Rindu Rumah, Pulanglah

Sewaktu masih abege dan labil, saya sangat yakin bahwa saya akan menjadi lebih bahagia jika saya bisa keluar dari rumah orang tua saya, tinggal sendiri, mengatur hidup saya sesuka saya, dan bebas dari aturan orang tua saya. Keyakinan itu saya pegang teguh sampai saya benar-benar lulus dari sekolah menengah. Itu adalah kali pertama saya benar-benar tinggal jauh dari rumah. Dalam rentang waktu yang cukup lama saya benar-benar merasakan bebasnya keluar dari rumah, terbebas dari aturan orang tua yang mengatakan saya harus begini dan begitu.
Saya masih ingat betul bagaimana antusiasnya saya melihat hiruk-pikuk kota Jogja dengan ratusan kendaraan yang lalu-lalang setiap saat. Saya membayangkan saya akan mendesain hidup saya sendiri dengan aturan yang ingin saya terapkan. Saya akan bebaskan diri saya atas segala kewajiban yang ditetapkan orang tua saya. Saya benar-benar merasa bebas, saat itu.

Setahun berlalu, saya semakin menyibukkan diri dengan hal-hal yang ingin saya jalani. Dalam pikiran saya, pulang hanyalah pemborosan waktu, tenaga, dan tentu saja uang. Biaya pulang-pergi sebesar 140.000 rupiah bisa saya gunakan untuk bertahan beberapa hari di kos. waktu 8 jam pulang-pergi itu bisa digunakan untuk mengerjakan hal lain yang menurut saya jauh lebih produktif. Dan tenaga yang terbuang di jalan merupakan bentuk kemubaziran. Itu adalah pikiran pendek saya di penghujung usia belasan. 

Tahun kedua saya di Jogja, dengan kesibukan yang kian padat menjadikan saya semakin jarang pulang. Namun, apa yang terjadi? Ternyata, semakin lama, saya semakin sulit mengatur hidup saya sendiri. Saya kesulitan mengatur waktu. Waktu untuk istirahat, makan, mencuci pakaian, membersihkan kamar, mengerjakan tugas, bermain dengan teman, untuk belajar, untuk ibadah, bahkan untuk tepat waktu datang di kelas. Saya benar-benar kelimpungan mengurus hidup saya sendiri Padahal saya mempunyai tanggungan untuk mengurus hal-hal lainnya. 

Saya merasa ketidakteraturan dalam hidup saya sudah melampaui batas. Saya suka kebebasan. Tidak, saya mencintai kebebasan. Tapi kali ini benar-benar sudah terlalu jauh. Bahkan hubungan saya Tuhan pun menjadi tidak karuan. Saya menjadi sangat ringan ketika meninggalkan satu kewajiban. Hal ini berdampak pada gugurnya kewajiban-kewajiban saya yang lain. Dan parahnya, saya tidak merasa berdosa. Ketika saya mencoba untuk memperbaiki ini sendiri, saya tidak bisa. saya gagal membangun kembali koneksi saya dengan Tuhan. Saya benar-benar kehilangan arah.

Akhirnya, satu langkah kecil yang saya ambil adalah: pulang. Lima hari di rumah, bertemu ibu, keluarga, alhamdulillah mampu memperbaiki keadaan. Semua kebaikan yang diberikan oleh ibu saya mampu membuat saya tersadar kembali. Seperti mengisi ulang semua nilai-nilai yang perlahan lenyap, saya kembali lagi ke Jogja sebagai anak ibu yang menuntut ilmu. Sebagai hamba Allah yang wajib shalat lima waktu sehari. Serta sebagai anak perempuan yang sedang dalam proses menjadi dewasa.

Boleh percaya boleh tidak, pulang adalah obat terbaik bagi semua anak rantau yang mulai kehilangan cahaya hidupnya. Percayalah, rumah di mana ibumu berada adalah tempat terdamai yang bisa kamu raih.

Sumber: http://orig08.deviantart.net/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rahasia Lolos Beasiswa International Summer Course di Nagoya University

Mengikuti Tes Psikologi dan Wawancara Psikolog Toyota Astra Finance (TAF) Service

Kompleksnya Manajemen Sumber Daya Perairan di Selat Bali