Hakikat Hidup

Sekitar satu tahun yang lalu, atau mungkin belum sampai satu tahun, aku chatting dengan seseorang via WhatsApp yang intinya membahas tentang kehidupan. Lalu, kami tiba di suatu chat yang berisi tentang pendapatnya doi tentang aku yang masih kencur. Dalam chatnya dia bilang bahwa intinya aku ini masih terlalu ranum kalau membicarakan soal hidup. Dia pun berceloteh tentang kehidupannya dia yang menurutnya sudah banyak makan asam garam. Tidak ada yang salah diantara kita berdua. Tidak tahu juga ini sebuah kebenaran atau hanya pembenaran belaka. 

Kita memang nggak bisa menilai diri kita sendiri. Namun, kita sangat mudah menilai orang lain. Dari penilaian bersifat lahiriah yang jelas-jelas kita utarakan baik langsung ataupun tidak, hingga penilaian dengan sekedar mbatin. Misalnya ketika pertama kali ketemu orang pasti kita langsung menilai dia dari penampilannya, dari apa yang dia tampilkan, dari apa yang kita lihat. Padahal juga belum kenalan, belum juga ngobrol, tapi udah berani menilai aja. Demikian halnya dengan sikap, kadang kita ga bisa menilai sikap kita sendiri. Kita butuh orang buat menilai. Makanya, ya mungkin partner chattingku benar atau mungkin juga tidak. Sekali lagi, ini mungkin sebuah kebenaran atau mungkin hanya pembenaran. 

Dua bulan terakhir, aku cukup terinspirasi dengan buku-buku yang ditulis oleh Ahmad Rifa'i Rifan. Ya, tulisannya banyak mempengaruhiku akhir-akhir ini. Kejadian ini bermula ketika aku secara tidak sengaja menemukan bukunya yang berjudul Ketika Tuhan Tak Lagi Dibutuhkan. Isinya tentang kehidupan manusia yang sudah jauh banget dari Tuhan. Ketika manusia merasa bahwa hidupnya sudah baik-baik saja dan akan terus baik-baik saja dengan atau tanpa ia dekat kepada Tuhan. Membaca lembar demi lembar buku ini, rasanya seperti membaca lembaran-lembaran dosaku sendiri. Hal ini karena tulisannya realistis, relevan dengan keadaanku saat ini, dan bahasanya ringan. 

Alhamdulillah, aku jadi sadar :" Sadar kalau hal-hal menyenangkan yang telah aku lakukan selama ini adalah kesia-siaan. Sadar dan paham bahwa manusia dan segala makhluk yang ada di bumi ini diciptakan dan ada tak lain yang untuk beribadah. Buat apa sih idup? Ya buat beribadah :" Kok gitu? Yaiya, lha di Al Quran juga dijelasinnya gitu. Cari aja sendiri ayatnya, aing masih cetek  ilmunya :" Bahwa manusia diciptakan itu ya buat beribadah. Dan hidup di dunia ini kan singkat banget, beneran singkat karena kalau kita tahu tahapan kehidupan itu ada banyak dan dunia yang sekarang ini cuma salah satunya. Mulai dari alam ruh, alam kandungan, alam dunia yang sekarang, alah barzah, hingga alam kiamat yang banyak tahapannya itu *cmiimw ya*

Aku bersyukur banget bisa dapet kesadaran kaya gini. Karena kalo udah tahu, udah ngerti, dan udah paham, maka langkah selanjutnya ya tinggal eksekusi aja. Eksekusi apa? Ya eksekusi ibadahnya dong:" Ya solat, ya ngaji, ya belajar, ya gitu deh. Ya dulu aku masih suka bertanya-tanya dan mempertanyakan, buat apa sih capek-capek banget ibadah kalo hidup udah baik-baik aja, kenapa nggak sewajarnya aja. Ya, soalnya itu tadi hakikat manusia diciptakan ya untuk beribadah, selain itu amal selama di dunia ini tuh biar jadi bekal kita mengarungi kehidupan selanjutnya. Kan tadi dibilang kalo dunia yang sekarang ini nih cuman sebenar, hanya bagian dari rentetan kehidupan yang masih banyak tahapannya. 

Terus, masalah datang ketika sudah ada sedikit niat, sudah ada sedikit tindakan untuk melakukan perbaikan, nah lingkungan nih nggak mendukung. Klise banget ya? Ya, hidup emang klise sih. Ada aja yang menganggap hal yang kita usahakan ini aneh mengingat kita dulu kaya apa. Ya, wajar juga sih mungkin dia hanya lihat kita dulu seperti apa lalu sekarang kok jadi seperti ini. Dia nggak melihat proses bagaimana kita bertransisi makanya ngasih reaksi seperti ini. Ada bermacam-macam pikiran terlintas di kepalaku. Aku juga kesel, orang pingin jadi lebih baik tapi kok malah diginiin. Sampai aku juga sempet mikir kalo ini orang salah. Tuh kan, kembali ke asal menilai orang. Lalu perlahan aku mulai ngerti kalau akidah sama akhlak itu nggak serta merta kongruen apalagi berbanding lurus. Dari kisah-kisah sahabat, dikasih lihat contoh orang-orang yang akidahnya bagus ibadahnya rajin tapi akhlaknya kurang baik. Hal ini karena ibadah yang menyangkut hubungan manusia sama Tuhan ya koneksinya ke atas, sedangkan akhlak kan gambaran hubungan kita sama orang lain yang mana koneksinya menyebar luas. Beda kan? Akhlak perlu dilatih, akidah perlu dipupuk. Dua-duanya adalah dua yang sama-sama harus dipelajari. 

Lalu aku pun tersadar lagi bahwa bukan orang yang salah. Akidahnya dia nggak salah, tapi akhlakku aja yang masih kurang baik. Aku yang belum bisa menyikapi orang-orang yang berbeda pandangan denganku. Ingat, kita mengalami proses yang berbeda, jadi kalau hasilnya berbeda ya jangan disalahkan begitu saja. Bayangin aja, pisang direbus sama dikukus, beda kan hasil akhirnya? Nggak bisa disamain kan. Nah, seperti itulah kurang lebih yang mungkin harus dipertimbangkan sebelum langsung memberi penilaian sama orang lain. 

Kembali ke poin utama, jadi hakikatnya hidup ini ya untuk ibadah. Dan untuk mengarungi kehidupan ini juga kita udah dikasih buku petunjuk. Ya, Al Quran, karena di dalamnya ada banyaaaaaaak banget pelajaran yang bisa dan harus dipetik untuk acuan mengarungi hidup. Ya, intinya keep istiqomah ya dear (dulu aku juga ga ngerti kenapa orang-orang pada ngomong kaya gini). Jangan sampai dunia mengalahkan fokus utama hidup buat beribadah. Ketika udah ketemu hidayah, syukuri. Ketika melihat orang masih struggling dan belom nemu hidayah jangan dikatain, jangan sombong, jangan sok. Ingetin kalo bisa pelan-pelan, kalo gabisa diemin aja doain diem-diem semoga lekas dapet petunjuk. Dan kalo suatu saat nemu hidayah, jangan ditolak. Hidayah bisa dateng kapan aja, di mana aja, lewat apa aja, kepada siapa saja. Itu semua haknya Allah SWT. 

Entah, apakah kalau sekarang aku berdiskusi lagi dengan partner chattingku di WA apakah dia masih akan bilang kalau aku ini kencur yang masih awam soal kehidupan. Biarlah, biarlah dia atau siapapun menilai karena mereka memang berhak menilainya. Karena yang aku tahu saat ini, hidup yang aku jalani ini hakikatnya bukan untuk memperoleh nilai dari mereka. Hidup yang aku jalani saat ini adalah hidup yang kelak harus aku pertanggung jawabkan, semuanya. Ya waktunya dipake buat ngapain aja, ya apa aja yang udah dikerjain, ya dipake buat apa aja fasilitasnya (sehat, badan, akal, rejeki), ya gitu deh pokoknya. Yang penting mari kita berdoa semoga kita selalu dikasih petunjuk untuk menjadi lebih baik, dan semoga orang-orang yang kita peduliin juga demikian. Karena hidup hakikatnya buat beribadah :" 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rahasia Lolos Beasiswa International Summer Course di Nagoya University

Mengikuti Tes Psikologi dan Wawancara Psikolog Toyota Astra Finance (TAF) Service

Kompleksnya Manajemen Sumber Daya Perairan di Selat Bali