Ngapain Kuliah di Perikanan?
Hampir semua anak-anak di dunia bercita-cita menjadi dokter. Bila anak kecil ditanya ingin jadi apa, mayoritas akan menjawab dokter. Selebihnya menjawab ingin jadi pilot, polisi, insinyur, astronot, presiden, hingga tokoh-tokoh fiktif yang biasa mereka lihat. Hampir tidak ada anak-anak yang ingin menjadi sarjana pertanian, peternakan, atau perikanan. Hingga detik ini, kluster agro belum menjadi idola anak-anak. Pekerjaan sebagai petani, peternak, dan nelayan belum dianggap sebagai pekerjaan yang memiliki nilai prsetise tinggi.
Namun, tahukah anda? Sektor agro memiliki peran yang sangat krusial di muka bumi ini. Pangan menjadi issue dunia yang selalu hangat. Pangan adalah sumber kehidupan yang mampu menggerakkan suatu peradaban. Karena segala hal-hal luar biasa bisa lahir makanan. Logika sederhananya adalah setiap manusia membutuhkan makan sebagai sumber energi. Energi itu nantinya digunakan untuk berpikir dan bekerja. Hasil dari proses berpikir dan bekerja itulah yang akan menggerakkan roda peradaban. Jadi, dapat disimpulkan bahwa hidup matinya suatu peradaban terletak pada sektor pangan, yang artinya sektor agro memiliki peranan yang sangat krusial.
Selama masa orde baru, Indonesia dikenal dunia sebagai negara agraris yang besar karena mampu melakukan swasembada beras. Ya, pada saat itu pembangunan Indonesia berfokus pada satu hal: pertanian. Semua sekor di dalam pemerintahan dirancang guna menyokong program utama yaitu swasembada beras. Karena dilakukan secara fokus dan konsisten, kerja keras bangsa pun membuahkan hasil. Pada tahun 1984 Indonesia berhasil melakukan swasembada beras. Akan tetapi, kesuksesan ini belum merata pada seluruh sektor agro. Pada waktu itu pemerintah hanya berfokus pada beras. Padahal sektor agro bukan melulu tanaman padi. Masih ada hutan, peternakan, perkebunan, dan laut.
Semua sepakat bahwa Indonesia mempunyai laut yang sangat luas yaitu kurang lebih 5,8 juta km persegi. Di dalam area ini tersebar 17.540 buah pulau besar dan kecil (http://www.wpi.kkp.go.id/). Namun, sampai detik ini Indonesia masih belum mampu memanfaatkannya secara optimal. Mengapa? Karena pola pikir warga negaranya yang masih terfokus ke darat. Hal ini menjadi penghambat utama kita untuk bisa memanfaatkan potensi laut yang begitu luar biasa.
Para sarjana muda, mayoritas masih belum menyadari bahwa bangsa Indonesia sejatinya adalah bangsa pelaut. Pun demikian dengan para pemangku kebijakannya. Pembangunan masih berorientasi ke daratan. Laut masih menjadi sesuatu yang asing dan bukan menjadi 'kampung halaman'. Setiap tahun, ribuan sarjana muda lulus dari perguruan tinggi. Mereka berbondong-bondong melamar pekerjaan di perusahaan atau mengikuti tes menjadi pegawai negeri. Dan mayoritas pekerjaan itu adalah pekerjaan-pekerjaan di darat.
Memang bukan hal yang mudah untuk serta merta merubah pola pikir yang sudah telanjur tertanam kuat. Diperlukan waktu yang panjang untuk bisa menjadi bangsa pelaut yang sesungguhnya. Tak perlu jauh-jauh melihat lingkup negara yang luas. Coba saja lihat dalam sebuah universitas, jumlah pendaftar fakultas atau jurusan perikanan sangatlah jauh lebih sedikit bila dibandingkan dengan jurusan teknik, kedokteran, dan ekonomi. Ini menandakan minimnya minat untuk mempelajari dunia perikanan. Padahal, potensinya sangat besar.
Kuliah di perikanan bukan 'hanya' mempelajari ikan. Semua biota air akan dipelajari pada jenjang sarjana meskipun hanya gambaran luarnya saja. Perlu diketahui, 'ikan saja' itu jumlahnya sangat banyak. Indonesia saja memiliki kurang lebih 8.500 jenis ikan (http://www.iktiologi-indonesia.org/jurnal/2-2/06_0001.pdf). Kemungkinan masih banyak spesies yang belum teridentifikasi. Hal ini menjadi lahan empuk bagi para peneliti yang ingin menemukan spesies baru. Selain ikan, kuliah di perikanan juga mempelajari tentang lingkungan perairan, kelestarian sumber dayanya, sistem perekonomiannya, kehidupan sosial masyarakat pesisir, hingga kebijakan pemerintah di bidang perikanan.
Lulusannya nanti mau jadi apa? Tenang saja. Lapangan kerja bagi sarjana perikanan sangat luas kok. Kita bisa jadi PNS di Kementrian Kelautan dan Perikanan atau di Dinas Kelautan dan Perikanan, peneliti, dosen, wirausaha, nelayan, pembudidaya, hingga menjadi aktivis. See, pokoknya sarjana perikanan pantang nganggur!
Komentar