Balada Perikanan Tangkap (1)
Niat awal baca buku-buku tentang perikanan tangkap buat ngisi kekosongan otak jelang ujian tengah semester. Mata kuliah Teknik Penangkapan Ikan yang sudah berjalan selama beberapa minggu di kelas berisi kegiatan mendengarkan dosen dan menonton layar slide power point. Sebagian waktu kuliah dua SKS dipake buat nyatet biar nggak ngantuk, hilang konsentrasi dan hilang kesadaran dan sebagian yang lain dipakai untuk berjuang menahan hasrat ingin ngerumcpi .__. Bagaimanapun bapak dosen adalah orang yang lebih tua dan secara norma budaya harus dihormati dengan cara mendengarkan sebaik mungkin pada saat beliau berbicara supaya tidak kualat karena kuliah merupakan sarana menuntut ilmu yang katanya orang kalo lagi menuntut ilmu malaikat pada mendoakan jadi makanya daripada kualat mendingan diem aja dengerin.
Bicara soal penangkapan ikan, sebenernya sudah mulai intens dibahas sejak semester dua kemaren dalam mata kuliah Dasar-dasar Penangkapan Ikan lalu pada semester lima dilanjutin sama mata kuliah lanjutannya yaitu Teknik Penangkapan Ikan. Pada prinsipnya, pokok bahasannya sama yaitu ngebahas soal dunia penangkapan ikan mulai dari macam-macam alat tangkap, penggolongan dan klasifikasi alat tangkap, cara pengoperasian alat tangkap, macam-macam hasil tangkapan, dampak penggunaan alat tangkap, dan perkembangan alat tangkap ikan. Nah, untuk menambah wawasan aku baca dah itu buku-buku biar otak yang keseringan dipake mikir event ini keupdate dikit.
Sumber daya perikanan adalah sumber daya yang dapat diperbarui. Karena ikan adalah makhluk hidup yang punya siklus hidup, bisa bereproduksi dan melakukan regenerasi populasinya. Namun, 'dapat diperbarui' itu bukan berarti nggak bisa habis kalau pemanfaatannya lebay beud gitu. Ya, pada suatu titik sumber daya perikanan juga bisa punah. Dan punahnya satu spesies dalam ekosistem mampu merusak keseimbangan ekosistem secara keseluruhan. Ngeri kan! Namun, di lain sisi sumber daya perikanan jika dibiarkan saja tanpa diambil manfaatnya hanya akan mati sia-sia karena mayoritas ikan umurnya pendek lalu mati dan membusuk di perairan. Sementara Tuhan saja memperbolehkan manusia untuk memetik manfaat dari alam selama tidak melampaui batas.
Nah, di sinilah letak permasalahan yang membuat hati ini galau berkepanjangan sampai nggak bisa tidur *alay detected*
Jeritan Hati Ikan-Ikan Bebas
Ikan adalah makhluk hidup yang memiliki hak hidup sama seperti manusia, hewan, dan tumbuhan, serta mikroorganisme yang juga hidup di atas bumi yang sama ini. Ikan berhak bernafas menggunakan alat pernafasannya yang memang diperuntukkan bagi lingkungan air. Ikan bernafas menggunakan insang, anak SD pun tahu. Di wilayah perairan yang menutupi dua pertiga bagian bumi ini ikan bebas berenang ke mana pun, bahkan melintasi batas negara dan benua tanpa harus mengurus visa. Ikan hidup sangat sederhana. Visi besar dalam hidup ikan adalah mampu bertahan hidup dalam berbagai situasi dan kondisi serta mampu menghasilkan keturunan untuk melestarikan jenisnya. Setelah itu, jika pun dia harus mati dia akan mati dengan senang dan dalam damai. Mungkin ia akan mati sambil tersenyum sembari berkata, "Tugasku di muka bumi ini sudah selesai, aku akan mati dengan tenang.... :)" *abaikan ini mungkin tidak mungkin*
Dalam diri seekor ikan sudah ada naluri untuk mencari makan. Sejak ikan menetas dan menjadi larva atau juvenil ikan sudah mampu berenang dan mencari makan sendiri yang sesuai dengan bukaan mulutnya. Ikan memang mandiri dan ia harus bisa mandiri agar bisa tetap hidup. Sebenarnya, dari sejak dikeluarkan dari tubuh induknya ikan-ikan ini sudah memulai perjuangan hidup. Bagi mayoritas ikan yang fertilisasi atau pembuahannya dilakukan di luar tubuh induk (eksternal), si telur-telur ini harus bisa stay tanpa terseret arus air untuk dibuahi spermatophor agar bisa menjadi individu ikan. Pada saat menjajaki fase juvenil ikan-ikan sangat rawan mati juga, bisa dimakan predator bisa pula hanyut, hilang kabar, lalu tau-tau tinggal sejarah sebelum dia puber.
Sebenarnya, ekosistem ini sudah seimbang bila dibiarkan begitu saja. Ikan-ikan hidup tentram, plankton-plankton melayang-layang, dan para predator alami tetap siaga. Ketika mencapai masa pubertas, organ-organ reproduksi ikan mulai berkembang dan mereka pun mulai mengenal cinta dan lawan jenisnya. Ketika tiba masa kawin (memijah), semesta pun mendukung. Si jantan akan melakukan berbagai aksi untuk menarik perhatian si betina. Bahkan bisa terjadi perkelahian diantara pejanjan untuk merebutkan seekor betina. Ketika si betina mulai terpikat mereka pun melangsungkan proses pemijahan yang disaksikan oleh alam semesta. Dan ketika generasi ikan yang baru telah lahir, maka sempurnalah hidup seekor ikan.
Siklus itu berlangsung selama jutaan tahun hingga pada suatu masa datanglah predator lain yang lebih buas dari predator manapun, manusia. Manusai diciptakan mempunyai akal yang dapat berfungsi dengan baik. Dengan berbagai cara mulai dari yang paling sederhana manusia pun melakukan kegiatan menangkap ikan. Diawali dengan memakai tangan, kemudian tombak, pancing sederhana, jaring sederhana, hingga alat-alat modern yang memanfaatkan teknologi terkini, hidup ikan yang mulanya damai mulai terusik.
Ketika sedang berenang-renang sambil mencari makan di tepi sungai, tiba-tiba ada sepasang tangan yang menangkapnya. Ikan itu diangkat dari air sementtara organ pernafasannya tidak bisa berfungsi di udara. Akhirnya ikan itu tidak bisa bernafas, mulai kehabisa oksigen, menggelepar-gelepar, kemudian mati. Terkadang ia masih menerima perlakuan yang lebih kejam yakni dibunuh ketika sampai di darat. Badannya dimutilasi, organ dalamnya dipreteli, lalu ia dimasak. Kadang dimasukkan ke dalam panci berisi air mendidih, kadang ia dibakar di atas api yang menyala-nyala, kadang ia digoreng di dalam minyak panas. Hingga badannya yang licin dan berlendir menjadi kering dan krispi bahkan terkadang sampai menghitam karena gosong.
Lain lagi dengan alat tangkap berupa tombak yang biasa digunakan oleh manusia purba. Ini lebih tragis dari penangkapan menggunakan tangan. Tombak adalah benda tajam karena ujung tongkatnya berupa mata tombak yang runcing. Dengan alat ini, bukan hanya ikan yang berenang di tepi perairan saja yang menjadi korban, namun bisa saja ikan-ikan yang sedang jalan-jalan sore di tengah sungai terkena benda ini. Sedang asyik-asyik berenang melawan arus sungai, tiba-tiba ada benda tajam menghujam tubuhnya. Darah pun mengucur keluar dan jantungnya berhenti berdetak. Ikan itu mati dengan tragis.
Ketika manusia menemukan pancing, lagi-lagi ikan ini tertipu oleh umpan yang dipasang pada mata pancing. Ikan yang memiliki naluri untuk mencari makan tentu saja akan riang gembira melihat makanannya menjuntai bebas di kolom perairan. Namun, naas sekali ketika makanan itu masuk ke mulutnya saat itu pula ujung mata pancing yang tajam menusuk langit-langit mulutnya. Lalu ketika tali pancing ditarik ke udara, ikan akan kesulitan bernafas, ia menggelepar-gelepar, kehabisan oksigen, berdarah karena terluka, dan berakhir sudah hidupnya. Tapi, ada beberapa ikan yang tidak cepat mati ketika diangkat dari air, tapi tetap saja ia akan mati dam berakhir di piring saji.
Bubu bisa menjebak ikan-ikan sehingga mereka bisa masuk dan tidak bisa keluar. Purse seine tak beda jauh, segerombol ikan yang jumlahnya banyak sekali dikurung lalu tiba-tiba bagian bawahnya mengerucut, ikan terjebak tidak bisa keluar, dan berpindah tempat dari laut ke atas lantai kapal. Gillnet menjerat ikan tepat di bagian insang sehingga ikan terjerat dan sedikit sekali yang bisa melepaskan diri. Kemudian trammel net membelit tubuh ikan membuat ikan semakin sulit keluar. Trawl dan teman-temannya bahkan menumpas apa saja yang dilewatinya, dengan bantan kapal yang berjalan sekian knot ikan-ikan itu terseret ke dalam kantong yang makin mengerucut. Pancing huhate lebih kejam lagi, sudah dikelabui oleh percikan air mesin kapal, adanya umpan hidup, tersangkut mata pancing, dan seketika dilemparkan melintasi udara dan mendarat dengan mental ke dek kapal.
Mayoritas ikan suka terhadap cahaya, ia akan mendekati cahaya secara alamiah karena pengelihatan ikan memang lebih baik daripada manusia. Di dalam air yang keruh sekalipun jarang pandang seekor ikan lebih baik dalam menangkap cahaya. Sifat ikan yang naif ini dimanfaatkan oleh manudsia dengan menggunakan cahaya lampu hingga ribuan watt untuk menjebak ikan-ikan. Ketika lagi seneng-seneng ngelihatin lampu tiba-tiba jaring yang warnanya sengaja disamakan dengan warna air untuk mengelabui ikan-ikan itu terangkat, mereka terjebak lagi.
Usaha penangkapan yang dilakukan oleh manusia ini tidak hanya berdampak pada sau individu ikan saja melaikan pada populasi ikan yang jumlahnya mencapai jutaan. Apabila penangkapan ini terus menerus dilakukan maka ikan pun lama-kelamaan akan habis. Mereka akan tertangkap sebelum sempat bereproduksi. Ikan-ikan betina yang telah matang gonad dan tertangkap akan kehilangan kesempatan untuk mengeluarkan gonadnya, begitupun ikan jantan yang telah matang juga spermatophorenya. Mereka semua akan mati dan berakhir di piring saji.
Belum lagi dampaknya bagi keseimbangan ekosistem. Jika dalam rantai makanan ada satu saja populasi yang musnah maka akan terjadi kekacauan dalam rantai makanan hingga jaring-jaring makanan. Jika ekosistem sudah tidak seimbang, siap-siap saja melihat bumi yang juga akan berduka.
Catatan: Tolong jangan dipikir terlalu dalam apalagi sampe rambut rontok, jangan!
(Bersambung)
Bicara soal penangkapan ikan, sebenernya sudah mulai intens dibahas sejak semester dua kemaren dalam mata kuliah Dasar-dasar Penangkapan Ikan lalu pada semester lima dilanjutin sama mata kuliah lanjutannya yaitu Teknik Penangkapan Ikan. Pada prinsipnya, pokok bahasannya sama yaitu ngebahas soal dunia penangkapan ikan mulai dari macam-macam alat tangkap, penggolongan dan klasifikasi alat tangkap, cara pengoperasian alat tangkap, macam-macam hasil tangkapan, dampak penggunaan alat tangkap, dan perkembangan alat tangkap ikan. Nah, untuk menambah wawasan aku baca dah itu buku-buku biar otak yang keseringan dipake mikir event ini keupdate dikit.
Sumber daya perikanan adalah sumber daya yang dapat diperbarui. Karena ikan adalah makhluk hidup yang punya siklus hidup, bisa bereproduksi dan melakukan regenerasi populasinya. Namun, 'dapat diperbarui' itu bukan berarti nggak bisa habis kalau pemanfaatannya lebay beud gitu. Ya, pada suatu titik sumber daya perikanan juga bisa punah. Dan punahnya satu spesies dalam ekosistem mampu merusak keseimbangan ekosistem secara keseluruhan. Ngeri kan! Namun, di lain sisi sumber daya perikanan jika dibiarkan saja tanpa diambil manfaatnya hanya akan mati sia-sia karena mayoritas ikan umurnya pendek lalu mati dan membusuk di perairan. Sementara Tuhan saja memperbolehkan manusia untuk memetik manfaat dari alam selama tidak melampaui batas.
Nah, di sinilah letak permasalahan yang membuat hati ini galau berkepanjangan sampai nggak bisa tidur *alay detected*
Jeritan Hati Ikan-Ikan Bebas
Ikan adalah makhluk hidup yang memiliki hak hidup sama seperti manusia, hewan, dan tumbuhan, serta mikroorganisme yang juga hidup di atas bumi yang sama ini. Ikan berhak bernafas menggunakan alat pernafasannya yang memang diperuntukkan bagi lingkungan air. Ikan bernafas menggunakan insang, anak SD pun tahu. Di wilayah perairan yang menutupi dua pertiga bagian bumi ini ikan bebas berenang ke mana pun, bahkan melintasi batas negara dan benua tanpa harus mengurus visa. Ikan hidup sangat sederhana. Visi besar dalam hidup ikan adalah mampu bertahan hidup dalam berbagai situasi dan kondisi serta mampu menghasilkan keturunan untuk melestarikan jenisnya. Setelah itu, jika pun dia harus mati dia akan mati dengan senang dan dalam damai. Mungkin ia akan mati sambil tersenyum sembari berkata, "Tugasku di muka bumi ini sudah selesai, aku akan mati dengan tenang.... :)" *abaikan ini mungkin tidak mungkin*
| Ikan Buntal sumber : http://ngulik.co/ |
Sebenarnya, ekosistem ini sudah seimbang bila dibiarkan begitu saja. Ikan-ikan hidup tentram, plankton-plankton melayang-layang, dan para predator alami tetap siaga. Ketika mencapai masa pubertas, organ-organ reproduksi ikan mulai berkembang dan mereka pun mulai mengenal cinta dan lawan jenisnya. Ketika tiba masa kawin (memijah), semesta pun mendukung. Si jantan akan melakukan berbagai aksi untuk menarik perhatian si betina. Bahkan bisa terjadi perkelahian diantara pejanjan untuk merebutkan seekor betina. Ketika si betina mulai terpikat mereka pun melangsungkan proses pemijahan yang disaksikan oleh alam semesta. Dan ketika generasi ikan yang baru telah lahir, maka sempurnalah hidup seekor ikan.
![]() |
| Ekosistem karang dengan biota laut yang hidup berdampingan sumber: https://tausendundeineblume.files.wordpress.com |
Ketika sedang berenang-renang sambil mencari makan di tepi sungai, tiba-tiba ada sepasang tangan yang menangkapnya. Ikan itu diangkat dari air sementtara organ pernafasannya tidak bisa berfungsi di udara. Akhirnya ikan itu tidak bisa bernafas, mulai kehabisa oksigen, menggelepar-gelepar, kemudian mati. Terkadang ia masih menerima perlakuan yang lebih kejam yakni dibunuh ketika sampai di darat. Badannya dimutilasi, organ dalamnya dipreteli, lalu ia dimasak. Kadang dimasukkan ke dalam panci berisi air mendidih, kadang ia dibakar di atas api yang menyala-nyala, kadang ia digoreng di dalam minyak panas. Hingga badannya yang licin dan berlendir menjadi kering dan krispi bahkan terkadang sampai menghitam karena gosong.
Lain lagi dengan alat tangkap berupa tombak yang biasa digunakan oleh manusia purba. Ini lebih tragis dari penangkapan menggunakan tangan. Tombak adalah benda tajam karena ujung tongkatnya berupa mata tombak yang runcing. Dengan alat ini, bukan hanya ikan yang berenang di tepi perairan saja yang menjadi korban, namun bisa saja ikan-ikan yang sedang jalan-jalan sore di tengah sungai terkena benda ini. Sedang asyik-asyik berenang melawan arus sungai, tiba-tiba ada benda tajam menghujam tubuhnya. Darah pun mengucur keluar dan jantungnya berhenti berdetak. Ikan itu mati dengan tragis.
| Penangkapan cakalang menggunakan pancing huhate sumber : http://www.iftfishing.com/ |
Bubu bisa menjebak ikan-ikan sehingga mereka bisa masuk dan tidak bisa keluar. Purse seine tak beda jauh, segerombol ikan yang jumlahnya banyak sekali dikurung lalu tiba-tiba bagian bawahnya mengerucut, ikan terjebak tidak bisa keluar, dan berpindah tempat dari laut ke atas lantai kapal. Gillnet menjerat ikan tepat di bagian insang sehingga ikan terjerat dan sedikit sekali yang bisa melepaskan diri. Kemudian trammel net membelit tubuh ikan membuat ikan semakin sulit keluar. Trawl dan teman-temannya bahkan menumpas apa saja yang dilewatinya, dengan bantan kapal yang berjalan sekian knot ikan-ikan itu terseret ke dalam kantong yang makin mengerucut. Pancing huhate lebih kejam lagi, sudah dikelabui oleh percikan air mesin kapal, adanya umpan hidup, tersangkut mata pancing, dan seketika dilemparkan melintasi udara dan mendarat dengan mental ke dek kapal.
Mayoritas ikan suka terhadap cahaya, ia akan mendekati cahaya secara alamiah karena pengelihatan ikan memang lebih baik daripada manusia. Di dalam air yang keruh sekalipun jarang pandang seekor ikan lebih baik dalam menangkap cahaya. Sifat ikan yang naif ini dimanfaatkan oleh manudsia dengan menggunakan cahaya lampu hingga ribuan watt untuk menjebak ikan-ikan. Ketika lagi seneng-seneng ngelihatin lampu tiba-tiba jaring yang warnanya sengaja disamakan dengan warna air untuk mengelabui ikan-ikan itu terangkat, mereka terjebak lagi.
| Sambil nyanyi "Setidaknya diriku pernah berjuaaang..." |
Belum lagi dampaknya bagi keseimbangan ekosistem. Jika dalam rantai makanan ada satu saja populasi yang musnah maka akan terjadi kekacauan dalam rantai makanan hingga jaring-jaring makanan. Jika ekosistem sudah tidak seimbang, siap-siap saja melihat bumi yang juga akan berduka.
Catatan: Tolong jangan dipikir terlalu dalam apalagi sampe rambut rontok, jangan!
(Bersambung)

Komentar