Meringkuk Seperti Janin
Di kursi belajar . Duduk meringkuk seperti janin . Kedua kaki dilipat di depan dada . Kedua tangan memeluknya . Dagu bertumpu pada lutut , atau menyandarkan kepada pada sandaran kursi .
Di kasur . Berbaring miring ke kiri atau ke kanan . Tidur meringkuk seperti janin . Berselimut atau tidak berselimut . Dengan atau tanpa menyalakan penghangat ruangan . Dengan atau tanpa bantal .
Di bathup . Bersandar miring ke kiri atau ke kanan . Memaksimalkan ruang . Menggenangkan air hangat . Kepala tenggelam atau tidak tenggelam . Membenamkan atau tidak membenamkan wajah .
Di kolam renang . Mengapung atau mengambang , tidak berenang . Meringkuk menahan napas . Membuang napas hemat-hemat . Merasakan air bersentuhan dengan kulit . Hey, ada jutaan molekul H2O .
Aku nggak tau ya pada saat janin berada di dalam kandungan, adakah memori yang terekam. Adakah emosi yang terjadi, kalau ini sepertinya ada. Sebab ada deja vu yang terjadi kalau berposisi meringkuk seperti janin. Ada rasa damai yang menyeruak. Dunia seakan dipause. Masalah terhenti layaknya mesin bianglala yang sejenak dihentikan, berhenti. Tidak bising.
Janin di dalam rahim memang enak banget hidupnya. Sehari-hari kerjaannya cuman tidur. Memejam sepanjang waktu. Sebab apa? Sebab kalau dia melek nanti air ketubannya masuk ke mata, wkwk.
Janin di dalam rahim gak perlu bernapas, melakukan effort buat menghirup oksigen dan mengelarkan karbondioksida. Mempekerjakan paru-paru. Sebab apa? Sebab bahaya nanti kalau paru-parunya kemasukan air ketuban. Janin manusia bagaimanapun juga adalah mamalia yang bernapasnya pakai paru-paru bukan insang, wkwk...
Janin di dalam rahim gak perlu makan dan minum pun pipis atau pup. Semua kebutuhan nutrisinya udah dipenuhi lewat jalinan tali pusat antara dia dengan ibunya, termasuk asupan oksigen. Air, makanan ditransfer langsung sama ibunya lewat tali ajaib itu. Begitu juga kotoran sisa metabolisme si janin bisa dikeluarkan dari dunia sempitnya lewat organ ajaib ini. Hmm, visioner banget ya teknologinya. Terlampau canggih, dan rumit.
Janin di dalam rahim hidup dalam air, air ketuban. Lucu ya, padahal dia mamalia ya kan. Tapi awal mula kehidupannya dia melayang-layang di dalam air. Tau kan, kalau berada di dalam air semua gerakan jadi berasa lebih dramatis karena slow motion. Beda dengan di udara. Enak banget, kamu harus coba.
Tapi kenapa harus 'direndam' di dalem air gitu. Kenapa nggak yaudah gitu dibungkus selaput atau jaringan aja. Toh dia juga kan nggak melek, nggak bernapas, nggak makan, nggak minum, nggak pipis, nggak pup. Cuman merem sepanjang hari. Makanan udah ditransfer pake teknologi tali pusat. Ya kenapa? Ya biar ada ruang dong. Semua butuh ruang, kata Tulus. Biar dia bisa bergerak dong. Kan salah satu ciri makhluk hidup bergerak. Ya nggak? Gimana dia bisa tumbuh dan berkembang kalo dia nggak punya ruang buat bergerak. Gimana sel-sel saraf motoriknya bisa berkembang kalau dia dibungkus rapet kayak paket JNE.
Terus, juga biar bisa meminimalisasi goncangan atau benturan. Kan kasian tuh ya, udah dia nggak melek, nggak tau dunia luar, terus dia harus merasakan goncangan kayak naik bis di pegunungan dan dia nggak tau itu kenapa bisa terjadi goncangan, kasian banget kan wkwk.. Merasakan goncangan tanpa tau itu asalnya dari mana aja udah kasian gitu kan. Apalagi kalo sampe kena benturan. Wah itu lebih kasian lagi, Ibarat naik motor dibonceng pake jas hujan kelelawar, gak tau apa-apa tiba-tiba motornya nabrak. Kan sedih. Nah, makanya dia dikasih lingkungan berair gitu. Biar tetep stabil dan bisa damai hidupnya sampe dia melihat dunia luar dan merasakan kenyataan yang nggak sedamai kehidupannya di dalem perut ibunya.
Well, meskipun janin belom bisa baca postingan ini, tapi selamat menikmati aja deh kehidupan kalian yang damai dan seperti mimpi itu. Buat yang udah bertahun-tahun ngadepin realita, ya semangat aja lah ya wkwk...
Di kasur . Berbaring miring ke kiri atau ke kanan . Tidur meringkuk seperti janin . Berselimut atau tidak berselimut . Dengan atau tanpa menyalakan penghangat ruangan . Dengan atau tanpa bantal .
Di bathup . Bersandar miring ke kiri atau ke kanan . Memaksimalkan ruang . Menggenangkan air hangat . Kepala tenggelam atau tidak tenggelam . Membenamkan atau tidak membenamkan wajah .
Di kolam renang . Mengapung atau mengambang , tidak berenang . Meringkuk menahan napas . Membuang napas hemat-hemat . Merasakan air bersentuhan dengan kulit . Hey, ada jutaan molekul H2O .
Aku nggak tau ya pada saat janin berada di dalam kandungan, adakah memori yang terekam. Adakah emosi yang terjadi, kalau ini sepertinya ada. Sebab ada deja vu yang terjadi kalau berposisi meringkuk seperti janin. Ada rasa damai yang menyeruak. Dunia seakan dipause. Masalah terhenti layaknya mesin bianglala yang sejenak dihentikan, berhenti. Tidak bising.
Janin di dalam rahim memang enak banget hidupnya. Sehari-hari kerjaannya cuman tidur. Memejam sepanjang waktu. Sebab apa? Sebab kalau dia melek nanti air ketubannya masuk ke mata, wkwk.
Janin di dalam rahim gak perlu bernapas, melakukan effort buat menghirup oksigen dan mengelarkan karbondioksida. Mempekerjakan paru-paru. Sebab apa? Sebab bahaya nanti kalau paru-parunya kemasukan air ketuban. Janin manusia bagaimanapun juga adalah mamalia yang bernapasnya pakai paru-paru bukan insang, wkwk...
Janin di dalam rahim gak perlu makan dan minum pun pipis atau pup. Semua kebutuhan nutrisinya udah dipenuhi lewat jalinan tali pusat antara dia dengan ibunya, termasuk asupan oksigen. Air, makanan ditransfer langsung sama ibunya lewat tali ajaib itu. Begitu juga kotoran sisa metabolisme si janin bisa dikeluarkan dari dunia sempitnya lewat organ ajaib ini. Hmm, visioner banget ya teknologinya. Terlampau canggih, dan rumit.
Janin di dalam rahim hidup dalam air, air ketuban. Lucu ya, padahal dia mamalia ya kan. Tapi awal mula kehidupannya dia melayang-layang di dalam air. Tau kan, kalau berada di dalam air semua gerakan jadi berasa lebih dramatis karena slow motion. Beda dengan di udara. Enak banget, kamu harus coba.
Tapi kenapa harus 'direndam' di dalem air gitu. Kenapa nggak yaudah gitu dibungkus selaput atau jaringan aja. Toh dia juga kan nggak melek, nggak bernapas, nggak makan, nggak minum, nggak pipis, nggak pup. Cuman merem sepanjang hari. Makanan udah ditransfer pake teknologi tali pusat. Ya kenapa? Ya biar ada ruang dong. Semua butuh ruang, kata Tulus. Biar dia bisa bergerak dong. Kan salah satu ciri makhluk hidup bergerak. Ya nggak? Gimana dia bisa tumbuh dan berkembang kalo dia nggak punya ruang buat bergerak. Gimana sel-sel saraf motoriknya bisa berkembang kalau dia dibungkus rapet kayak paket JNE.
Terus, juga biar bisa meminimalisasi goncangan atau benturan. Kan kasian tuh ya, udah dia nggak melek, nggak tau dunia luar, terus dia harus merasakan goncangan kayak naik bis di pegunungan dan dia nggak tau itu kenapa bisa terjadi goncangan, kasian banget kan wkwk.. Merasakan goncangan tanpa tau itu asalnya dari mana aja udah kasian gitu kan. Apalagi kalo sampe kena benturan. Wah itu lebih kasian lagi, Ibarat naik motor dibonceng pake jas hujan kelelawar, gak tau apa-apa tiba-tiba motornya nabrak. Kan sedih. Nah, makanya dia dikasih lingkungan berair gitu. Biar tetep stabil dan bisa damai hidupnya sampe dia melihat dunia luar dan merasakan kenyataan yang nggak sedamai kehidupannya di dalem perut ibunya.
Well, meskipun janin belom bisa baca postingan ini, tapi selamat menikmati aja deh kehidupan kalian yang damai dan seperti mimpi itu. Buat yang udah bertahun-tahun ngadepin realita, ya semangat aja lah ya wkwk...
Komentar