Hari Untuk Diingat

Hujan sejak pukul 4 sore. Keluar kantor pukul 7. Masih hujan. Tidak ada tanda-tanda taxi dengan lampu menyala. Pesan grab car seharga 80 ribu lalu stuck dalam macet. Hujan reda. Masih terjebak macet. Bukan cuma bayar mahal pakai uang, sekarang aku juga harus bayar perjalanan pulangku ke kosan pakai waktu yang entah berapa lama lagi. 

Corona di mana-mana. Lama-lama aku kesal juga. Bukannya mereda, dia malah merebak. Malah semakin meneror orang-orang, lingkungan. Penyakit bukan candaan. Kesal aku dibuatnya. 

Hujan sudah reda, tapi macet seakan enggan sirna. Kesal. 

Aku benci dengar berita kematian di radio. Benci dengar kabar korban yang bertambah. 

Mau sampai rumah jam berapa? 

Sebelum kian menghujat keadaan. Hey, coba lihat. Ovomu ada saldonya buat pesan grab car yang kamu kesal itu. Jalanan macet, habis hujan, kamu duduk manis di jok belakang terlindung dan kemungkinan hujan yang bisa saja tiba-tiba turun. 

Hawa dingin kamu lalui tanpa rasa lapar. Pasti berkat satu porsi mie instan di Family Mart. 

Tapi aku masiih kesal, karena aku mengantuk. Jadi moodku kacau. Aku butuh tidur. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rahasia Lolos Beasiswa International Summer Course di Nagoya University

Mengikuti Tes Psikologi dan Wawancara Psikolog Toyota Astra Finance (TAF) Service

Kompleksnya Manajemen Sumber Daya Perairan di Selat Bali