Organisasi itu (ternyata) menyenangkan bro!

Dahulu aku terlalu takut dan terlalu memenjarakan diriku sendiri. Selain itu, aku juga kurang memiliki kesempatan untuk berorganisasi. Aku kecil. tidak paham apa-apa mengenai organisasi. aku belum terbiasa dengan istilah organisasi. Aku bahkan tidak memiliki bayangan tentang bagaimana organisasi itu.

Dari TK hingga SMA aku hanya tahu bahwa kegiatan pelajar adalah belajar. Aku mulai tahu bahwa ada kegiatan lain selain sekolah misalnya les dan ekstrakurikuler pada saat SD. Aku sangat suka mengikuti les. Aku merasa bisa belajar hal baru di luar sekolah, bertemu orang baru, teman baru, informasi baru, dan suasana baru.

Di masa sekolah, aku tidak menemukan kegiatan ekstrakurikuler yang benar-benar sreg di hati. Aku tidak sempat menjiwai sebuah kegiatan ekskul hingga tuntas. Aku hanya mencicipi sedikit, merasakan tidak enaknya, lalu aku meninggalkannya.

Waktu SD, sekolah lamaku sempat mewajibkan siswanya mengikuti kegiatan pramuka. Sebenarnya menyenangkan, kalau saja aku bisa melengkapi atributnya tepat waktu. Pada saat itu, keluargaku berada pada sebuah titik ekstrem dalam permasalahan yang begitu kompleks. Saat itu usiaku delapan tahun. Itu adalah titik di mana kehidupanku berubah seratus delapan puluh derajat. Dari yang sebelumnya manis, lalu aku dipaksa merasakan kepahitan yang bertubi-tubi. Ya, boleh dibilang itu salah satu saat tergelap dalam hidupku.

Entah bagaimana alurnya, aku tidak begitu paham. Yang aku ingat, semuanya berubah. Kehidupanku mengalami degradasi yang luar biasa. Tak ada lagi mobil di halaman. Tak ada lagi jalan-jalan sampai aku terlelap di jok belakang, tak ada lagi. Bahkan hal biasa seperti pergi ke pom bensin dan menyusuri ruas tol tidak lagi aku temui. Yang lebih menyedihkan adalah saat menonton Doraemon di Minggu pagi saja menjadi hal yang sangat aku tunggu.

Pada saat yang bersamaan, sekolahku tidak peduli. Mereka terus mendesak dan merongrong. Segala atribut harus dilengkapi segera. Aku kecil, tidak bisa apa-apa ketika tagihan datang menghampiri setiap hari. Karena merasa tidak tahan, akhirnya aku memilih jalan untuk menghindar dengan cara... bolos! Orang tua tidak bisa memarahiku karena mereka juga tidak bisa menghentikan tagihan-tagihan yang datang setiap hari itu dalam sekejap mata.

Dari situ aku mulai mengunci mulutku. Sejak itu aku merubah diri menjadi pemurung akibat pahit yang harus aku rasakan di usia itu. Pahit dan perih itu perlahan terobati saat aku 'hijrah'. Harapan-harapan dan mimpi-mimpi baru kembali dipupuk. Aku mulai bersemangat lagi untuk... belajar! Hanya itu. Akupun memompa semangatku setiap hari, melahap banyak buku, dan menghabiskan banyak soal latihan setiap hari. Hasilnya, tidak terlalu buruk.

Beranjak remaja, tepatnya pada saat SMP, iseng-iseng aku mengikuti jejak ibu. Ibuku adalah PMR sejati. Akupun mengikuti rangkaian kegiatannya dan aku menghentikan langkahku di tengah-tengah karena aku tidak menemukan teman yang solid. Aku mencoba ikut pramuka (lagi), namun lagi-lagi aku merasa tidak sreg. PKS sempat aku jajaki, namun hanya ujungnya saja. Begitulah, akhirnya waktu SMP hanya habis oleh kegiatan akademik dan bermain-main saja.

Masa SMA kupandang sebagai masa yang hanya beda tipis dari SMP. Semuanya sama dan hambar. Lagi-lagi aku hanya menyita waktuku dengan belajar dan bermain (saja). Namun, kelulusan menjadi titik balik dalam hidupku. Aku sangat bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk menyadari bahwa aku mulai benar-benar 'mengeja' kata organisasi. Dengan pengalaman nol besar akupun memberanikan diri untuk berkecimpung di dunia ini.

Motivasi awal adalah mencari jaringan sebanyak-banyaknya sebagai sarana promosi terkait bisnis yang aku jalani pada waktu itu. Namun, seiring berjalannya waktu, bisnis itu mandeg dan akupun vacum atas alasan sibuk kuliah. Perlahan, aku mulai menjalani organisasi yang aku ikuti dengan ikhlas tanpa mengharap apa-apa. Aku hanya bermodal kemauan untuk bekerja sama, belajar hal baru, menjalin pertemanan, bersosialisasi, melatih diri untuk bermanfaat, dan memberikan kontribusi sebisaku.

Kini, aku mulai merasakan dampaknya. Aku mulai enjoy dan menyukainya. Jujur, aku sangat menikmatinya dan mulai jatuh cinta dengan dunia ini. Aku senang sekali karena lingkaran pertemananku menjadi lebih luas. Aku senang karena disibukkan oleh hal-hal yang bermanfaat bagi aku ke depannya. Aku bahagia karena aku telah melakukan sesuatu bagi mesyarakat di sekitarku. Dalam hal ini, statusku sebagai mahasiswa tentu berada di lingkungan kampus yang mayoritas isinya mahasiswa.

Justru kini aku ingin menambah organisasi yang aku ikuti. Dunia organisasi berbeda dengan dunia akademis di ruang kelas. Dulu aku berpikir bahwa duniaku adalah dunia akademis saja. Aku mengira itulah dunia yang paling membuatku nyaman. Namun, setelah aku bukan hanya 'mencicipi' organisasi namun berusaha menjiwainya aku merasa duniaku tidak sesempit itu. Duniaku tidak terbatas pada ruang diskusi sempit. Aku jadi sadar bahwa aku tidak hanya bisa melontarkan isi pikiranku semata, melainkan juga bisa memberikan kontribusi yang nyata bagi masyarakat di sekitarku.

Inilah bentuk kebaikan Tuhan yang ditunjukkan padaku secara nyata. Sebuah kesempatan untuk mengeksplor diriku demi mematahkan semua jeruji yang membuatku terpenjara bertahun-tahun. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rahasia Lolos Beasiswa International Summer Course di Nagoya University

Mengikuti Tes Psikologi dan Wawancara Psikolog Toyota Astra Finance (TAF) Service

Kompleksnya Manajemen Sumber Daya Perairan di Selat Bali