Leleh

Gempa barusan. Zaty sudah tertidur. Lelap sepertinya. Aku sudah menyalakan lampu tidur dan tengah berselimut tatkala hujan turun di sudut gelap mataku *bukan lagi nyayiin lagu sheila on 7*

Kamu tau pisau yang matanya ada dua? Itu dia kalo dipake ngiris bisa efisien banget karena dua sisinya sama-sama tajem dan useful.

Kamu tau uang logam punya dua sisi? Kayaknya semua uang logam dari berbagai negara di dunia pun demikian. Uang seratus rupiah punya gambar garuda di satu sisinya dan angka seratus dengan burung kakak tua lagi nangkring di sisi sebaliknya. Koin-koin yen juga demikian.

Kamu tau ketika aku kumat ngomong nggak jelas juntrungannya gini maksudnya apa? Iya, ada kesedihan yang gabisa aku ungkapin. Sakit, tapi ga berdarah.

Aku cuma tau bahwa jantungku berdegup, cukup kencang. Nafasku memburu. Dan air mata meleleh di mukaku. Aku nggak tau kenapa Tuhan menciptakan perasaan sedih.

Saat ini, di atas bumi Tokyo aku menggigit ujung kain baju tidurku. Duduk di kursi belajar, memangku sebuah laptop dalam remang oranye lampu tidur. Satu hal yang coba aku lakukan adalah menarik nafas, tapi rasanya pun berat.

Boro-boro nyanyi, bicara pun sulit. 24 jam yang lalu aku berencana untuk menceritakan perjalanan 2017-ku memasuki rumah demi rumah. Menemukan banyak rumah, dan merasakan berbagai rumah. Aku ingin bercerita tentang rumah. Tapi ternyata, satu hal kecil yang ia hanya setitik jarum, meletuskan semua balon-balon rencana rapi itu. Aku tidak membenci, hanya tidak mengerti. Kenapa?


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rahasia Lolos Beasiswa International Summer Course di Nagoya University

Mengikuti Tes Psikologi dan Wawancara Psikolog Toyota Astra Finance (TAF) Service

Kompleksnya Manajemen Sumber Daya Perairan di Selat Bali