Baca Buku (?)

Di era digital ini membaca buku menjadi sebuah kejadian langka, termasuk bagi saya sendiri. Contoh riilnya terjadi pada diri saya sendiri. Beberapa tahun silam, ketika teknologi informasi belum sebooming sekarang, saya masih rajin membaca paling tidak satu buah buku setiap bulannya. Buku apa saja, tidak harus buku penunjang pelajaran. Namun, semenjak memasuki era gadget dan internet semakin mudah diakses saya mulai meninggalkan kebiasaan membaca buku.

Sekarang buku dianggap sebagai sesuatu yang berat, kuno, dan tidak menarik. Begitu pulang dengan membaca buku. Membaca sebuah buku menjadi kegiatan yang sanga berat untuk dijalani. Bila dibandingkan dengan membaca bacaan di internet melalui gadget, membaca buku tentu kalah menarik bahkan terkesan membosankan. Bila membaca di internet kita tinggal membuka browser, mengetik url, lalu memilih bacaan apa yang mau dibaca. Bila bosan, tinggal close dan cari yang lain. Mau ganti halaman? Tinggal klik next atau scroll ke bawah. Ingin mencari rujukan, tinggal klik link yang ada. See? Prakis bukan?

Begitu pula dengan kegiatan perkuliahan yang kini saya jalani. Saat masih duduk di bangku sekolah, terbayang dalam benak saya bahwa kuliah itu harus berhadapan dengan tumpukan buku tebal setiap hari. Bahkan, mahalnya harga buku menjadi pertimbangan tersendiri ketika mau masuk kuliah. Beberapa orang tua bahkan sempat khawatir tidak sanggup membeli buku penunjang akibat rumor yang beredar bahwa buku kuliah itu lebih mahal dari buku sekolah.

Akan tetapi, setelah hampir setahun saya menyandang status baru sebagai mahasiswa anggapan ini tidak sepenuhnya benar. Bahkan bisa dibilang cukup melenceng. Kenyataan yang saya dapati setelah kuliah cukup mencengangkan. Saya hanya membeli dua buah buku sebagai penunjang kuliah. Itupun salah satu bukunya merupakan hasil iuran dengan teman. Buku lainnya saya dapat dari meminjam kakak tingkat dan dari perpustakaan. Adapun materi kuliah lain saya peroleh dari website dosen, ngopy langsung dari dosen, minta dikirimi dosen via email, dan mencarinya di internet. Internet menjadi garda terdepan saya dalam mencari materi kuliah. Entah sudah berapa gigabyte saya habiskan untuk mendownload e-book, e-journal, artikel ilmiah, video, serta berbagai file pendukung yang bebas diunduh di dunia maya.

Bayangan saya mengenai setumpuk buku yang akan bersarang di rak selama kuliah seakan buyar. Berganti dengan memory yang akan dihabiskan sampai saya menyelesaikan studi ini. Secara pribadi, saya tidak dapat menyimpulkan apakah hal ini merupajan kabar gembira atau bukan. Di satu sisi hal ini tentu akan menghemat pengeluaran dan juga mengurangi jumlah pohon yang harus ditebang untuk dijadikan kertas buku. Namun, di sini lain rasanya kok ada yang ganjil jika mahasiswa tidak akrab dengan buku.

Ada beberapa dosen yang mewajibkan mahasiswa untuk memiliki buku penunjang perkuliahan. Namun, tidak sedikit pula yang membebaskan kami untuk mencari materi kuliah selama masih relevan. Akibatnya, mahasiswa semakin asing dengan buku. Apalagi buku yang tebalnya lebih dari lima centi. Sehingga, apabila disuruh mereview buku kami sering kelabakan. Kami merasa kagok ketika harus menenteng-nenteng buku, membolak-balik halaman buku secara manual, dan membaca kata per kata yang tercetak di atas kertas. Berbeda jauh dengan kegiatan membaca artikel onine yang tinggal klik dan scroll saja.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rahasia Lolos Beasiswa International Summer Course di Nagoya University

Mengikuti Tes Psikologi dan Wawancara Psikolog Toyota Astra Finance (TAF) Service

Kompleksnya Manajemen Sumber Daya Perairan di Selat Bali