Sampah Rumah Dikemanain?
Satu setengah tahun yang lalu, sewaktu baru pindahan aku
bertanya pada tetangga, “Buang sampahnya di mana ya?” Tidak ada tukang sampah
keliling dan tetangga lainnya juga tidak ada yang punya tempat sampah di depan
rumahnya. “Kalau warga sini biasanya dibakar mbak” katanya. Dibakar? Aku
sedikit mengeryitkan dahi. Aku tidak bisa sepakat dengan ide itu karena
menurutku itu bukan solusi untuk menghilangkan sampah dari lingkungan tempat
tinggal. Selain itu, asap hasil bakaran bisa masuk ke rumah dan bikin pengap.
Bikin bau apek di kain sprei dan gorden, bahkan mukena dan pakaian yang
digantung di belakang pintu kamar. Bukan, itu bukan solusi. Lalu aku bertanya
lagi, “Selain dibakar?” Kemudian aku diajak ke bantaran sungai di belakang
masjid, dekat kuburan. Di situ ada sebidang tanah yang terlihat kosong, dan aku
diberi tahu untuk membuang sampah di situ saja.
Selama aku tinggal, aku selalu membuang sampah rumah dan
dapur di tempat itu. Sebenarnya, aku juga tidak dengan tenang membuang sampah
di bantaran kali karena tau itu salah. Bahkan, aku diberi tahu untuk
menghanyutkan bekas pembalut ke aliran sungai. “Biar terbawa arus dan hilang
dari sini” Betul, hilang dari sini. Tapi kalau jadi sampah di desa sepanjang
sungai bagaimana? Aku tidak terlalu sering membuang sampah, karena sampahku
memang nggak banyak. Aku nggak masak setiap hari. Sampah plastik pun juga
jarang. Aku sering makan di luar. Pokoknya keranjang sampah di belakang rumah
itu lama sekali penuhnya.
Sekitar dua minggu yang lalu, aku lagi kumat rajin
bersih-bersih rumah. Melihat tumpukan kresek sampah berisi bungkus indomie dan
beberapa kantong plastik berisi sampah rumput pekarangan, aku risih dan ingin
cepat-cepat mengeyahkannya dari rumah. Jadilah aku mondar-mandir ke bantaran
sungai membuangi sampah-sampah itu. Bahkan sampah terakhir berupa guling yang
udah ga layak juga aku buang di situ. Ketika aku lagi mondar-mandir ini, aku
melewati segerombol ibu-ibu yang rupanya memperhatikan aku tanpa aku sadari.
Sekembalinya aku dari bantaran kali, seorang ibu sudah berdiri dan menunggu aku
tiba di tempatnya.
"Habis buang sampah ya mbak?” tanyanya yang ku iyakan saja.
“Mbok ya bikin galian sendiri saja
jangan buang di sana, lha di sana itu bukan tempat sampah eh mbak.”
Aku pun balik bertanya, “Galian? Galian gimana ya Bu
maksudnya? Dan maksudnya juga di mana?”
“Lubang untuk tempat sampah sendiri, itu di halaman rumahnya
kan luas."
Aku mengeryitkan dahi, membayangkan di halaman depan rumah
digali sebuah lubang persegi 1x1x1 meter kubik. Aku membayangkan membuang
sampah di situ. Membayangkan ketika lubang itu sudah penuh sampah lalu aku
menutupnya dengan tanah. Kemudian aku membuat lubang yang sama di sisi yang
lain. Sebuah usulan baik yang sulit untuk aku terima. Aku tidak bisa membayangkan
ada sebuah tempat penampungan sampah mengaga di halaman depan rumah. Aku juga
tidak bisa membayangkan lalat-lalat akan datang mengerubunginya atau ayam-ayam
berdatangan dan menceker-ceker di situ. Solusi lainnya, membakar sampah-sampah
itu. Aku yang anti dengan bakar-bakaran disuruh main bakar-bakaran, bagaimana
aku bisa? Aku berpikir keras sembari memikirkan kalimat yang pas untuk
menanggapi usulan si ibu baik itu.
Lantas aku menceritakan hal itu kepada tetangga dekatku. Tak
lama, seorang ibu dari gerombolan yang lagi asyik nongki cantik sore itu
datang menghampiri kami. Kali ini, ibu yang berbeda dari yang memperingatkan
aku di jalan dari bantaran kali. Masih sama. Ketika kujelaskan ketidakrelaanku
menggali lubang tempat sampah di halaman muka rumah, beliau menyarankan untuk
membuat lubang itu halaman belakang. Bagiku setali tiga uang, sama saja.
Lalat-lalat tetap datang dan jika dibakar pun asapnya pasti akan masuk rumah.
Sebenarnya ada alasan ilmiah di samping aku tidak suka sama bau asap bakaran
sampah. Sampah berwujud yang kita lihat itu, jika dibakar akan lenyap dari
pandangan kita. Tapi dia berubah jadi udara. Udara yang bisa saja kita hirup.
Artinya apa? Tepat sekali, kita hanya memindahkan sampah dari halaman ke udara
bebas. Tahu apa yang kita lakukan selanjutnya? Yes, menghirupnya. Melewatkan
sampah itu ke dalam tubuh kita sendiri.
Alasan baik lainnya dari menimbun sampah adalah untuk
menguruk tanah. Yess, bisa banget kalo aku mau bikin reklamasi. Kalau halaman
sudah padat, kenapa harus diuruk lagi. Lagipula sampah plastik ga akan terurai
di tanah hanya dalam jangka waktu lima tahun. Kalau ada sistem bakaran sampah
yang kayak kotak kremasi jenazah gitu mungkin aku mau bakar-bakar sampah karena
asapnya tidak ke mana-mana, tahu-tahu nanti sampahnya berubah jadi abu. Aku
bertanya tentang solusi lain. Adakah tukang sampah keliling? Ada, tapi bukan di
lingkungan ini. Lalu, dapatkan aku nebeng lingkungan sebelah yang punya tukang
sampah keliling? Belum terjawab sampai sekarang.
Komentar