Ramadhan, Day 2

Ada yang merasa terusik pagi tadi. Ia tau sebabnya tapi enggan membagi. Ruang kian sempit, perlu hati-hati. Lagi pula tidak lama, hanya dua jam lebih sedikit. Ketika selesai, ia coba kembali pada diri, coba buat peta emosi. Kenapa kok begitu, kenapa begini.

Tapi ada sebaris "Terima kasih". Ada seulas senyum tersungging. Sejak kemarin ia sadari. Ini yang namanya berkah Ramadhan, mungkin. 

Ada subjek yang seringnya menyakiti. Tanpa sadar melukai. Ya, bagi dia nggak terlalu punya arti.

Lain halnya dengan subjek yang gemarnya bikin nyengir. Entah anugrah atau memang tekad diri, tapi... luar biasa kharismatik. Bikin damai sisa hari. 

Sibuknya bukan untuk kejar gengsi. Ya ada sih aktualisasi diri, tapi konsisten bikin karya pakai hati. Beruntung karena banyak yang satu frekuensi. Tuh kan, memang ajaib. 

Lewat notasi dan tidak sembarang diksi, bisa bikin sugesti untuk lebih mencintai diri. Bisa menyelamatkan orang-orang rendah diri. Menormalkan hati yang sedang frustasi. Mungkin memang Tuhan tunjuk segelintir dari populasi untuk bisa bantu penduduk bumi temukan kasih. 

Terima kasih!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rahasia Lolos Beasiswa International Summer Course di Nagoya University

Mengikuti Tes Psikologi dan Wawancara Psikolog Toyota Astra Finance (TAF) Service

Kompleksnya Manajemen Sumber Daya Perairan di Selat Bali