Pukul Dua Pagi

Terimakasih Netflix sudah berhasil menghibur. Kemarin aku baru menyelesaikan series The Baby Sitter Club yang ternyata singkat. Beberapa hari terakhir aku nonton Cek Toko Sebelah The Next Chapter. Sebelumnya aku nonton Inbestigators dan itu bagus banget. Aku juga nonton Antologi Rasa yang trailernya pernah aku lihat dua tahun lalu di Godean. Ingin ketawa karena aku punya banyak cerita juga di Godean. My Stupid Boss 2 juga lucu dan aku habis menontonnya juga. Ada June dan Kopi yang bikin terharu. The Bridgerton yang bikin deg-degan, hingga the famous Emily in Paris yang bikin suka sama ceritanya, dan sama Parisnya tentu. Aku mau tepuk tangan karena berhasil menyempatkan nonton seabrek tontonan bagus di sela-sela waktu yang aku punya. Tiba-tiba aku merasa produktif. Merasa tidak jahat sama diri sendiri. Karena tidak memaksanya buat kerja aja hihii..

Aku pernah install Tiktok lalu aku uninstall dan aku install lagi. Aku nonton talkshow nya BCL dan Daniel di Youtube. Bukannya apa, sepertinya aku lebih cocok nonton film atau series aja deh daripada sesuatu yang terlalu bebas di platform lain. Supaya aku bisa lebih ingat esensinya. 

Beberapa hari terakhir bukan hari yang mudah buat dilalui tapi aku patut berterimakasih sama diriku karena berhasil melewatinya satu persatu semampuku. Aku juga patut berterimakasih atas keberanian yang ada, atas rasa takut yang berhasil ditepis. Atau khawatir dan ragu. Aku berhasil mengalahkan kegamanganku atas ketidakpastian. Aku bersyukur atas keyakinanku bahwa aku pasti akan baik-baik saja, aku tidak akan kenapa-kenapa. Iya, keyakinanku sebulat itu tidak tahu kenapa. Aku tidak takut kekurangan. Tidak takut jatuh, tidak takut gagal, tidak takut jelek, tidak takut jatuh, tidak takut gagal. Aku mengulanginya. Aku semantap itu. Aku salute. Terima kasih aku. 

Aku tidak takut kekurangan karena aku selalu tercukupi. Aku tidak takut jatuh karena aku tahu aku punya kemampuan untuk bangkit. Aku tidak takut gagal karena aku tahu dan aku yakin aku punya banyak kesempatan. Aku hanya perlu membiasakan diri untuk bisa semakin kokoh berdiri aja. Di tengah badai, di tengah angin, dihantam arus. What doesnt kill me makes me stronger. There is nothing last forever, include the problems. There will always be tomorrow. Aku salute dengan keyakinanku itu. Salute banget. Berasa keren. Terima kasih banget loh, sekali lagi, buat diriki. 

Aku aman, aku terlindungi, aku selalu bisa menemukan orang baik di manapun itu. Tiba-tiba aku jadi ingin mensyukuri setiap napasku. Orang baik itu bisa berupa penjaga kost yang udah bersihin kamar kosku, driver taxi online yang selalu mengantarku dengan selamat, atasan yang baik, pekerjaan yang membantuku untuk hidup, tetangga yang tidak rese, orang-orang yang masih bisa membuat tertawa, customer yang tidak bermasalah, kesempatan untuk bisa ambil TOEFL lagi. 

Tahun lalu aku mungkin mengalami hal yang se-tidak mudah itu juga. Tapi toh aku berhasil juga melewatinya. Dua tahun yang lalu juga aku punya hari-hari yang berat. Tidak nyaman. Tapi semua itu seperti pil pahit yang menjadi obat yang harus aku minum untuk kebaikanku sendiri. The past will be the past and again... therr is nothing last forever. Pasti akan ads kok saatnya nanti di mana suatu fase sudah selesai. Fase di mana aku bisa bernapas lebih lega. Fase istirahat di mana aku bisa berhenti sejenak. Berjalan di pantai lagi, atau flight lagi ke tempat-tempat yang aku ingin datangi. One day, I will look back to the pandemic day that I spent far away from home. But, wait... where is my home actually? My home is where I feel like I am accepted to be 100% of myself. All the pain I experienced will do nothing but strengthen me. Yess. Semangat!! 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rahasia Lolos Beasiswa International Summer Course di Nagoya University

Mengikuti Tes Psikologi dan Wawancara Psikolog Toyota Astra Finance (TAF) Service

Kompleksnya Manajemen Sumber Daya Perairan di Selat Bali