Senior Cilik
Seperti biasa, saya memulai rutinitas dengan mandi. Setelah rapi, saya keluar kamar kos dengan tak lupa menguncinya. Saya langkahkan kaki dengan ringan ke pangkalan ojek.
“Pak, ke Pusat Studi Jerman ya.”
Ojek pun melaju mengantarkan saya ke tempat tujuan. Seperti biasa juga, di jam yang sama tempat ini sepi. Setelah membayar ongkos ojek saya memasuki pelataran bangunan tempat kursus. Tepat pukul sembilan pagi, kelas dimulai. Guru-guru menerangkan materi dan murid-murid diberi latihan. Pukul dua belas siang matahari terik bersinar di atas sana. Puasa ini sungguh berat jika saja tak ada iming-iming pahala dari-Nya Rasa haus merayapi kerongkongan saya yang tidak bisa bangun sahur untuk makan dan minum.
Sengaja saya duduk-duduk dulu untuk menunggu sang surya sedikit condong. Setengah jam berlalu. Peserta lain pulang satu per satu, saya pun mengangkat pantat dan mulai berjalan. Area perumahan dosen ini memang sangat kondusif dijadikan tempat tinggal. Namun sayangnya, jarang ada pohon rimbun meneduhkan jalanannya. Tentu yang tersiksa adalah pejalan kaki yang harus berpanas-panas di siang bolong.Langkah demi langkah kecil saya mengantarkan saya ke depan sebuah gedung lima lantai (kalau saya tak salah hitung). Itulah perpustakaan pusat. Saya pun masuk dan mengisi daftar hadir. Sesuai aturan, saya harus menitipkan ransel saya jika ingin membaca di ruang buku.
Niat awal ingin mencari buku yang relevan untuk bahan bacaan diskusi nanti sore. Namun, saya gagal menemukannya. Jadilah satu jam saya habiskan berselancar di internet melalui gawai tipis saya. Di sela- sela mencari bahan diskusi, saya tak sengaja menemukan postingan seorang teman di media sosial. Dia adalah blogger aktif yang kemampuan menulisnya sudah diakui secara nasional. Meskipun usianya lebih muda dari saya, namun saya yakin dia jauh lebih berpengalaman dari saya.
Saya mengklik tautan yang menghubungkan ke blog pribadinya. Saya dibuat tercengang oleh banyaknya tulisan yang telah ia unggah. Saya membuka salah satu postingannya dan saya baca sampai tuntas. Luar biasa! Bahasanya bagus sekali. Kalimat satu dengan kalimat lain terjalin dengan sangat rapi. Paragrafnya runtut dan pilihan katanya patut diacungi dua jempol. Ia memang jago. Tak heran jika pada ajang menulis cerpen yang sama dia mampu menyabet juara sedangkan saya baru bisa menjadi kontributor yang karyanya ikutan terbit.Saya salut dengan kepiawaiannya merangkai kata demi kata menjadi sebuah cerita yang elegan. Satu lagi yang membuat saya kagum adalah konsistensinya menulis di blog. Saya tahu dia mulai ngeblog beberapa tahun yang lalu. Saya juga sering mebaca cerpen dan tulisan blognya yang kebanyakan cinta-cintaan. Awalnya saya sempat malas membaca tulisannya ABG baper. Namun, sore ini saya dibuat kagum olehnya. Saya dipaksa belajar darinya.
Saya pun mulai menulis blog sejak SMP dan berlanjut hingga SMA. Namun, saya juga sempat beberapa kali berganti blog. Tahun ini saja saya punya dua blog tapi yang satu tidak aktif. Konsistensinya itu yang membuat saya kagum. Semangatnya itu tidak hangat-hangat tai ayam. Tapi dia bisa konsisten menulis setiap bulan, minggu, bahkan selang beberapa hari. Dan sekali lagi saya harus mengakui bahwa tulisannya TOP. Dia adalah senior saya dalam dunia tulis menulis. Meskipun di sekolah dia junior saya. Dan kemungkinan, ketika nanti dia masuk kuliah saya sudah jadi mahasiswa senior yang sebentar lagi lulus. Tapi, tetap saja kalau soal menulis jam terbang saya masih jauuh di bawah dia. Salut sama kamu dek!
“Pak, ke Pusat Studi Jerman ya.”
Ojek pun melaju mengantarkan saya ke tempat tujuan. Seperti biasa juga, di jam yang sama tempat ini sepi. Setelah membayar ongkos ojek saya memasuki pelataran bangunan tempat kursus. Tepat pukul sembilan pagi, kelas dimulai. Guru-guru menerangkan materi dan murid-murid diberi latihan. Pukul dua belas siang matahari terik bersinar di atas sana. Puasa ini sungguh berat jika saja tak ada iming-iming pahala dari-Nya Rasa haus merayapi kerongkongan saya yang tidak bisa bangun sahur untuk makan dan minum.
Sengaja saya duduk-duduk dulu untuk menunggu sang surya sedikit condong. Setengah jam berlalu. Peserta lain pulang satu per satu, saya pun mengangkat pantat dan mulai berjalan. Area perumahan dosen ini memang sangat kondusif dijadikan tempat tinggal. Namun sayangnya, jarang ada pohon rimbun meneduhkan jalanannya. Tentu yang tersiksa adalah pejalan kaki yang harus berpanas-panas di siang bolong.Langkah demi langkah kecil saya mengantarkan saya ke depan sebuah gedung lima lantai (kalau saya tak salah hitung). Itulah perpustakaan pusat. Saya pun masuk dan mengisi daftar hadir. Sesuai aturan, saya harus menitipkan ransel saya jika ingin membaca di ruang buku.
Niat awal ingin mencari buku yang relevan untuk bahan bacaan diskusi nanti sore. Namun, saya gagal menemukannya. Jadilah satu jam saya habiskan berselancar di internet melalui gawai tipis saya. Di sela- sela mencari bahan diskusi, saya tak sengaja menemukan postingan seorang teman di media sosial. Dia adalah blogger aktif yang kemampuan menulisnya sudah diakui secara nasional. Meskipun usianya lebih muda dari saya, namun saya yakin dia jauh lebih berpengalaman dari saya.
Saya mengklik tautan yang menghubungkan ke blog pribadinya. Saya dibuat tercengang oleh banyaknya tulisan yang telah ia unggah. Saya membuka salah satu postingannya dan saya baca sampai tuntas. Luar biasa! Bahasanya bagus sekali. Kalimat satu dengan kalimat lain terjalin dengan sangat rapi. Paragrafnya runtut dan pilihan katanya patut diacungi dua jempol. Ia memang jago. Tak heran jika pada ajang menulis cerpen yang sama dia mampu menyabet juara sedangkan saya baru bisa menjadi kontributor yang karyanya ikutan terbit.Saya salut dengan kepiawaiannya merangkai kata demi kata menjadi sebuah cerita yang elegan. Satu lagi yang membuat saya kagum adalah konsistensinya menulis di blog. Saya tahu dia mulai ngeblog beberapa tahun yang lalu. Saya juga sering mebaca cerpen dan tulisan blognya yang kebanyakan cinta-cintaan. Awalnya saya sempat malas membaca tulisannya ABG baper. Namun, sore ini saya dibuat kagum olehnya. Saya dipaksa belajar darinya.
Saya pun mulai menulis blog sejak SMP dan berlanjut hingga SMA. Namun, saya juga sempat beberapa kali berganti blog. Tahun ini saja saya punya dua blog tapi yang satu tidak aktif. Konsistensinya itu yang membuat saya kagum. Semangatnya itu tidak hangat-hangat tai ayam. Tapi dia bisa konsisten menulis setiap bulan, minggu, bahkan selang beberapa hari. Dan sekali lagi saya harus mengakui bahwa tulisannya TOP. Dia adalah senior saya dalam dunia tulis menulis. Meskipun di sekolah dia junior saya. Dan kemungkinan, ketika nanti dia masuk kuliah saya sudah jadi mahasiswa senior yang sebentar lagi lulus. Tapi, tetap saja kalau soal menulis jam terbang saya masih jauuh di bawah dia. Salut sama kamu dek!
Komentar