Sabar Hari Ini Jadi Investasi Masa Depan
“Pelanggan yang cerewet benar-benar menyebalkan, membuatku jengkel dan gondok saja.”
Pergantian kabinet memberikan banyak perubahan di dalam kepengurusan organisasi tempatku mengabdi. Pada periode sebelumnya aku masih bisa dibilang mahasiswa kurang kerjaan, karena periode itu merupakan ujung periode sebelumnya. Sehingga tugas anak yang baru bergabung hanya meneruskan proker yang belum selesai.
Organisasi ini bernama dewan mahasiswa (DEMA), sebutan lain untuk lembaga eksekutif mahasiswa. Mungkin nama BEM atau LEM lebih akrab di telinga. DEMA hanyalah sebutan lain. Aku tergabung dalam biro kewirausahaan yang bernaung di bawah kedirjenan Kesejahteraan Mahasiswa (Kesma).
Ketika satu periode telah habis, maka dibentuklah kepengurusan untuk periode berikutnya. Nah, di sinilah petualangan baru dimulai. Secara keseluruhan, Dema memiliki beberapa proyek besar yang dijalankan oleh kedirjenan di dalamnya. Biro tempatku bergabung pun demikian. Di bawah pimpinan kepala biro yang baru, kami juga memiliki beberapa proyek kerja yang harus dilaksanakan selama satu tahun masa kerja.
Proyek-proyek itu antara lain: kantin kejujuran, Agriculture Culinary Festival (ACF), jaket DEMA, Local Food Culinary (LFC). Kebetulan aku diberi tugas menjadi penanggung jawab pembuatan jaket DEMA. Sebenarnya aku tidak sendiri. Dalam proyek ini aku memiliki partner kerja.
Aku pun memulai proyek ini dengan menetukan desain bersama teman-teman kewirus lainnya. Kemudian aku mencari konveksi yang bisa membuatkan. Tentu saja aku tidak asal comot konveksi, melainkan aku sudah survey dari beberapa konveksi. Mulai dari kesanggupan mereka, harga yang mereka tawarkan, serta bahan jenis apa yang akan menjadi jaket kami nanti. Aku pun melakukan banyak negosiasi untuk mencapai kesepakatan. Bahkan, aku pun juga blusukan mencari teman-teman yang barangkali memiliki konveksi, termasuk kakak tingkat. Tak peduli dari jurusan yang sama denganku atau dari fakultas yang berlainan. Hingga akhirnya aku menemukan konveksi yang bisa diajak kerja sama.
Setelah itu, aku membuat poster dengan partnerku. Sebenarnya 70% pembuatan poster dilakukan oleh partnerku. Aku hanya menyediakan desain jaket dan memberi masukan. Oh iya, jadinya kita bukan membuat jaket melaikan parka. Jujur saja ketika salah satu temanku mencetuskan ide ini aku belum punya gambaran sama sekali. Aku tidak tahu parka itu apaan, bentuknya bagaimana, melihat saja belum pernah. Tapi untunglah kami saling membantu.
Setelah poster siap, kami pun menyebarkannya di grup DEMA. Mereka pun mulai memesan dan membayar DP. Setelah uangnya terkumpul, aku pun menyerahkannya ke konveksi dan proses pembuatan dimulai. Selagi menunggu selesainya pembuatan parka, kami mengerjakan proyek yang lain dan kami cukup disibukkan. Terlebih minggu berikutnya kami UAS.
Masalah mulai timbul ketika teman-teman mulai menagih mana parkanya. Entah mengapa mereka ingin sekali mudik pakai parka baru (oh men -_-). Jadilah aku jembatan antara teman-temanku dengan pihak konveksi. Pihak konveksi bilang begini, teman-temanku bilang begitu. Ulala~ jadi pusing pala belbi.
Oke, akhirnya aku mengupayakan agar pihak konveksi bisa menjadikan parka-parka ‘urgent’ yang mau dipakai mudik itu. Akupun bilang pada teman-teman, “Kalo mau pake parka buat mudik, buruan lunasin.” Mereka pun menurut.
Tapi, benar saja yang dijadikan ya hanya parka ‘urgent’ itu. Seminggu berikutnya parka-parka lainnya menyusul. Tapi ternyata, setelah aku mengeceknya lagi satu per satu itu belum semua. Masih kurang tujuh biji, omegot pusing lagi pala belbi. Termasuk parka punyaku belum ada. Dan tidak berhenti sampai di situ, beberapa teman ada protes mengenai parka yang sudah jadi. Ada yang kekecilan, kependekan, belum dipasang tali, kancingnya nggak bisa klik, ulala~
Satu hal yang cukup menyedihkan adalah anak kewirus udah pada pulang kampung. Bahkan tak lama setelah UAS berakhir mereka yang dari luar pulau sudah bertolak ke kampungnya masing-masing. Ada tiga orang yang asli jogja sih, tapi rumahnya jauh dari kampus juga. Sebenarnya kalau hanya menghandle parka mah kecil, yang pusing tu dengerin complain yang minta ini itu. Berhubung PJnya aku, ya aku yang jadi tempat aduan. Jadi pusing kan pala belbi ~,~
Kadang tu yaa ketika kita sudah berusaha melakukan upaya terbaik tapi masih juga dicomplain geregetan gitu pingin bilang, “Situ pikir kita pingin ada produk yang cacat, situ pikir kita pingin bikin situ rugi, situ pikir kita cuman mau nyari untung aje, yakali bu sabar dikit napeh yaelah.”
Tapi tiap kali aku geregetan gemes pingin nyemprot orang aku inget kata-kata dosen kewirausahaanku. Beliau bilang, “Bedanya pengusaha sama wirausaha itu di servicenya pada pelanggan. Misal pengusaha nasi padang sudah kehabisan dagangan lalu ada pelanggan mau beli, yasudah dibilang saja apa adanya kalu dagangan sudah habis dan pelanggan dibiarkan pergi begitu saja. Tapi kalau itu wirausaha, biarpun dagangan sudah habis, pasti diusahakan atau diberi opsi lain supaaya pelanggan tidak langsung pergi. Siapa tahu orang itu akan jadi langganan tetap kita di masa depan.
Makanya sekarang setiap kali kesel sama orang, bête, pingin nyemprot orang itu dan ngebacot seenak udel jadi mikir-mikir. Kali aja orang ini di masa depan jadi orang yang berpengaruh besar buat usaha ane. Jadi gitu gan. Disabar-sabarin aja aku mah, dicari jalan keluarnya biar semua puas dan seneng. Karena kata-kata, “Waaah, makasih ya Eky parkanya bagus deh” itu tuh laksana oase di tengah gurun. Beneran deh kalo ada temen yang seneng tuh, puas banget. Biarpun ekspresi mukaku flat dan cool cool aja tapi dalemnya berbunga-bunga, percaya deh.
Percaya, everyting’s gonna be okay.
Komentar