi rekaman suara itu samar melintas di dalam kepalaku. Ingin aku hapus, tapi bagaimana caranya? Aku tidak tahu dan tidak mau tahu masalah orang. Tapi, bisa dong kalau punya masalah jangan dipercikkan ke lingkaran kedamaian hidup orang yang nggak ngerti apa-apa, macam aku. Intinya sih, ribut di ruang publik itu kalau bisa dihindari saja ya.
Untuk alasan apapun, aku bisa menerima kalau orang bisa marah. Macem-macem penyebab kemarahan itu. Pun demikian, tingkat kesabaran dan toleransi sesorang terhadap perkara yang bikin marah juga bertingkat. Ya, jadi paham lah pentingnya manajemen emosi, kontrol diri. Kalo kata agamaku, ketika marah coba redakan dengan atur nafas lalu istigfar (ucapan minta ampun sama Allah). Kalau lagi berdiri, coba duduk deh. Kalau lagi duduk lalu marah, coba tidur deh. Bahkan disarankan juga untuk wudhu, datengin air, cari yang seger-seger. Intinya, disuruh rilex dengan cara-cara tersebut. Santai bro. Kalem.
Tarik nafas, istigfar. Duduk dulu. Tidur juga boleh. Rileks. Wudhu, basuh tangan. Kumur-kumur, hirup air, cuci muka. Basahin tangan sampe siku. Basahin kepala, ubun-ubun. Basahin kuping. Basahin kaki. Nah, gimana? Seger kan? Hehehehe. Sekarang? Sholat. Gelar sajadah. Pake mukena atau pecinya. Takbir. Iftitah. Rukuk. I'tidal. Sujud, yang lama juga boleh. Duduk, baca doa... Sujud lagi, berdiri lagi. Santai, lipat tangan di depan dada. Ambil takbir lagi. Nunduk, lurusin punggung. I'tidal, baca doa. Sujud, biar aliran darah ke otak lancar. Ingat, di dalam darah ada haemoglobin yang bertugas membawa oksigen. Makin banyak oksigen yang mengalir ke otak, makin bagus dong metabolisme sel-sel di otak. Habis sujud, bangun deh duduk, beroda lagi. Perlahan, ucapkan doanya dengan tartil. Terus sujud lagi. Terakhir, duduk tasyahud akhirlah dengan santai. Tengok ke kanan, bilang Assalamualaikum wr.wb. Pun ke kiri. Alhamdulillah, dah dapat dua raka'at. Jadi, ke mana perginya marah yang barusan mau diledakkan?
Kalo habis sholat terus baca dzikir, bagus tuh! Istigfar yang banyak, seribu kali juga boleh. Baca Al-Quran. Udah ya? Ngobrol aja yuk, mediasi. Cari jalan tengah. Diskusi.
Komentar