Co-fas Palapa
Co-fas atau co-fasilitator adalah salah satu divisi dalam kepanitiaan PPSMB Palapa UGM. Istilah lain untuk co-fas adalah pemandu. Hal ini karena tugas seorang co-fas adalah memandu dan mendampingi adik-adik maba selama PPSMB Palapa berlangsung. Dua atau tiga orang co-fas akan memandu kurang lebih tiga puluh orang maba. Dibanding divisi lain, co-fas memiliki jumlah anggota yang paling banyak. Mengingat jumlah maba UGM setiap tahunnya selalu mencapai angka ribuan, maka tentu saja diperlukan co-fas yang banyak juga. Untuk tahun 2015 ini saja ada 400 co-fas.
Untuk menjadi co-fas ada tahapan-tahapan yang harus dilalui. Pertama, tentu saja mendaftar, kemudian wawancara, setelah itu akan diumumkan nama-nama yang lolos seleksi wawancara. Berdasarkan informasi, pada tahun 2015 ada 700 orang yang mendaftar menjadi co-fas dari total 1400 orang pendaftar panitia PPSMB Palapa. Adapun yang diterima menjadi co-fas berjumlah 400 orang.
Panitia-panitia yang lolos ini akan dikumpulkan untuk melakukan first gathering. Acara ini berfungsi untuk meresmikan panitia dengan dipukulnya gong. Sejak saat itu, persiapan PPSMB Palapa resmi dimulai dan para panitia resmi disahkan untuk mulai bekerja. Untuk divisi co-fas, selama dua bulan ke depan hingga mendekati hari H pembukaan PPSMB, akan digembleng supaya bisa menjadi role model yang baik bagi adik-adik maba.
Sebagimana kita ketahui, co-fas merupakan pemandu yang akan mendampingi adik-adik maba selama berlangsungnya PPSMB Palapa. Jadi, co-fas lah yang paling banyak berinteraksi dengan para maba. Mereka ini yang akan menjadi rujukan maba bertanya terkait penugasan dan PPSMB. Pada tahun 2014, peran co-fas merangkap pemateri. Jadi, selama berlangsungnya PPSMB di kelas-kelas co-fas lah yang menyampaikan materi terkait ke-Gadjah Mada-an, pengembangan diri, serta mengenalkan kampus UGM secara keseluruhan. Selama PPSMB, juga akan ada diskusi, kuis, serta games. Di sini co-fas berperan memandu jalannya acara dalam suatu kelas.
Sebelum terjun melaksanakan tugasnya, para co-fas ini akan dilatih. Maka, akan ada training dan sosialisasi selama masa pra PPSMB Palapa. Sabtu, 13 Juni 2015 merupakan agenda pertama gathering. Nanti, setelah UAS akan ada gathering kedua dan seminggu setelah lebaran gathering ketiga. Itu merupakan gathering untuk seluruh panitia PPSMB Palapa. Untuk divisi co-fas akan ada pertemuan-pertemuan di luar itu. Pertemuan itu membahas bagaimana cara berkomunikasi yang baik, bagaimana caranya ice breaking, seputar kepemanduan, public speaking, melakukan Forum Group Discussion, membuat games, dan tentu saja membahas materi apa saja yang akan disampaikan kepada adik-adik maba. Belum lagi pada tanggal 4-6 Agustus akan ada training juga.
Banyaknya agenda itu tentu saja menyita waktu libur yang seharusnya bisa dihabiskan untuk pulang dan bersantai dengan keluarga, apalagi lebaran pula. Bahkan gosipnya, para co-fas hanya dikasih libur H-5 sampai H+5 Lebaran. Jadi, memang PPSMB Palapa butuh orang-orang yang mau menginfaqan waktu, tenaga, dan pikirannya. Bila dipikir tentu akan repot bin ribet, tapi bila niat itu sudah datang dari hati apa mau dikata. Mungkin akan ada yang berpendapat, "untuk apa capek-capek dan ribet-ribet jadi panitia". Tapi, yasudahlah nggak apa-apa. Mungkin yang berpikiran seperti itu tidak tahu bagaimana serunya menjadi panitia sebuah acara.
Bila dikaji lebih dalam lagi, menjadi co-fas merupakan sarana upgrading diri yang sangat ampuh. Bagaimana tidak? Kita akan digembleng habis-habisan agar bisa memberikan citra mahasiswa ideal di hadapan maba. Kita akan dilatih untuk berkomunikasi dengan baik, melakukan public speaking, dan tentu saja kemampuan leadership kita akan semakin terasah. Karena kita dituntut untuk bisa menghandle sekitar tiga puluh maba dengan berbagai karakter dan latar belakang. Kita harus mampu menjadi sosok kakak yang patut dicontoh oleh adik-adiknya.
Menurut saya, justru ini merupakan kesempatan emas yang tidak boleh disia-siakan. Kemampuan-kemampuan inilah yang akan menjadi bekal kita untuk sukses berkarir nantinya. Boleh jadi IPK cumlaude, tapi bila tidak diimbangi dengan softskill yang mumpuni tentu akan dengan mudah tersaingi. Terlebih lagi, akhir tahun 2015 AEC resmi dibuka. Otomatis saingan kita akan bertambah. Bukan hanya orang Indonesia saja, melainkan semua orang dalam lingkup ASEAN. Bila saat ini saja angka pengangguran di Indonesia masih tinggi, apa yang akan terjadi nanti setelah AEC. Maka dari itu sejak dini kita harus mempersiapkan diri kita sebaik mungkin.
Bukan hanya berguna dalam karir, tapi kemapuan-kemampuan itu akan sangat berguna pada saat kita benar-benar hidup bermasyarakat. Tidak mungkin kan kita hanya cerdas akademik tapi tidak mampu bersosialisasi. Ilmu kita tidak akan termanfaatkan dengna optimal. Padahal salah satu sabda Nabi Muhammad SAW berbunyi sebaik-baik manusia ialah yang bermanfaat bagi sesamanya.
Dalam pidatonya pada PPSMB Palapa tahun 2014, Bapak Anies Baswedan selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI menyampaikan bahwa IPK hanya akan mengantarkan kita pada tahap wawancara. Bila kita melamar kerja ke perusahaan tentu yang dilihat adalah IPK. Bila IPK memenuhi, akan dipanggil wawancara. Setelah itu, dalam wawancara akan terlihat bedanya manusia dengan softskill yang bagus dengan yang tidak. Ini akan terlihat dari tingkat kepercayaan dirinya, caranya bersikap, serta cara berbicara. Beliau mengatakan bahwa dunia kampus ini adalah kolam renang, sedangkan dunia kerja nanti adalah laut lepas. Di kolam renang, airnya lebih tenang, suhunya bisa dikontrol, kedalamannya bisa dikontrol, luas dan lebarnya juga bisa dikontrol. Sebahaya-bahayanya kolam renang tentu tidak akan lebih bahaya dari pada laut lepas. Laut berbeda dari kolam renang. Di laut ada ombak yang tingginya tidak bisa dikontrol, angin yang tidak bisa diprediksi, serta kedalaman yang tidak bisa langsung diketahui secara pasti, belum lagi karang-karang tajam yang mengancam, dan juga binatang-binatang buas. Jadi, kampus adalah sarana kita untuk latihan sebelum terjun ke dunia kerja dan masyarakat. Maka dari itu, tidak cukup mengandalkan ijazah dengan IPK bagus saja.
Sejatinya, softskill bukan hanya menyelamatkan kita dalam bekerja di perusahaan. Bila kita ingin berbisnis dan menjadi wirausaha, tidak mungkin ijazah bisa diandalkan seratus persen. Jutsru karakter dan softskill kita lah yang akan membuat bisnis kita sukses nantinya. Orang yang mandiri tentu tidak akan menggantungkan seluruh hidupnya pada pemerintah atau perusahaan. Orang yang mandiri tentu bisa survive dalam berbagai keadaan.
Kegiatan-kegiatan seperti organisasi, kelompok studi, PKM, Pimnas, kepanitiaan, hingga aksi akan melatih softskill kita. Semua ini menjadi sarana untuk menempa diri menjadi manusia yang lebih baik. Seorang bijak pernah berkata: "Jika kamu kuliah hanya untuk mencari makan, kambing saja yang tidak kuliah bisa cari makan. Tetapi, kuliahlah untuk menjadi manusia yang lebih baik." Saya menambahkannya: jika kuliah hanya mau cari kerja, yang nggak kuliah saja bisa dapat kerja dan jika kuliah hanya mau dapat ijazah, beli saja ijazah sana" *ups
Intinya adalah kuliah merupakan suatu proses pembelajaran dalam artian luas. Bukan hanya mencerdaskan otak dengan materi kuliah, tapi lebih dari itu untuk membentuk karakter agar menjadi manusia yang unggul. Sehingga, jangan pernah sia-siakan kesempatan yang diberikan oleh kampus untuk membentuk pribadi yang lebih baik. Salah satunya adalah dengan mengikuti kepanitiaan, misalnya co-fas Palapa. Sekian ^.^
Komentar