Nongkrong Yuk!
Merasa sangat beruntung bisa tinggal di sini dan pulang ke sini setiap hari. Tempat ini lebih dari nyaman untuk sekedar ditinggali. Aku menyukai setiap sudut dari tempat ini. Mulai dari lampu depannya yang bertengger di tiang lampu hijau yang bersangga di pagar dekat pintu gerbang, suka dengan gemboknya setiap kali aku keluar dan masuk membuka dan mengunci gembok itu, suka dengan setiap individu tanaman maupun tumbuhan yang hidup di dalam lahan ini, suka sekali. Hijau semuanya, asri, dan enak sekali dilihat. Dilihat dari jalan rumah ini sangat hijau. Dindingnya hijau, lantainya hijau, tanaman-tanamannya hijau, ah sepertinya aku perlu menambah tanaman lagi supaya lebih banyak lagi dan lebih hijau. Di sekitar pagar seharusnya ditanami tanaman lagi supaya ada barisan hijau yang memeluk pekarangan. Tentu akan lebih cantik lagi bila tanaman-tanaman yang berbunga warna-warni. Hmm tapi, halaman seluas ini ditanami apa yaa enaknya (?)
Waah, ada kupu-kupu! Ups, oot sorry...
Jarang-jarang nih nongkrong di teras rumah ini. Apalagi sampai menikmati hujan semacam sekarang. Biasanya teras hanya jadi terminal sementara. Bahkan halte lebih tepat. Jarang dipakai nongkrong atau sekedar duduk-duduk. Padahal enak banget tempatnya nih suerr deh..
![]() |
| Pemandangan kalau nongkrong di teras |
![]() |
| So simple, tapi enak banget buat nikmatin sore sambil coba dengerin musik alam #eaaa |
Antara sok puitis atau kurang kerjaan sih sebenernya.Akhir-akhir ini suka ngegabut nggak jelas gitu. Kayak kapal kehilangan nahkoda, kayak kereta kehilangan masinis, kayak pesawat kehilangan pilot, kayak anak ayam kehilangan induknya, #eaaa. Tuh kan nggak jelas kan. Akhir-akhir ini juga jadi suka gambar (lagi). Tepatnya gambar objek yang lagi ada di depan mata. Paling sering terjadi di kelas waktu kuliah mulai bikin ngantuk dan bosen. Mulai deh itu coret-coret aja. Di depan ada kursi yang lagi didudukin temen, gambar. Ada meja dosen, gambar. Ada papan tulis, gambar. Gitu-gitu aja deh. Benda-benda bikinan manusia emang lebih gampang digambar sih. Sekali dua kali diamatin aja udah keliatan garis-garis yang bisa digambarinnya. Rumah misalnya, dari sudut pandang aku duduk sekarang ini aku bisa tuh ngelihat garis-garis rumah itu seandainya dia digambarin di atas kertas. Mulai dari atapnya, tulang-tulang rangkanya, garis tepi jendela dan ventilasinya, hingga ke ukiran pernak-perniknya. Semua objek tuh punya garis tepinya yang bisa digambarin di atas kertas. Atau istilah lebih ilmiahnya semua objek tiga dimensi punya garis dua dimensi sesuai sama apa yang dilihat oleh mata kita. Mobil, ayam, pager, pohon pisang, semuanya tuh ada gitu lhoo garis tepinya yang bisa dijadiin gambar dua dimensi. Iya kan? Hehe..
Kalo kaya gini jadi inget Markesot. Tokoh di buku Markesot Bertutur dan Markesot Bertutur Lagi karya bapak Emha Ainun Nadjib. Si Markesot pasti udah bertutur panjang lebar ngalor ngidul berceloteh berfilsafat apalah itu. Dia pasti bakalan nyerocos nggak berhenti-berhenti deh menghadapi situasi damai semacam ini. Waah jadi kangen buku itu hehe... padahal bukuku kan udah banyak.
Alam ini tu bener-bener alam desa banget deh. Lihat aja halamannya masih tanah, jalanan depan itu belum diaspal, masih hijau lingkungannya masih banyak pohon, sawah masih luas terbentang, ayam-ayam masih berkeliaran sebelum malam, mobil dan motor masih jarang yang lewat, dan nggak ada tukang makanan pake gerobak yang lewat depan sini (ex: bakso, mie ayam, cilok, etc). Penulis dan pelukis pasti seneng deh kalo tinggal di sini.
Lingkungan kaya gini apalagi didukung sama hujan yang turun terus dan hawa yang sejuk cocok banget sebenernya buat belajar. Sampe bingung mau nikmatin alam kaya gini dengan cara apa lagi :")


Komentar