Mudik dan Hilir


Hey you...

These 3 days, I was soo sok sibuk. As usual. Memutuskan untuk naik motor Jogja-Pacitan PP daripada naik travel indeed, it’s preference. Ahaha. It was a bad day when I decided to naik travel for a reason, few weeks before lebaran. It was one day going home. Can I have a complainment? Of course! Aku lebih suka ketika orang bilang jujur. Especially soal waktu. Ketika kamu emang ga sanggup buat janjian jam 2 teng, just say it. Bilang aja kalo kamu mungkin ga bisa tepat waktu. Maybe 2 seperempat atau setengah 3. Daripada kamu bilang jam 2-an. Ada imbuhan ‘an’ yang sangat nggak jelas dan nggak pasti kapan exactly. I hate that, sorry.

Jam 11. Mbak-mbak travel bilang akan dimulai penjemputan. Sebuah statement yang bikin aku bingung untuk berasumsi. Apakah maksudnya jam 11 mobil travelnya baru keluar dari garasi? Ataukah jam 11 mobil travelnya sudah menjemput aku? Well, aku nggak tau di mana tepatnya lokasi agen travelnya. Bagaimana urutan penjemputannya? Dari mana dia akan mulai menjemput? Butuh waktu berapa menit untuk sampai di titik penjemputanku yang sudah aku sepakati dengan pihak travel. It’s confusing men, it’s uncertain. Call me lebay, I am okay.

I had been standing di pinggir jalan for about 20 minutes when the car came. Aku nggak pernah tau akan satu mobil dengan siapa. Oke, ini kendaraan umum. Just blame myself, sorry. Tapi ini akan jadi suatu ketidakadilan ketika ada penumpang lain yang bawa barang seabrek, segede gaban, dia taro barang dia di bagasi yang mana aku duduk di seat paling belakang yang lokasinya itu tepat nempel sama space bagasi mobil, lalu barang si penumpang itu bikin seat aku gabisa di set buat nyender karena terganjal sama barang si penumpang tersebut. Dan kamu tau di mana penumpang dengan barang segede gaban yang seabrek itu duduk? Yess! Di seat tengah, dengan nyaman, bisa nyender. Sedangkan seat aku, terganjal barangnya. Hahahaaa... it’s funny!

Are you kidding me, madam? Yes dia ibu-ibu cantik! Politely I said to the driver that my seat was uncomfertable. So the woman maybe ‘peka’ and said “Tasnya dibawa ke sini aja pak, biar saya taro di deket kaki saya” Well, sedikit membaik. Kita bayar sama madam, kenapa situ enak saya enggak. Kan nggak bisa dong.

Kejutan belum berakhir. I knew, and I could imagine... Perjalanan jauh memang melelahkan. Ketika kamu harus naik pesawat berjam-jam. Transit di suatu bandara untuk waktu yang ngga sebentar, cukup melelahkan. Bisa memakan waktu satu hari, atau mungkin lebih. Many hours. Aku paham, perjalanan yang panjang emang bikin pingin bobo di kendaraan. Dan, sangat normal ketika bangun tidur kamu bau jigong. It’s totally normal dan sangat manusiawi. Tapi apa kamu nggak kasian, ketika kamu dalam keadaan begitu bau kecut bau jigong lalu kamu duduk di samping seseorang di kendaraan umum? Ga kasian sama dia? Percayalah, kamu mungkin ga begitu terganggu sama bau badanmu, bau mulutmu sendiri. Tapi orang lain, bisa.

Kamu akan merasa serba salah ketika sampingan sama orang dengan keadaan begini. Gabilang, tapi sumpek kena baunya. Mau bilang, yakali situ mau digampar -_- Hell yeaah. Jauh di lubuk hatimu, kamu gatel banget pingin ngomong, “Anda belum mandi? Mau mampir ke Indomaret, saya bersedia beliin Anda perlengkapan mandi. Mungkin setelah ini kita bisa request untuk berhenti di SPBU dan minta beberapa menit istirahat supaya Anda bisa mandi J

Tapi gamungkin guys.

Akhirnya, pengalaman kaya gitu biasanya hanya berakhir di sini. Di postingan blog ini yang bisa aku bagiin ke kalian.

One more! Mungkin aku terlalu lama ga pernah bepergian jauh pakai kendaraan yang punya banyak roda dan exactly menyusuri bumi -> mobil, bis, minibus (I am a rider, ahahaa rodanya cuma dua). Perjalanan yang secara harfiah memakan waktu sampai berjam-jam. Lebih dari dua jam. Berada di atas kereta berjam-jam, dia jalannya di atas rel. Dia napak bumi sih, tapi ga seperti ban ke aspal rasanya. Jalur kereta juga, gitu-gitu aja. Ga kaya jalan raya yang bentuknya bisa bener-bener mengikuti bentuk pegunungan atau something like that. Somehow, jalanan bentuknya bisa kaya track roller coaster. Hehe.

Let me tell you. Berada di dalam sebuah minibus, yang jendelanya tertutup rapat, tanpa stella, dengan iringan bunyi ‘ngik-ngik’ dari salah satu pintu yang rusak, menyusuri jalanan yang aduhai seksinya berlekuk-lekuk ke kiri-kanan-naik-turun, dengan kecepatan tinggi.... kalo aku pingin muntah aku udik ngga sih?

So, for the reasons aku memutuskan untuk naik motor aja deh. Empat jam perjalanan, disikat wes. Sendirian aja, bodo amat wes. Yang penting aku bisa kena semilir angin, nggak terkurung di ruang tertutup, nggak sampingan sama orang yang belum mandi, ga tersiksa oleh barang orang lain. I am free and I like it J Dan yang nggak kalah penting, there is no more uncertain time coz I am the boss. Ahaha.

PS: Pardon my messy grammar, my mind is much more messy than my grammar (y)

Sehubungan dengan dilaksanakannya Pilkada serentak hari ini, boleh ga sih aku request ada kereta direct Jogja-Pacitan, please... Boleh ga sih, Pacitan punya jalur kereta? Hehe.

Rute Jogja-Pacitan via Google Maps 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rahasia Lolos Beasiswa International Summer Course di Nagoya University

Mengikuti Tes Psikologi dan Wawancara Psikolog Toyota Astra Finance (TAF) Service

Kompleksnya Manajemen Sumber Daya Perairan di Selat Bali