Setelah membaca “Guns, Germs, and Steel” aku jadi tahu bahwa...


Dunia memang luas banget, tapi bukan berarti manusia nggak bisa menjangkaunya.  I mean menjangkau tempat-tempat yang ‘jauh’ dari tempat tinggalnya saat ini. Jared Diamond, si author, berulang kali menampilkan gambar peta di halaman-halaman buku ini. Melalui buku ini, aku jadi ngerti pola persebaran manusia jaman dulu. Ternyata asal mula manusia modern itu dari Benua Afrika. Wow, it’s cool.. men. Itu terjadi puluhan ribu tahun yang lalu. Entah aku bakal kenal istilah Fertile Crescent atau tidak kalau aku nggak baca buku ini. Aku nggak ngira ternyata salah satu daerah termaju pada jaman dulu itu letaknya di Benua Asia, tepatnya di Asia Barat Daya. Nggak salah sih, secara geografis tempat ini memang subur banget waktu itu dan memungkinkan manusia untuk hidup sejahtera pada masanya. Selain itu, daerah ini juga strategis karena berada di pusat Eurasia. Mau ke Afrika Utara gampang tinggal lewat Terusan Suez, mau ke Eropa juga gampang tinggal ke barat, dan kalau ke timur juga udah ketemu daerah Asia Timur dan Tenggara.

Pelajaran sejarah di sekolah pasti menyebutkan kehidupan awal manusia dilakukan dengan cara berburu dan meramu. Sayangnya, penjelasan buku sejarah di sekolah terlalu deskriptif dan sekedar informatif aja. Nah, kerennya buku ini mampu menceritakannya dengan detail seperti novel. Meramu atau istilah lainnya gathering, aku lebih suka pakai istilah kedua karena lebih make sense aja di otak aku, ternyata juga berhubungan dengan persebaran tanaman. Misal suatu tumbuhan, katakanlah stroberi, ditemukan manusia di titik A. Manusia ini kemudian memakannya dan berpindah ke titik B. Di titik B ini tidak ditemukan tumbuhan stroberi, tapi si manusia ini pup di sini. Alhasil biji stroberi yang di makan dari titik A ikut keluar ke tanah bersama tokainya dia. Beberapa waktu kemudian, tumbuhlah stoberi di titik B. Gokil sih asli. Waktu aku baca ini aku cukup kaget loh nggak nyangka persebaran stroberi pada jaman dulu bisa dilakukan dengan metode macam luwak gini. Sebenernya hal ini make sense karena tumbuhan memang menyiapkan diri untuk itu. Bijinya memang didesain untuk bisa tahan terhadap situasi dan kondisi tidak terduga (seperti saluran pencernaan manusia maupun hewan) sampai dia menemukan lingkungan yang cocok untuk bertumbuh menjadi individu baru *tepuk tangan* Bukan hanya manusia, ini juga berlaku buat hewan. Beberapa jenis tumbuhan sengaja memproduksi buah-buahan yang lezat biar binatang tertarik buat metik dia. Kemudian si binatang ini akan membawa buah yang lezat ini ke suatu titik, memakannya, dan walla tersisalah sebongkah biji yang tergeletak di atas tanah. Dari sini biji akan bertumbuh menjadi pohon baru, dan seterusnya. Gokil!
Secara aku anak agro, ga jauh-jauh dari ngomongin soal pangan ya kan. Bicara soal agriculture pasti nyambung sama istilah domestikasi. Plant domestication, istilah yang lebih sederhana, karena aku nggak tahu kalo di Indonesia-in harusnya domestikasi tumbuhan atau domestikasi tanaman -.- Ada hal menarik yang Jared ceritain dalam buku ini. Beberapa tanaman yang berhasil didomestikasi ternyata merupakan tanaman yang secara genetik itu nggak lazim. Misalnya nih, ada sejenis gandum-ganduman yang normally dia punya biji yang ringan sehingga gampang banget lepas dari tangkai kalo ketiup angin kemudian jatuh ke tanah. Nah, dalam satu tangkai itu ada lah ya yang ‘unik’ nggak seringan teman-temannya. Akibatnya ketika angin berhembus si dia ini diem-diem aja nggak jatuh terlepas dari tangkainya. Pada suatu hari, datanglah manusia melihat si unik ini. Kemudian manusia ini memetik dan membawanya pulang buat ditanam di halaman rumahnya. Jadilah yang tumbuh terdomestikasi yang unik bukan yang mainstream. Ya habis gimana dong, manusianya nggak keburu buat lihat biji yang mainstream karena sebelum manusianya dateng mereka (biji-bijian mainstream) ini keburu menghilang dari tangkainya. Domestikasi awalnya bertujuan karena manusianya capek harus menembus hutan cuma buat nyari makan. Akhirnya mereka berpikir kenapa nggak bikin aja ya hutan mini di dekat tempat tinggal mereka, biar nggak perlu ngoyo lagi keluar masuk hutan. Aku juga menemukan satu fakta menarik dari buku ini bahwa ternyata opium pertama kali didomestikasi di Eropa Barat, wow. Tapi si Jared nggak cerita lebih jauh lagi sih soal opium ini, mungkin arah minatnya si Jared bukan di ranah opium kali ya ckck.
Poin utama buku ini sebenernya bukan sekedar ngomongin tanaman, binatang, manusia purba, dan kehidupan jaman batu aja, melainkan menjawab pertanyaan salah satu orang Papua Nugini (temennya si Jared waktu doi lagi riset di sana) mengenai: Kenapa sih orang-orang di suatu belahan bumi bisa lebih maju dari orang-orang di belahan bumi yang lain? Orang Papua Nugini ini namanya Yali. Kerennya si Jared berusaha menjawab pertanyaan temennya ini dengan cara yang nggak tanggung-tanggung. Doi riset serius sampai menghasilkan sebuah buku setebal 400an halaman dengan judul Guns, Germs, and Steel. Sebenernya aku juga heran kok bisa sih buku ini tuh menjelaskan peradaban dunia dengan begitu kerennya sampai orang yang membaca buku ini bakalan ngerti gambarannya secara utuh. Dia nggak cuman cerita tentang asal mula adanya peradaban modern di Benua Amerika, tapi dia juga cerita gimana sih Benua Australia bisa jadi kayak sekarang. Dia juga bisa tuh nyeritain kenapa orang-orang di dataran China bisa menjadi Chinese, hingga kenapa negara-negara di Eropa bisa semaju dan semodern sekarang. Nggak jarang dia juga ngomongin soal Indonesia loh. Jaman dulu banget orang-orang dari Borneo (Kalimantan) udah main sampe Madagaskar. Bahkan Jared pun heran, kok orang-orang ini bisa melewati Samudra Hindia padahal jaman segitu kan mereka belom punya kompas, teknologi kapal juga masih seperti apa sih. Tapi nyatanya mereka bisa gitu loh *so proud*
Pada jaman itu juga Indonesia punya kebudayaan yang lebih kompleks daripada Australia. Bahkan Australia ini termasuk daerah yang tertinggal karena letaknya yang bikin dia terisolasi. Kebudayaan dari Eurasia susah mau sampai sini karena barier-nya ada lautan luas dan pulau-pulaunya Indonesia. Bukan hal mudah. Nggak semudah menyebarkan kebudayaan di Benua Asia dan Eropa. Untuk menjangkau Afrika Selatan dan Namibia dari Fertile Crescent juga susah karena ada barier berupa Gurun Sahara. Termasuk juga menyebarkan kuda. Jaman dulu kuda susah loh nyampe Afrika Selatan. Waa gila si, parah keren banget asli ini buku. Beberapa paragraf yang aku tulis di atas mah ga ada apa-apanya dibandingin kalo kita baca sendiri bukunya. Bahkan bicara soal kuda, ada juga loh satu bab khusus yang menjawab pertanyaan: Kenapa sih yang didomestikasi itu kuda bukannya zebra, bukannya mereka mirip ya? Dari sini bakal ada penjelasan mengenai syarat-syarat hewan yang diternak diantaranya dia harus punya sifat yang seperti apa, konversi pakannya gimana, dia bahaya apa engga, dan lain-lain.
Aku bisa tau ada buku sebagus ini juga nggak dari ngide random tiba-tiba, tapi dari rekomendasi buku bagus yang dibikin sama Zenius. Nih kalo pingin liat ada buku apa aja klik aja ini. Zenius juga udah pernah bikin resensinya tahun 2014 nih sila dibaca di sini. Dan kalo kalian penasaran kayak apa wujud buku Guns, Germs and Steel itu ya kaya gini nih wkwkw.

Gambar diambil dari sini : https://www.goodreads.com/book/show/1842.Guns_Germs_and_Steel 
Akhirnya, semoga tulisan ini ada manfaatnya yaa :)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rahasia Lolos Beasiswa International Summer Course di Nagoya University

Mengikuti Tes Psikologi dan Wawancara Psikolog Toyota Astra Finance (TAF) Service

Kompleksnya Manajemen Sumber Daya Perairan di Selat Bali