Ada Dua Dia
| Sumber : http://gratitudeonline.com. |
Pukul dua puluh tiga titik tiga puluh. Seorang mahasiswi berdiri di tepi jalan. Wajahnya kuyu sudah tertutup minyak dan keringat. Badannya lengket keringat dan sangat ingin mandi. Dia menoleh ke kiri dan ke kanan, memastikan tidak ada kendaraan yang lewat kemudian menyeberang jalan. Gang itu sudah sepi. Hanya ada warung Burjo yang buka di jam segini. Ia hanya mendengar suara sepatunya beradu dengan aspal. Lampu perempatan menyala terang sekali, membuat penampakan bayangannya semakin tegas. Ia berjalan sendirian, menggendong ransel berat berisi laptop dan buku pelajaran. Tidak ada kuliah yang selesai semalam ini, ia sendiri yang mengada-adakan kegiatan rapat sampai jam segini.
Ia telah sampai di depan pintu yang terkunci dari dalam. Sejenak ia merogoh saku dan membuka grup line,
Halooo... masih ada yang bangun dan bisa bukain pintu?
Selang beberapa menit, penghuni kos yang lain membalas chatnya,
Okee.. tunggu yaa..
Setelah masuk kamar dan menyalakan kipas, ia mengambil handuk kemudian mandi. Badannya sudah segar dan wangi.
Wait....! Ada kesalahan dalam adegan ini. Yang benar adalah:
Setelah masuk kamar dan menyalakan kipas, ia keluar lagi dari kamarnya. Ia menyusuri lorong kosan dan berhenti di depan pintu teman kosnya yang lain. Temannya sedang asyik menonton film anime di laptop. Ia masuk menyelonong dan cerita panjang lebar tentang harinya yang melelahkan hingga waktu menunjukkan pukul dua pagi. Baru kemudian ia kembali ke kamarnya, mengambil handuk baru kemudian membersihkan diri di kamar mandi. Setelah sholat, ia membuka laptop dan meniatkan diri untuk belajar. Akan tetapi, baru membaca satu dua kalimat ia pun jatuh terlelap ke dalam mimpinya.
Sebenarnya sebelum terlelap ia sudah menyetel alarm di ponsel dan menyalakan jam weker. Namun, pukul empat tepat kedua piranti tersebut berbunyi dan ia tersadar sejenak. Dengan masih terkantuk, ia menekan tombol off sehingga mimpinya berlanjut. Dan inilah kelanjutan kisah mimpinya...
Ia sedang memakai mukena untuk mendirikan ibadah sholat Subuh. Setelah mengucap salam, ia mandi dan bersiap kuliah. Sesampainya di kampus ia mengambil posisi di bangku paling depan. Dengan semangat ia mencatat semua penjelasan dosen. Slide demi slide berganti, ia mulai curiga karena ada hal yang aneh. Ia ingat bahwa hari ini ia ada kuliah mata kuliah X dengan dosen B, namun ini mengapa ia malah kuliah Z dengan dosen A. Ia pun mengecek hari di ponselnya dan mencocokkannya dengan jadwal kuliah. Benar saja, tidak sinkron. Lalu ia keluar kelas. Seketika lorong gedung kuliahnya menjadi pasar yang ramai. Ia berusaha keluar dari kerumunan pembeli yang ramai. Yess! Berhasil. Tepat sekali sebuah becak berhenti di depannya. Ia pun berseru kepada tukang becak untuk mengantarkannya ke daerah S. Setelah membayar ongkos becak ia pun segera naik ke kamarnya di lantai dua. Ia hampir terlonjak karena mendapati ada sesosok gadis tertidur pulas di ranjangnya. Perlahan ia mendekatinya dan betapa kagetnya ia mendapati bahwa gadis itu adalah.. dirinya sendiri. Sontak ia pun menggoyangkan tubuh gadis itu. Lalu dunia berputar dan ia merasa posisinya berpindah. Ia merasa sedang tidur pulas tapi tidurnya diganggu. Ia pun membuka mata dan mendapati kamarnya berantakan seperti malam hari ketika ia hendak tidur. Dengan masih mengantuk, ia meraih ponsel dan melihat pukul berapa sekarang.
Seketika ia langsung bangun dari kasur dan bergegas mandi karena waktu sudah menunjukkan pukul setengah sembilan pagi. Pukul sembilan tepat ia harus masuk kuliah X dengan dosen bapak B. Beruntungnya ia karena jarak kampus dengan kosannya hanya tujuh menit jalan kaki dan bapak B selalu memberikan toleransi keterlambatan selama tiga puluh menit. Akhirnya, pukul sembilan ttik sembilan ia sudah duduk di kelas yang tepat pada mata kuliah dan dosen yang sinkron dengan jadwal kuliahnya hari ini.
Komentar