Elemen Bahasa, Elemen Berkomunikasi

Membaca adalah sebuah hobi yang saya patenkan menjadi hobi saya. Memang, sedari kecil saya gemar membaca apa saja. Bahkan karena keterbatasan bahan bacaan, ketika selesai makan nasi bungkus kertas koran pembungkusnya saya bentangkan lalu saya baca. Sedikit cerita, waktu kelas satu SD saya biasa sarapan nasi uduk. Layaknya nasi bungkus, nasi uduk ini dibungkus oleh dua lapis kertas. Pertama tentu saja kertas nasi yang berwarna cokelat, dan lapisan luarnya merupakan kertas bekas koran atau majalah. Nah, tukang nasi uduk langganan saya ini membungkus nasi uduk menggunakan kertas majalah bobo yang edisinya sudah lewat. Setiap selesai makan nasi uduk, saya bentangkan halaman bobo ini. Ibu saya pun kasihan. Akhirnya, ia meminta tumpukan majalah bobo bekas itu dari tukang nasi uduk. Daripada dipakai bungkus nasi mending jadi bahan bacaan saya toh?

Kebiasaan ini berlanjut hingga periode sekolah. Sejujurnya, saya kekurangan bahan bacaan, dulu. Setiap awal tahun ajaran, sekolah membagikan buku pelajaran yang akan dipakai selama satu semester atau satu tahun ke depan. Karena nggak ada kerjaan akhirnya saya baca itu semua buku sampai tunas. Ngerti nggak ngerti bodo amat yang penting baca, kelar. Beranjak kelas empat SD, saya pun mulai kreatif. Sengaja, tidak jajan di sekolah. Uang saku ditabung, buat beli kumpulan cerpen. Itu terus berlangsung hingga saya memiliki beberapa seri yang sayangnya kini menghilang satu persatu. Sedih rasanya. Padahal dulu harus rela menahan hasrat ingin jajan demi beli kumpulan cerpen Bobo yang hanya terbit sebulan seklai. Bahkan, kadang harus menunggu dua bulan karena kota saya kota kecil jadi kedatangannya terlambat.

Beranjak remaja, kegemaran itu mulai berkembang. Dari yang tadinya pasif hanya membaca tulisan orang, saya mulai berinisiatif untuk membuat bahan bacaan yang bisa saya baca sendiri. Syukur-syukur orang lain mau ikutan baca. Saya pun mulai iseng menulis cerpen di potongan-potongan kertas HVS, di sela-sela buku pelajaran, dan di setiap kesempatan. Beberapa teman saya mulai kepo dan menjadi pembaca tulisan saya. Responnya cukup baik, saya pun didaulat sebagai orang yang bisa nulis. Pengakuan ini rupanya mengantarkan saya pada kompetensi bergengsi level provinsi. Meski belum bisa membawa kemenangan, tetapi saya senang karena tulisan saya mulai dipublikasikan. Artinya semakin banyak orang yang bisa menbaca tulisan saya.

Membaca dan menulis merupakan elemen bahasa. Rupanya saya tidak berhenti pada dua elemen ini saja. Masa SMA merupakan periode yang membuat saya jatuh cinta dengan berbicara. Beberapa kesempatan yang bertebaran menyadarkan saya akan asyiknya berbicara dan berkomunikasi. Saya pun mulai jatuh hati dengan presentasi, negosiasi, diskusi, hingga berdebat. Beruntungnya saya, pucuk dicinta ulam pun tiba. Semesta benar-benar bergerak mendekatkan saya dengan sarana-sarana untuk menyalurkan aspirasi saya. Meskipun hanya sampai level sekolah, kompetisi debat menjadi arena bergengsi saya untuk aktualisasi diri. 

Ada satu lagi elemen yang belum disebutkan. Mendengarkan. Saya belum menemukan ajang pembuktian bahwa saya mampu menghandle elemen ini. Mungkin masa kuliah ini menjadi tempat melatih kemampuan saya untuk mendengar. Well, lihat saja nanti. Nikmati saja prosesnya. Yang jelas, saya memang memiliki ketertarikan dalam bidang bahasa. Namun, bukan kepada sisi linguistiknya melainkan fungsi bahasa sebagai sarana komunikasi. Ya, saya senang mengomunikasikan isi kepala saya. Saya senang bertemu dengan orang baru. Saya senang berkenalan dan mengobrol. Saya senang menggali cerita dan mengamati orang lain. Setiap orang itu unik. Mereka memiliki kisah menarik yang bisa digali dan dijadikan pelajaran. Mungkin ini saatnya bagi saya untuk mendengarkan sebanyak-banyaknya cerita-cerita baru dari setiap orang yang saya temui. Mungkin memang ini waktunya mendengarkan. Namun, saya juga harus tetap membaca, menulis, dan berbicara agar tidak pasif.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rahasia Lolos Beasiswa International Summer Course di Nagoya University

Mengikuti Tes Psikologi dan Wawancara Psikolog Toyota Astra Finance (TAF) Service

Kompleksnya Manajemen Sumber Daya Perairan di Selat Bali