Aku Jatuh Cinta pada Pagi
Aku mengawali pagi dengan duduk menghadap jendela menatap
gradasi langit ketika matahari menyapa bumi. Iya, aku terkesima menyaksikan
semesta berganti warna hari di negeri matahari terbit ini. Aku membuka tirai
ketika langit masih gelap. Kaca jendela berembun. Tentu saja, udara dingin di
luar mungkin nol derajat atau bahkan minus satu namun aku menyetel penghangat
sehingga suhu kamarku hangat di atas dua puluh derajat celcius. Aku mengusap
uap embun di kaca. Tapi langit masih kelam. Aku menunggu ufuk timur
menyemburatkan warna kuning, namun sepuluh menit berlalu dan langit masih
kelam. Sesaat aku takut, apakah hari ini matahari tidak terbit di sebelah timur?
Aku takut hari ini hari kiamat sehingga matahari akan muncul dari sebelah
barat. Aku belum siap menghadapi hari itu, sungguh. Matahari muncullah, harapku
cemas.
Beberapa menit berlalu. Kegelapan mulai memudar. Aku
mengerjap-ngerjapkan mata, memastikan bahwa langit di balik jendela kaca kini
mulai membiru. Berkali-kali kutengok ufuk timur terjauh yang mampu di jangkau
pandanganku. Yes! Dia mulai menguning. Semburat cahaya kuning mulai nampak.
Mulanya hanya satu goresan kuas saja luasnya. Namun warna itu kian meninggi.
Kini aku bisa melihat siluet pohon cemara di situ. Daunnya bergoyang hebat.
Aneh, pikirku. Apakah ada hantu yang menggoyangkan pohon itu? Kulihat
jemuranku, bergoyang juga. Ah, rupanya hanya angin, pikirku lega. Aku tertegun
menyaksikan siluet hitam pohon cemara yang kian tegas. Siluet pohon gundul
dengan ranting-rantingnya yang seakan mencakar langit pun mulai bisa kuliat.
Mereka bagaikan garis patah-patah di atas kanvas. Mereka bagai goresan tinta
hitam di atas pulasan berwarna biru.
Aku jatuh cinta pada pagi. Aku menyukai setiap detik
bergantinya malam menuju pagi. Aku cinta perubahan warna langitnya. Aku jatuh
cinta pada siluet pohon dan rerantingan yang hitam tegas berlatar gradasi biru
kuning. Ketika matahari telah terbit sepenuhnya, siluet ranting-ranting pohon
di depan kamarku kian tegas dan tampak kemilaunya. Ah, aku makin cinta dengan
pagi. Kini, ketika hangat mentari menyusup masuk menembus jendela kacaku,
menerangi kamar lembabku, menyentuh tubuhku dengan lembutnya, dia memelukku
dengan hangat. Aku mencintai pagi dengan setiap jengkal energi baru yang
menyertainya. Aku merasakan energi itu merasuk menembus kulitku, menarik dua
sudut bibirku untuk tersenyum dan bersyukur. Betapa Maha Agungnya Tuhan telah
meciptakan pagi. Bukan hanya pagiku, namun paginya alam semesta.
Komentar