Little Things
Selepas menunaikan sholat dhuhur
saya meluruskan kaki dan duduk bersandar di salah satu tiang masjid kampus.
Saya pun membuka tas saya dan meraih salah satu buku yang ingin saya
selesaikan. Baru mendapat beberapa bab saja tiba-tiba telinga saya pening
karena mendengar bunyi yang saya yakin bukan bunyi yang biasa terdengar di
masjid. Beberapa menit saya mencoba mengacuhkannya. Namun lama-lama bunyi itu
tak kunjung berhenti dan semakin menjadi. Beberapa menit berikutnya telinga
saya mulai nyeri. Saya menutup lubang telinga kanan dengan jari. Hingga akhirnya
saya benar-benar tidak tahan dengan bunyi itu, saya bangkit mengemasi
barang-barang saya dan beranjak pergi. Sebelum menuruni tangga, saya melongok
ke bawah dan saya melihat seorang bapak sedang membersihkan lantai masjid
menggunakan sebuah alat. Rupanya itulah sumber kebisingan yang membuat saya
jengah beberapa menit yang lalu.
Saya sempat kesal. Namun melihat
bapak itu menggeser-geserkan alat itu sembari menuangi lantai dengan air sabun,
kekesalan saya hilang. Beberapa saat saya terdiam memandangi bapak berkaus
hijau bertuliskan “Khodim” itu bekerja. Niat awal saya untuk berdiam diri
membaca buku di masjid langsung buyar mendengar suara berisik mesin itu. Saya berhenti
memandangi mesin pembersih itu dan berjalan menuruni tangga. Sebelum mencapai
pintu, saya mendapati seseorang berdiri tak jauh dari mesin pembersih memperhatikan
si khodim menggunakan alat aneh itu. Rupanya bukan hanya saya yang norak,
hehe..
Tak jauh dari beranda
masjid, mata saya kembali menangkap bapak lain dengan kaus hijau bertuliskan
sama sedang membersihkan pagar masjid dari lumut. Ah, masjid ini benar-benar
dijaga dengan serius rupanya. Seakan mendapat ilham, terlintas dalam pikiran
saya untuk mendatangi suatu tempat berisi pekerja-pekerja entah pedagang,
nelayan, petani, tukang sapu, yang sedang bekerja. Saya ingin duduk diam dan
memandangi mereka. Saya ingin membiarkan mata saya menangkap apa yang bisa
dipelajari dari apa yang berhasil dilihatnya. Mungkin dosen pembimbing saya
benar, terkadang mata dapat membaca lebih banyak dari melakukan pengamatan
terhadap lingkungan. Tentu saja ada lebih banyak pelajaran yang bisa dipetik
daripada sekedar membolak-balik halaman buku.
Saya suka terenyuh
melihat wajah-wajah orang yang lelah bekerja. Tadi malam, Mayang tidur di kamar
saya. Hingga pukul dua belas malam dia masih berkutat dengan laptopnya sampai
tertidur. Dan dalam tidur itu saya melihat betapa capeknya dia setelah
beraktivitas seharian penuh. Ada lagi tukang las di samping rumah. Memang seringkali
saya dibuat kesal dengan bunyi-bunyi gaduh yang ditimbulkan. Tapi, jika saja
saya keluar pagar dan melihat bagaimana mereka bekerja, membayangkan mereka
punya keluarga di rumah, punya anak-anak yang masih sekolah, kesal saya hilang.
Pagi ini pula, saat sedang menyapu teras seorang ibu lewat membawa gendongan
kain yang kosong. Ibu itu adalah pengumpul barang bekas macam botol, kertas,
kaleng, dsb. Sayang sekali saya tidak pernah memilah sampah. Membayangkan ibu
itu berjalan kaki jauh-jauh demi mengumpulkan rongsok dari rumah ke rumah saya
jadi tidak tega. Belum kalau hari panas atau hujan. Pasti melelahkan.
Rasanya saya sangat
bersukur sekali dengan hidup yang saya punya sekarang. Saya hanya perlu
membersihkan rumah satu kamar tidak harus membersihkan tempat seluas masjid
kampus. Saya tidak perlu berjalan kaki menempuh jarak yang tidak dekat di siang
hari yang panas maupun hujan. Alhamdulillah. Ada banyak sekali hal-hal dalam
hidup kita yang pantas disyukuri jika kita mau melihat sekitar.
Komentar