1 Ramadhan 1441
Ada yang terluka, tapi ingin sembuh.
Ada yang kulitnya terluka tapi ingin sembuh.
Ada yang wajahnya terluka, tapi ingin sembuh.
Ada yang hatinya terluka, tapi ingin sembuh juga.
Ada yang batinnya terluka, tapi ingin sekali sembuh.
Ada yang jiwanya terluka, tapi ingin sembuh.
Ada yang berusaha memaafkan, tapi tidak bisa lupa.
Ada yang berusaha melupakan, tapi setiap anggota badannya punya ingatan.
Ada yang ingin berdamai, tapi kesulitan.
Ada yang mengobrak-abrik kenangan, tapi temukan luka-luka yang masih menganga.
Ya, ini waktunya.
Waktunya perbaiki luka-luka itu.
Menangis saja tak apa.
Persediaan air mata ada banyak.
Sebab apa orang bisa punya banyak stok air mata?
Luka macam apa yang membuatnya begitu mudah meluap?
Ada kesedihan macam apa yang tersembunyi?
Tapi, sebab tingginya dinding gengsi. Sekuat tenaga palingkan muka dengan derai air matanya.
Tak ingin satu pun mahkluk lihat betapa pilu hatinya.
Ingin sembunyikan. Dengan tawa. Tak boleh satu pun makhluk lihat betapa ringkihnya dia.
Kembali tutup semua luka mengaga. Rapikan setiap celah labirin jiwanya.
Dia punya kesedihan, tapi tidak untuk dilihatkan.
Cukup tawanya saja yang menggema, bukan isak.
Selamat, bahagia sudah membungkus rapi semua pedihnya.
Memang begitu dia. Begitu keputusannya. Menyimpan luka.
Komentar