Kutu Buku Should be Like
Membaca adalah suatu aktivitas yang menyenangkan, tentu saja bagi orang yang menyukainya. Membaca buku menjadi salah-satu kegiatan bergengsi di kalangan civitas akademika. Bagi seorang kutu buku, buku adalah harta yang tak ternilai harganya. Buku bukan sembarang buku mampu membuka cakrawala pemikiran seseorang. Membaca tanpa paksaan datang dari minat individu itu sendiri. Membaca dengan paksaan hanyalah aktivitas membuang waktu yang menyiksa si pembaca.
Kutu buku ada di mana-mana. Di era yang serba digital ini masih bisa dijumpai sejumlah kutu buku yang memadati toko buku maupun perpustakaan. Di beberapa sudut kota, meskipun sedikit ditemui, masih ada orang-orang yang pandangannya berpaku pada lembar-lembar buku bukan gawai.
Aktivitas membaca merupakan aktivitas yang positif. Sophia Latjuba juga seorang kutu buku. Ia membaca bermacam-macam buku. Koleksi bukunya juga banyak. Keren, bila seseorang begitu mencintai kegiatan membaca buku. Saat ini, buku tidak hanya bisa diperoleh di toko buku atau perpustakaan tradisional, melainkan toko buku online yang menjual e-book. Pembayaran pun juga bisa dilakukan dengan e-money. Kemajuan teknologi ini sesungguhnya merupakan kemudahan bagi penikmat buku.
Tidak ada hal negatif dari kegiatan membaca buku selama buku yang dibaca membawa kebaikan bagi pembacanya. Namun, hal ini tidak selalu sejalan dengan stigma yang berlaku di masyarakat. Seorang kutu buku seringkali dipandang sebagai orang yang anti sosial karena asik dengan bukunya dan abai terhadap sekitar. Kegiatan membaca di tempat umum, seringkali dipandang sebagai kegiatan pelarian terhadap interaksi sosial. Walaupun memang dibenarkan juga bahwa sebagian orang lebih memilih membaca buku ketimbang mengobrol dengan orang di sekitarnya, hal ini justru menambah kesan negatif masyarakat kepada kutu buku.
Stigma negatif lain adalah dianggap sok pintar karena seorang kutu buku sering kali mengungkapkan sesuatu berdasarkan buku yang telah dibacanya. Pengungkapan gagasan berdasarkan literatur dalam lingkup pergaulan sehari-hari tak jarang memicu cibiran masyarakat yang menjustifikasi kutu buku sebagai orang yang terlalu teoritis dan sok ilmiah.
Penempatan aktivitas membaca buku secara tepat sesuai waktu dan tempat perlu diperhatikan oleh kutu buku untuk menghindari stigma negratif dari masyarakat ini. Alangkah baiknya jika seorang kutu buku mampu membaca buku dan menikmati aktivitas ini di tempat yang tepat, misal di rumah, di perpustakaan, di ruang belajar, atau di sudut-sudut kota. Kutu buku juga manusia biasa, yang mana ia juga makhluk sosial. Ketika sedang bermasyarakat hendaknya kutu buku berkenan untuk sejenak melepaskan buku dari genggamannya dan mau berbaur serta berinteraksi dengan masyarakat. Jika sekiranya kutu buku mendapati persoalan dalam masyarakat dan ia mengetahui penyelesaiannya berdasarkan buku yang telah dibacanya, hendaknya ia menyampaikan gagasan itu dengan bahasa dan gaya yang mampu diterima oleh masyarakat. Sikap luwes ini adalah win win solution untuk menghindarkan kutu buku dari cibiran masyarakat tanpa mengurangi preferensinya dalam aktivitas membaca buku.
Kutu buku ada di mana-mana. Di era yang serba digital ini masih bisa dijumpai sejumlah kutu buku yang memadati toko buku maupun perpustakaan. Di beberapa sudut kota, meskipun sedikit ditemui, masih ada orang-orang yang pandangannya berpaku pada lembar-lembar buku bukan gawai.
Aktivitas membaca merupakan aktivitas yang positif. Sophia Latjuba juga seorang kutu buku. Ia membaca bermacam-macam buku. Koleksi bukunya juga banyak. Keren, bila seseorang begitu mencintai kegiatan membaca buku. Saat ini, buku tidak hanya bisa diperoleh di toko buku atau perpustakaan tradisional, melainkan toko buku online yang menjual e-book. Pembayaran pun juga bisa dilakukan dengan e-money. Kemajuan teknologi ini sesungguhnya merupakan kemudahan bagi penikmat buku.
Tidak ada hal negatif dari kegiatan membaca buku selama buku yang dibaca membawa kebaikan bagi pembacanya. Namun, hal ini tidak selalu sejalan dengan stigma yang berlaku di masyarakat. Seorang kutu buku seringkali dipandang sebagai orang yang anti sosial karena asik dengan bukunya dan abai terhadap sekitar. Kegiatan membaca di tempat umum, seringkali dipandang sebagai kegiatan pelarian terhadap interaksi sosial. Walaupun memang dibenarkan juga bahwa sebagian orang lebih memilih membaca buku ketimbang mengobrol dengan orang di sekitarnya, hal ini justru menambah kesan negatif masyarakat kepada kutu buku.
Stigma negatif lain adalah dianggap sok pintar karena seorang kutu buku sering kali mengungkapkan sesuatu berdasarkan buku yang telah dibacanya. Pengungkapan gagasan berdasarkan literatur dalam lingkup pergaulan sehari-hari tak jarang memicu cibiran masyarakat yang menjustifikasi kutu buku sebagai orang yang terlalu teoritis dan sok ilmiah.
Penempatan aktivitas membaca buku secara tepat sesuai waktu dan tempat perlu diperhatikan oleh kutu buku untuk menghindari stigma negratif dari masyarakat ini. Alangkah baiknya jika seorang kutu buku mampu membaca buku dan menikmati aktivitas ini di tempat yang tepat, misal di rumah, di perpustakaan, di ruang belajar, atau di sudut-sudut kota. Kutu buku juga manusia biasa, yang mana ia juga makhluk sosial. Ketika sedang bermasyarakat hendaknya kutu buku berkenan untuk sejenak melepaskan buku dari genggamannya dan mau berbaur serta berinteraksi dengan masyarakat. Jika sekiranya kutu buku mendapati persoalan dalam masyarakat dan ia mengetahui penyelesaiannya berdasarkan buku yang telah dibacanya, hendaknya ia menyampaikan gagasan itu dengan bahasa dan gaya yang mampu diterima oleh masyarakat. Sikap luwes ini adalah win win solution untuk menghindarkan kutu buku dari cibiran masyarakat tanpa mengurangi preferensinya dalam aktivitas membaca buku.
Komentar