Karena Raditya Dika itu Pinter
Nggak tau kenapa aku harus ngomongin Raditya Dika. Selama
ini aku selalu berpikir kalau Raditya Dika itu seperti apa yang tertulis di
dalam bukunya, seperti apa yang diperankan di filmnya, seperti apa yang
diceritain di stand up-nya. Bahwa Raditya Dika itu ya emang beneran pelajar
yang bodoh, bahwa emang dia jelek kuntet pendek, bahwa emang nasibnya beneran
mengenaskan, bahwa emang cewek-cewek pada nggak mau sama dia, bahwa dia emang
nggak tau diri punya tampang pas-pasan nggak ada keren-kerennya tapi seleranya
soal cewek tinggi banget. Ternyata enggak sama sekali.
Beberapa hari ini
kerjaan aku cuman nontonin Youtube melulu, salah satunya ya channel Youtubenya
Raditya Dika. Ngeliatin vlognya sama pacarnya, beberapa stand up-nya,
review-reviewnya tentang beberapa barang, dan terlebih setelah aku nonton
videonya tentang draw my lifenya dia sama komentar-komentar orang tentang dia
baik komentar langsung di bawah videonya maupun dari roasting para comic.
Aku baru ngeh pas liat video draw my lifenya. Ternyata, emang
tidak senaif itu. Ternyata kesuksesannya dia sekarang bukan ujug-ujug dateng
dari langit. Ternyata Raditya Dika itu adalah seorang pembelajar yang getol sih
kalo bisa dibilang. Dia tu cerdas, atau bahkan jenius. Pertama, dia itu tau apa
yang dia mau. Dia tau apa yang dia suka, terus dia ikutin kesukaannya itu.
Raditya Dika, Gita Savitri Devi, Trinity, Isyana Sarasvati, mereka itu
orang-orang cerdas loh. Kayak, ya nggak mungkin aja gitu kan ya kalo mereka
nggak cerdas mereka bisa bikin karya yang bagus-bagus dan diterima masyarakat.
Se-nggak ngerti nggak ngertinya masyarakat kita deh, pasti bisa lah bedain mana
karya yang bagus mana yang engga. Dan untuk menghasilkan sebuah karya yang
bagus, gabisa asal-asalan juga dong. Jadi, apa mungkin creator-creator itu
bukan orang cerdas? Aku rasa engga deh.
Oke, kayak turning point-nya, cielah turning point. Iya,
turning point tentang persepsi aku, kuncinya itu ada di videonya Raditya Dika
yang ini. Dari situ aku baru bener-bener
ngerti dan ber-ooohh banget makanya dia bisa bikin banyak buku, bikin film,
jago stand-up. Ya karena dia belajar, belajar. Nggak tau-tau bisa. Kan dia
orang juga sama kaya kita-kita. Dari video itu aku jadi tau oooh ternyata
Raditya Dika itu kutu buku dari kecil. Emang dasarnya suka baca buku. Bahwa dia
bisa jadi seculun itu waktu jaman sekolah ya karena emang dia anak kutu buku,
terus sukanya musik klasik lagi, bacaannya juga bukan yang receh-receh gitu.
Bahkan tentang dia bisa berkomedi juga itu ada proses belajarnya. Ada buku
Lupus yang dibaca sampe-sampe dibedah buat dipelajarin kan bagian mana yang
bisa bikin itu lucu. Terus juga komedian-komedian dari luar negeri juga
dipelajari. Nggak tiba-tiba siang bolong dia iseng bikin cerita terus ternyata
lucu dibaca orang dan tiba-tiba dicetak jadi buku terus best seller sampe
dijadiin film. Kayaknya sukses nggak sebercanda itu deh. Dan nggak semurah
serta semudah itu deh harganya.
Mungkin karena itu jadi nggak sedikit orang yang
menggampangkan karya-karyanya Raditya Dika. Sempet menjamur kan dulu waktu buku
Kambing Jantan lagi booming, jadi banyak blog yang isinya mirip. Tentang
keseharian pelajar-pelajar yang mengekor gayanya Raditya Dika. Terus juga jadi
mulai banyak buku-buku serupa tapi ngga nyampe best seller. Mungkin ya, mereka
hanya mengcopas gayanya bukan prosesnya. Si Raditya Dika ini kan prosesnya udah
berlangsung dari jaman dia SD yang dia nyoba bikin buku harian terus ternyata
lucu dan sampe dibaca sama temen-temennya. Dan dia juga udah pernah mempelajari
tentang komedi. Jadi begitu dia bikin blog, dia udah punya gayanya.
Bisnis
Disadari atau tidak, Raditya Dika
ini punya sense bisnis yang bagus. Kenapa? Karena dia berani investasi dan
mengambil resiko. Oke, di mana investasinya dan di mana resikonya? Misalnya
waktu dia bikin Malam Minggu Miko. Otomatis kan dia harus investasi buat
alat-alat produksinya kan. Nah, resikonya kalo hasil produksinya nggak
bagus-bagus amat gitu misalnya, rugi dong. Tapi, dia orang berani kan ngambil
resiko itu. Dan hasilnya, sukses tuh. Begitu juga dengan belajar komedinya. Kan
dia cerita tuh di videonya kalo jaman itu belom bisa segampang sekarang yang
apa-apa tinggal cari di Google atau cari tutorialnya di Youtube, dia belajar
dari buku. Tau sendiri buku nggak gratis. Apalagi buku yang bagus, harus rela ngeuarin
duit dong. Itungannya udah modal tuh. Resiko ada? Ada, tetep ada. Resikonya ya
kalo misal gagal ya ga bermanfaat itu buku-buku yang udah dibeli, tapi resiko
lainnya ya dia jadi ngerti jadi paham dan bisa bikin karya komedi yang sukses.
Unik
Raditya Dika ini dia orangnya bisa
ngeliat peluang. Dia teliti melihat keadaan, membaca situasi, pengamat yang
bijak lah. Liat aja karya-karyanya, unik kan. Buku-bukunya, film-filmnya,
unik-unik kan kontennya. Dan kenapa karya-karya itu bisa menonjol gitu diantara
karya-karya lain yang serupa, ya karena karya-karyanya itu memiliki keunikan
yang menjadikan mereka orisinil dan orang lain suka. Tapi dia nggak naif. Dia
cerdas, dia inovatif. Ketika dia menelurkan beberapa buku yang memiliki unsur
binatang buat di judulnya, mulai dari Kambing Jantan, Marmut Merah Jambu, Cinta
Brontosaurus, Koala Kumal, Manusia Setengah Salmon, dan semua itu dijadiin
film, terus dia bikin film yang beda dari film-filmnya sebelumnya: Hangout sama
Single. Iya, unsur-unsur binatang itu udah jadi cirinya dia, dan orang-orang
tau itu. Tapi dia berinovasi, berkembang dong. Apalagi di saat industri film
Indonesia lagi bagus, terus dia juga bisa bikin film yang bagus.
Tapi kalo dipikir-pikir sih ya, emang dari dulu karyanya dia
bagus sih. Dari jaman film Indonesia masih didominasi sama film-film hantu yang
nggak jelas, sampe sekarang jadi bagus, dia tetep konsisten bikin karya yang
nggak sembarangan. Iya karya-karya lain juga nggak ada yang sembarangan sih,
namanya karya pasti nggak ngasal bikinnya. Sereceh-recehnya orang ngepost di
blog, itu juga karya dan ada proses di baliknya. Mungkin lebih tepat kalo
karya-karya yang mendapat feedback yang bagus dari masyarakat.
Well, kata salah satu juri di sebuah ajang pencarian bakat
meniru itu nggak ada salahnya. Bahkan seorang penyanyi pun meniru, dan proses
seorang penyanyi hingga mampu menirukan dengan persis penyanyi idolanya ini
menjadi tahap penting bagi dia untuk sukses. Karena setelah dia berhasil
meniru-niru dengan sangat baik, biasanya dia akan mampu menemukan style dan
karakternya sendiri. Jadi intinya, semua punya proses kan. Jadi kalo kita mau
niruin proses dan pengalamannya orang lain karena menurut kita dia itu keren,
dia itu sukses, ya sah-sah aja. Yang penting, jangan pernah takut buat berkarya
J
Komentar