Doni dan Adi

Jogja diguyur gerimis sedari tadi. Kami sudah maklum, asal memasuki tengah hari jarum-jarum kaca itu jatuh menghantam bumi. Kami adalah manusia-manusia yang sibuk dengan laptop di depan kami masing-masing. Lebih dari lima puluh orang bernaung di bawah atap yang sama. Ruangan ini dikelilingi jendela kaca. Kami bisa melihat bapak petugas di ruang seberang yang sedang mengetik. Kami juga bisa memandang keluar, memandangi tetes-tetes gerimis yang begitu awet.

Manusia-manusia ini dipenuhi oleh berbagai kepentingan. Ada yang memandangi gawai dengan muka ditekuk, hmm pasti dia sedang mengerjakan tugas yang begitu sulit. Ada pula yang tersenyum-senyum, mungkin sedang memaca postingan lucu. Ada yang berdiskusi, entah diskusi apa, mungkin tentang tugas, mungkin tentang yang lain.

Kami memakai tempat ini dengan damai. Kami saling menghargai, kami tidak mementingkan ego kami masing-masing. Tidak ada di antara kami yang menyetel musik keras-keras, bermain game dengan volume maksimum, mendengarkan musik dengan speaker, ataupun sekedar bercakap-cakap yang mencuri perhatian. Tidak, kami semuanya paham. Ruangan ini adalah fasilitas umum untuk digunakan bersama. Jadi, semuanya tahu diri.

Saya telah duduk di kursi ini kurang lebih selama empat jam. Selama itu pula saya berkutat dengan tugas kuliah yang nyaris membuat kepala saya pecah. Bukannya berlebihan, tapi memang kepala saya berdenyut terus. Bahkan dua teman saya sudah pulang dulan. Bisa dibilang saya sendiri meskipun nyatanya saya bersama lima puluh orang lainnya di ruangan ini.

Di depan saya ada dua orang laki-laki yang saya yakini adalah mahasiswa pasca sarjana jurusan matematika, karena itu yang terbaca dari stiker di laptopnya. Lagipula, secara tampang mereka memang bukan tampang S1. Saya hapal betul wajah-wajah anak S1, apalagi maba. Yaiyalah, orang saya sendiri mahasiswa S1 tahun pertama.

Sedari tadi mereka memang menekuni laptopnya masing-masing. Pastinya mereka sama seperti saya, bergelut dengan tugas. Laki-laki pertama, sebut saja Doni memakai kemeja panjang warna ungu dengan motif garis dan berkacamata. Sementara temannya, sebut saja Adi, memakai kemeja batik pendek warna cokelat tanpa kacamata

Yang membuat mereka mencuri perhatian saya adalah si Doni kerap kali menghadapkan wajahnya ke arah Adi sambil bertopang dagu. Bahkan Doni sempat menepuk-nepuk pundak si Ari. Saat saya mengetik tulisan ini pun mereka sedang bercakap-cakap sambil bertatapan. Menurut saya, lucu saja dua orang cowok begitu romantis *ups. 

Mungkin si Doni mulai lelah, akan tetapi Adi masih saja getol mengetik. Saking saja kuping saya tersumpal headset. Jadi yang saya dengar dari tadi hanya lagunya Linking Park bukan obrolan mereka.

Bila boleh direka-reka mungkin obrolan mereka begini:

Doni : "Bro, masih betah?"
Adi   : "Betah bro. Ada apa?"
Doni : (meletakkan tangannya di atas meja sembari menopang dagu, menatap Adi dengan manja, dengan suara seperti mau menangis)"Aku nggak kuat."
Adi   : (cuek, masih fokus ke laptop) "Bentar lagi bro."
Doni : "Tapi aku udah nggak kuat."
Adi   : "Bentar bro, nanggung."
Doni : "Aah kamu mah gitu orangnya!"
Adi   : "Iya! Iya emang aku mah gitu orangnya. Terus kenapa?"

Doni : "Tuh kan! Selalu begitu. Selalu nggak pernah ngertiin aku!"
Adi   : "Kamu yang nggak perah ngertiin aku!"
Doni : Kamu!"
Adi   : Kamu! Kamu tahu!"
Doni : "Aku bukan tahu! Aku tempe!"
Adi   : "Aku yang tahu! Kamu yang tempe!"
Doni : "Aku nggak mau tahu! Pokoknya aku maunya tempe!"
Adi   : "Nggak!! Tempenya buat aku!"
Doni : "Buat aku!"

Dan saya pun datang melerai pertengkaran,
Saya : "Gimana kalau tempe sama tahunya sama-sama dibagi dua?"
Doni+Adi: "Nggak mau!!"
(*lho?)

Untung saja pertengkaran itu hanya ada di dalam bayangan saya. Tidak usah khawatir, mereka akur-akur saja kok. Sekarang malah mereka sedang menatap layar gawai yang sama. Kurang akur apa coba?

Rupanya langit kehabisan tangisnya. Hujan berhenti di sore hari. Pertanda bahwa saya harus segera enyah dari ruangan ini. Lagipula, sudah banyak orang berseliweran keluar. Bumi memang tak lagi diguyur hujan, namun langit masih pucat seakan masih menyimpan jutaan kubik hujan yang siap turun entah kapan entah di mana.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rahasia Lolos Beasiswa International Summer Course di Nagoya University

Mengikuti Tes Psikologi dan Wawancara Psikolog Toyota Astra Finance (TAF) Service

Kompleksnya Manajemen Sumber Daya Perairan di Selat Bali