Buka Mata dan Pikiranmu, Masbro!

Manusia memang makhluk Tuhan yang unik. Rasanya bahasan tentang manusia memang tidak ada habisnya. Manusia punya sifat dan karakter yang berbeda-beda. Menariknya lagi, setiap manusia memiliki ceritanya masing-masing. Semua cerita itu unik dapat mengalir apik bila kita mau meluangkan waktu untuk duduk mendengarkan mereka bercerita. Kita akan mendapai kisah-kisah epic dari orang yang tak terduga. Inilah manusia dan dunianya, kisahnya, karakternya, wataknya, dan mimpinya.

Layaknya cerita, tentu tidak akan seru jika tokohnya semua baik, alurnya lempeng-lempeng saja, serta konfliknya garing. Begitu pula kehidupan sesungguhnya. Manusia mampu memberikan warna pada dunia. Seperti yang saya bilang di awal, cerita tidak akan seru jika semua tokohnya baik. Begitu pula manusia, tidak semua manusia baik. 

Sejatinya baik atau buruk itu tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya. Sebagai umat muslim misalnya, kami telah diberi buku panduan hidup bernama Al Quran serta tokoh teladan bernama Nabi Muhammad SAW. Semua yang ada dalam Al Quran dan Nabi Muhammad SAW merupakan bukti konkret manusia yang benar. Jadi, ‘baik’ dalam sudut pandang agama Islam ialah bila telah benar mengikuti tuntunan yang ada. Itu dari satu sudut pandang.

Sekarang mari kita lihat dari sudut pandang yang lain. Misalnya dalam dunia prostitusi. Dalam dunia ini, seseorang dianggap baik apabila ia bisa mengerjakan tugasnya dengan baik dan mampu memuaskan pelanggan. Karena rulenya memang begitu. Hal itu telah dianggap benar dan dijadikan panduan. Maka ‘baik’nya ya seperti itu. Lain lagi dalam dunia perampok. Seseorang dianggap telah baik apabila telah bisa menjadi perampok yang baik dan professional. Nah, jadi baik atau buruknya suatu tindakan manusia sangat relative tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya.

Jika empat paragraf di atas membahas manusia yang baik secara universal, sekarang mari kita persempit ruang bahasan kita. Mari kita membahas manusia dalam lingkup yang lebih spesifik, yakni manusia berdasarkan pekerjaannya. Lebih spesifik lagi kita akan membahas mahasiswa. Lah kok mbak Eky bahasannya mahasiswa terus sih? Ya, habis bagaimana? Lha wong saya sekarang statusnya mahasiswa ya saya bahas mahasiswa. Nanti kalau saya bahasnya pejabat dikira pencitraan. *halah*

Sebagai mahasiswa tentu saja saya menghabiskan sebagian besar waktu saya bersama mahasiswa lainnya. Jadi, begini ceritanya.. alkisah, di suatu perguruan tinggi hiduplah seorang mahasiswa rantau dari salah satu daerah di Indonesia. Namanya *sebut saja masbro*. Masbro adalah mahasiswa berotak encer dan memiliki pemikiran yang kritis. Boleh dibilang masbro ini orangnya cerdas. Selain itu masbro juga orang yang sangat percaya diri. Ketika ada kesempatan untuk berbicara di depan umum, masbro akan berbicara dengan tenang dan jelas tanpa ada keraguan. Penampilan masbro juga cukup oke dan berwibawa. 

Akan tetapi, masbro juga manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan. Masbro mengikuti organisasi HMJ (baca: Himpunan Mahasiswa Jurusan). Masbro sangat cinta dan bangga dengan organisasinya ini. Masbro sangat menjaga kekompakan dengan teman-temannya di organisasi itu, yang otomatis menjadi teman masbro karena isinya temannya satu jurusan. Sayangnya, tidak semua teman yang sejurusan dengan masbro mengikuti organisasi yang diikuti masbro (baca: HMJ). Yang salah dari sikap masbro kacamata seorang Eky  adalah: masbro menganggap organisasinya paling baik diantara organisasi lainnya di kampus. Selain itu masbro menganggap mahasiswa lain yang tidak masuk HMJ sebagai mahasiswa kupu-kupu (kuliah-pulang-kuliah-pulang). Hal ini hanya karena masbro tidak pernah melihat mereka aktif di dalam HMJnya masbro. Yaiyalah masbro, orang ikut aja enggak mana bisa aktif.

Padahal di kampusnya masbro ada berjibun organisasi dan teman-teman masbro yang tidak masuk HMJ juga bukan berarti kupu-kupu. Ada sebagian dari mereka yang ikut organisasi fakultas, universitas, daerah, bahkan nasional. Di samping itu ada juga yang aktif di UKM (baca: Unit Kegiatan Mahasiswa). Masbro hanya kurang meluaskan pandangannya saja. Bukan berarti mahasiswa yang tidak ikut HMJ seperti masbro mutlak menjadi kupu-kupu. Masbro perlu tahu bahwa organisasi bukan hanya HMJ. Dan bukan berarti HMJ masbro adalah organisasi terbaik. 

Pada suatu hari, masbro mengikuti organisasi lain di luar HMJ. Sebagai pendaftar yang penuh komitmen, masbro pun mengikuti semua rangkaian acaranya hingga masbro resmi diterima di organisasi BARU. Sebelumnya sudah ada teman-teman di jurusan masbro yang ikut organisasi BARU ini. Setelah resmi diterima pun masbro masih tetap eksis di HMJnya. Suatu sore organisasi BARU mengadakan rapat. Masbro mendapat sms tentang kabar itu. Sembari menatap layar handphone, masbro mengeryitkan dahinya. Masbro cukup kaget karena rapat diadakan di pinggir jalan. Hal ini berbeda dengan HMJnya yang biasa menyewa gedung atau paling tidak ruangan untuk mengadakan rapat.

Masbro pun sempat protes dan tidak menyangka jika rapat diadakan di pinggir jalan. Organisasi BARU rapat di pinggir jalan? Padahal HMJ saja mau rapat pilih-pilih tempat. Ohh, jadi gini toh organisasi BARU itu. Teman-teman masbro yang sudah lebih dahulu menjadi anggota organisasi BARU hanya geleng-geleng kepala atas sikap masbro.

Pembaca yang budiman, terutama teman-teman mahasiswa yang baik hatinya, dapatkan anda memetik pesan dari cerita di atas? Pesan yang ingin saya tekankan adalah:

1.Jangan menjadi katak dalam tempurung

Masbro adalah mahasiswa yang cerdas. Namun, dia membatasi dirinya hanya berkecimpung di dalam HMJ sehingga dia ‘mungkin’ lupa jika di luar masih ada dunia organisasi yang boleh jadi lebih bagus dari HMJnya.

2.Jangan sombong

Masbro menganggap teman-temannya yang tidak ikut HMJ yang sama dengannya sebagai mahasiswa kupu-kupu. Secara tidak langsung ia merasa dirinya lebih baik dari mereka karena dia adalah mahasiswa yang aktif dan penuh percaya diri. Perlu diketahui, orang yang kita rendahkan bisa jadi lebih hebat dari kita. Dunia sudah sering jadi saksi atas bangkitnya manusia-manusia yang bangkit setelah bertahun-tahun jadi korban bullying. 

3.Organisasi adalah sarana untuk belajar dan mengabdi, bukan untuk dibandingkan

Layaknya manusia yang memiliki perbedaan karakter, tentu juga berlaku bagi organisasi. Organisasi tersusun atas sekumpulan manusia. Baca: MANUSIA. Jadi, wajar bila memiliki karakter seperti layaknya manusia. Beda manusa beda karakter, beda organisasi beda pula karakter dan budayanya. Masih ingat kan peribahasa “Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya.” So, jadikan organisasi sebagai tempat belajar dan latihan mengabdi, bukan untuk dibanding-bandingkan dengan organisasi lain atau yang lebih buruk dicari kejelekannya. Naudzubillah yah kalau kata pak ustadz.

Well, semoga ini menjadi pengingat juga untuk Eky sendiri. Saya juga manusia yang tidak sempurna. Saya bisa berbuat salah, baik itu salah ucap, salah kata, salah laku, salah ketik, salah tulis. Jadi, mohon maaf yaa apabila ada pihak yang merasa tersindir atau nyinyir dengan tulisan ini. Sebagai penulis, saya hanya berharap semoga tulisan ini bermanfaat. Sekian. ^^

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rahasia Lolos Beasiswa International Summer Course di Nagoya University

Mengikuti Tes Psikologi dan Wawancara Psikolog Toyota Astra Finance (TAF) Service

Kompleksnya Manajemen Sumber Daya Perairan di Selat Bali