Pukul Satu Pagi
Aku tidak berhasil menyelesaikan challenge yang aku buat sendiri. Harusnya challenge itu aku lakukan dari tanggal 12 Januari sampai 20 Februari. Sebelumnya aku bisa menuntaskan challnge tanggal 13 Desember sampai 11 Januari. Mungkin aku belum siap untuk challange kedua hanya karena aku berhasil di challange pertama. Apakah aku harus mulai lagi?
Aku sedang mengesampingkan hal-hal yang seharusnya aku taruh di tengah. Sembari mencari referensi, pernah mengalami ini sebelumnya nggak sih? Kejadian hari ini pernah punya kemiripan dengan yang pernah terjadi dulu-dulu nggak sih? Aku sedang mencari pola.
Tiba-tiba aku ingat center building tempat aku suka bertanya tiga tahun lalu. Aku ingat design bata eksposenya. Posisinya yang persis di tengah suatu kawasan. Tiba-tiba aku ingat rute dari kamarku ke kelas. Ingat orang-orang yang pernah sekelas sama aku. Tidak hanya ingat ruangan type mini apartment studio itu aku juga ingat kantin tempat aku beli makan siang. Ataupun jalan-jalan yang aku lalui.
Aku ingin pergi lagi. Inginnya pergi bisa semudah tiga tahun lalu ketika aku memutuskan ingin. Dari ingin lalu aku bisa mewujudkannya jadi nyata. Rasanya hidup terlalu menyenangkan. Bisa menginjakkan kaki lagi di tempat aku ingin menginjakkan kakiku. Bisa berpindah ke bagian bumi yang memang ingin aku datangi. Ruang belajar, tempat makan, tempat tidur tingkat, semuanya yang aku bisa ingat.
Aku paham hari ini pun nanti akan aku rindukan mungkin. Belum tau kapan. Mungkin tiga tahun lagi. I am trapped in a rate race, am I? Setahun dua tahun yang aku jalani biasanya sudah tersetting sedemikian rupa. Basically, I dont need to think for some reason. There are some coincidence, but.. are there any?
Aku berusaha untuk percaya bahwa aku tidak perlu terlalu keras dalam meratap. Tidak perlu terlalu letih untuk bertanya. Meraba dalam gelap dimana aku tidak bisa. Memang akhir-akhir ini aku makin sulit untuk menebak. Tapi, aku sekuat tenaga berusaha untuk tetap yakin bahwa meskipun aku sudah seperempat abad ada di dunia hidup masih punya pola yang aku percayai.
There is nothing last forever. Pun hari ini pun akan menjadi kemarin dan besok pun akan menjadi hari ini.
Komentar