Pukul 11 Malam
Bukan hidupku namanya kalau tidak dipenuhi kejutan. Bukan hidupku juga kalau segalanya adem ayem membosankan. Harusnya aku enggak kaget kalau ada saja hal yang membuatku geleng kepala. Tentu saja kepalaku sendiri. Rintangan-rintangan kecil yang bukannya membuatku menangis malah membuatku tertawa geli heran sendiri dengan kepanikan dan kecerobohanku. The clumsy me.
Kembali aku mengatakan kepada diri sendiri, "Kok bisa sih?"
"Kok bisa sih porvalnya belum disubmit?"
"Kok bisa-bisanya charger hapeku bermasalah?"
"Kok bisa kuah sotonya nyiprat kena sprei?"
"Kok bisa sih tadi gaada gocar yang mau ambil orderanku?"
"Kok bisa sih perkara surat jadi ribet banget?"
atau
"Kok bisa ya kejutan itu terus berdatangan?"
Aku nonton film Indonesia beberapa hari ini. Seharusnya diksi kalimatku ada perbaikan ya. Aku menjadi tidak begitu tertarik lagi dengan Youtube, Instagram, dan Tiktok yang baru-baru ini aja aku install. Ternyata aku lebih tertarik menikmati film beneran. Film yang naskahnya ditulis oleh seorang penulis naskah, yang disutradarai oleh seroang sutradara betulan, diproduseri oleh seorang produser terpercaya, dimainkan oleh aktor dan aktris berbakat, melalui serangkaian proses casting, reading, shooting, editing, hingga jadilan sebuah film yang siap tayang. Sebuah perjalanan panjang yang tidak lepas dari kerja keras seluruh tim produksi tentunya. Aku harus apresiasi itu semua dengan menontonnya dan membayar biaya berlangganan aplikasi.
Perlu nggak sih marah. Mungkin perlu. Oh, bukan mungkin lagi. Tapi memang perlu. Segala sesuatu yang tadinya dirasa luar biasa, karena memang berada di luar kebiasaan, lama-kelamaan jadi barang normal juga to ya. Terkejut wajar. Tapi, ketika hal itu sudah menjadi rutinitas, aku sih percaya lama kelamaan orang pasti akan abai juga.
Film Newly Rich atau versi Bahasa jadi Orang Kaya Baru yang baru aku tonton masih jadi pikiranku, maknanya apa sih? Ada Cut Mini, Raline Shah, juga Derby Romero. Oh iya ada Reval Hady dan pemain senior Tarzan juga. Dan tentu saja Lukman Sardi.
Kalau saja orang bisa bosan kalau terus-menerus berbuat baik, apakah orang juga akan bosan jika selalu berbuat jahat? Bukannya menyimpan dendam itu melelahkan ya? Menyimpan marah, benci, iri, lelah banget sih pasti. Ya Tuhan, jangan bebani aku please dengan hal-hal melelahkan itu.
Senewen yang dikeluarkan aja memang ada baiknya daripada senewen yang dipendam sendiri. Sama-sama ada plus dan minusnya. Karena kalau dibagi pasti diri jadi nggak keberatan mikul beban rasa kesal. Tapi kalo disimpan sendiri mungkin dari dalam diri lama-lama hancur juga. 😂
Today will be tomorrow. There is nothing last forever. I repeat these words for many times. The question is.. sudah jam sebelad malam lalu mau apa?
Komentar