Jangan Ambil Pusing
Hidup ini Tuhan yang menentukan, kita yang menjalankan, dan orang lain yang mengomentari. Tetapi, tetap kepada Tuhan kita mempertanggung jawabkan. Terkadang, hm bahkan seringkali, komentar orang lain terhadap diri kita dan hidup kita begitu mengena dan mempengaruhi diri kita sendiri. Kalau istilahnya, kita sudah termakan oleh omongan orang lain. Kita bahkan percaya kepada orang lain lebih dari kepada diri kita sendiri.
Sepandai-pandai orang lain, sepintar apapun dia, semengerti apapun dia, dia nggak benar-benar paham diri kita, hidup kita. Nggak lebih baik pemahamannya dari kita sendiri, yang melakoni. Jadi, sebaiknya tidak perlu terpengaruh juga sih. Apapun komentarnya, celetukannya, opininya, tidak mutlak benar, tidak mutlak harus kita percaya, apalagi sampai kita jalankan total. Enggak, enggak sama sekali. Mereka ga punya hak. Hanya diri kita sendiri dengan Tuhan yang berhak. Kita yang menjalani, Tuhan yang menentukan dan kelak kita akan LPJan di depan Tuhan. Nanti, entah kapan. Tapi pasti.
Jadi, biarin aja orang lain komentar apapun tentang hidup kita. Meskipun kita makhluk sosial, bukan berarti hidup ini tergantung banget sama orang lain. Bukan berarti sepenuhnya orang lain punya kendali penuh akan hidup kita, bukan berarti juga hidup orang lain itu lebih baik dari hidup kita. Enggak,nggak gitu. Meskipun orang lain lebih tua dari kita, lebih pintar dari kita, lebih bijak dari kita, nggak semua perkataannya kita terima mentah-mentah. Nggak usah semuanya di iya in. Kalo setuju ya iya in kalo engga yaudah jangan di iya in.
Pada dasarnya hidup ini simple. Tuhan udah bikin peta alur hidup kita, tugas kita tinggal ngejalanin aja. Iya, jalanin aja. Ikutin aja petunjuk-petunjuknya. Semua ini amanah, dan yang namanya amanah itu berat. Jadi, baik-baik ngebawanya.
Memang, ada beberapa hal sulit. Sulit yang seakan-akan ga bisa dikerjain. Ada juga hal-hal yang nggak menyenangkan tapi harus dilalui. Pada dasarnya kita semua ini pinter kok, kita harus percaya itu. Dan pada dasarnya juga, kita semua ini baik. Tapi, tentu aja Tuhan ga sembarangan nyiptain kita. Penciptaan kita di dunia ini pasti ada tujuannya, kita pasti punya peranan di dunia ini. Dan, peranku mungkin ya begini. Di sini aku punya peran sebagai muslim jadi ya aku harus berlaku sebagaimana muslim. Lalu, aku punya peran sebagai mahasiswa, kaum terpelajar yang lagi belajar, jadi ya aku harus berlaku sebagaimana mahasiswa. Atau peranku sebagai anak, maka aku pun juga harus berlaku sebagai anak.
Sepandai-pandai orang lain, sepintar apapun dia, semengerti apapun dia, dia nggak benar-benar paham diri kita, hidup kita. Nggak lebih baik pemahamannya dari kita sendiri, yang melakoni. Jadi, sebaiknya tidak perlu terpengaruh juga sih. Apapun komentarnya, celetukannya, opininya, tidak mutlak benar, tidak mutlak harus kita percaya, apalagi sampai kita jalankan total. Enggak, enggak sama sekali. Mereka ga punya hak. Hanya diri kita sendiri dengan Tuhan yang berhak. Kita yang menjalani, Tuhan yang menentukan dan kelak kita akan LPJan di depan Tuhan. Nanti, entah kapan. Tapi pasti.
Jadi, biarin aja orang lain komentar apapun tentang hidup kita. Meskipun kita makhluk sosial, bukan berarti hidup ini tergantung banget sama orang lain. Bukan berarti sepenuhnya orang lain punya kendali penuh akan hidup kita, bukan berarti juga hidup orang lain itu lebih baik dari hidup kita. Enggak,nggak gitu. Meskipun orang lain lebih tua dari kita, lebih pintar dari kita, lebih bijak dari kita, nggak semua perkataannya kita terima mentah-mentah. Nggak usah semuanya di iya in. Kalo setuju ya iya in kalo engga yaudah jangan di iya in.
Pada dasarnya hidup ini simple. Tuhan udah bikin peta alur hidup kita, tugas kita tinggal ngejalanin aja. Iya, jalanin aja. Ikutin aja petunjuk-petunjuknya. Semua ini amanah, dan yang namanya amanah itu berat. Jadi, baik-baik ngebawanya.
Memang, ada beberapa hal sulit. Sulit yang seakan-akan ga bisa dikerjain. Ada juga hal-hal yang nggak menyenangkan tapi harus dilalui. Pada dasarnya kita semua ini pinter kok, kita harus percaya itu. Dan pada dasarnya juga, kita semua ini baik. Tapi, tentu aja Tuhan ga sembarangan nyiptain kita. Penciptaan kita di dunia ini pasti ada tujuannya, kita pasti punya peranan di dunia ini. Dan, peranku mungkin ya begini. Di sini aku punya peran sebagai muslim jadi ya aku harus berlaku sebagaimana muslim. Lalu, aku punya peran sebagai mahasiswa, kaum terpelajar yang lagi belajar, jadi ya aku harus berlaku sebagaimana mahasiswa. Atau peranku sebagai anak, maka aku pun juga harus berlaku sebagai anak.
Komentar