Indonesia, I’m back!

Kenapa nggak Indonesia, I’m home? Entah, mungkin karena aku terlalu adaptif jadi di mana pun iya feels like home. Setelah 5 bulan 11 hari tinggal di Tokyo, akhirnya aku balik lagi ke negara yang ngeluarin pasporku. Tepat satu hari sebelum aku terbang ke Indonesia, Tokyo diguyur salju. Itu adalah kali pertama aku menyaksikan butir-butir salju turun dari langit, jatuh ke jalanan dan atap rumah. Kukira intensitasnya nggak akan seberapa, tapi ternyata sampai malam hari aku kembali ke asrama nyaris seluruh dataran Fuchu diliputi salju tebal. Bahkan kereta dari Shibuya yang harusnya membawa aku ke Fuchu sempat delayed. Terakhir aku guling-guling di dataran bersalju, waktu itu nggak ada fresh snow yang bener-bener baru jatuh dari langit. Salju kemarin aku menyebutnya. Kembali ke Fuchu, aku bingung dong gimana caranya ke stasiun kalau di depan pintu asramaku aja saljunya setebal lebih dari 15 cm.  Tapi akhirnya aku berhasil mencapai Fuchu station kemudian Chofu untuk menunggu Limousine Bus ke Haneda Airport.

Dua kali aku nganterin temenku ke halte Limousine Bus, semuanya normal. Giliran aku yang mau pergi, malah busnya hari itu nggak beroperasi gara-gara salju tebel. Kan nyebelin. Untung aku ditemenin dua senior baik jadi aku nggak mati gaya di Chofu berdiri di halte nungguin bus yang emang nggak beroperasi. Akhirnya, satu-satunya cara ya naik kereta. Mereka pun ngaterin aku sampe Shinjuku. Dari Shinjuku aku ke Hamamatsucho buat naik Tokyo Monorail. Fiuh, alhamdulillah nyampe juga ke Haneda. Beruntungnya bawaanku nggak banyak. Cuman satu koper, satu ransel, sama satu tas laptop. Tapi, gempor juga sih. Makanya, sebelum check in aku makan nasi dulu sampe kenyang bego. Baru deh selama di pesawat aku tidur bego ampe pagi.

Nyampe Indonesia, langsung disambut sama hawa panas yang AllahuAkbar -_- Mau mati (eh ga deng, ga gitu-gitu juga). Aku nggak terlalu ngikutin perkembangan pembangunan bandara Kulonprogo sih, cuman melihat betapa sempit dan kemriyek bandara Jogja yang sekarang, aku rasa Jogja emang butuh tempat yang lebih gede deh buat bandaranya. Meskipun para aktivis petani masih tetep getol memperjuangkan isu alih fungsi lahan, masa depan para petaninya nanti kalo sawahnya dijadiin bandara, masalah kesiapan SDM-nya nanti soal jenis-jenis pekerjaan baru yang muncul akibat adanya bandara baru, aku tetep mengamini kalau Jogja butuh bandara baru. Egois po aku? Aku mikirin kaum-kaum lemah juga sih, yang tertindas kalah sama orang-orang kuat waktu ngambil bagasi :’

UGM masih libur sampe 31 Januari, iya ya? Terus aku sok sibuk sok nggak selo gitu ngga buru-buru reunian main nongki-nongki sama temen-temen baik hati. Ya maap tapi I had no choice. Ada sapu yang harus dibeli karena sapu yang dianggurin lima bulan udah pothol. Terus juga ada lantai yang nggak injek-able karena mungkin berapa bulan nggak dipel. Dan sprei-sprei yang harus dicuci dan diganti biar bisa tidur-able. Ini aja aku belum bisa masak karena dapur masih belum masak-able. Lalu baru dapet progres 30% dari to do list bersih-bersih langsung cabut lagi aja mudik wkwk... Butuh asupan lemak sih jadi lari bentar dari realita.

Ada beberapa hal yang harus didiskusiin sama dosen pembimbing jadi besok aku harus otw Jogja lagi. Well, skripsi please be nice ya  :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rahasia Lolos Beasiswa International Summer Course di Nagoya University

Mengikuti Tes Psikologi dan Wawancara Psikolog Toyota Astra Finance (TAF) Service

Kompleksnya Manajemen Sumber Daya Perairan di Selat Bali