Berani Berproses
Menulis itu seperti meninggalkan jejak. Melihat postingan sendiri beberapa waktu yang lalu seperti menengok ke belakang melihat jejak kaki di atas pasir. Tak perlulah rekaman video untuk mengingatkan setiap moment yang terjadi. Secara otomatis, potongan-potongan kejadian yang telah lalu itu tergambar kembali dengan jelas, Pun demikian dengan embel-embel perasaan yang yang mengiringi setiap moment. Ya, menulis membuat kita hidup. Karena sejatinya kita menulis adalah untuk dibaca orang lain. Diri kita di masa kini adalah orang lain bagi diri kita di masa lalu. Begitupun nanti diri kita di masa depan adalah orang lain bagi diri kita di masa kini. Jadi, sekalipun yang baca postingan di blog ini aku-aku juga, toh waktunya udah beda. Masanya udah lain, dan latar belakang suasananya juga udah berbeda. Jadi, sah-sah aja dong kalo aku bilang aku adalah blogger profesional yang punya pembaca setia, sekalipun pembaca setia itu tak lain dan tak bukan adalah diriku sendiri pada waktu yang berbeda. Jadi, izinkan aku menyapa diriku di masa depan. Entah itu dua minggu ke depan, dua bulan ke depan. atau dua tahun ke depan. Pasti akan ada sensasi tersendiri saat membaca tulisan sendiri di masa lalu. Setidaknya, dengan menulis kita tidak membiarkan sebuah moment berlalu begitu saja, tanpa jejak, tanpa bekas.
Well, begitulah waktu berjalan menggelinding dengan unyunya bagaikan bola salju. Menggilasku yang teronggok kaku di lereng gunung. Aku mengakui satu tahun ini telah banyak merubah diriku. Mau tak mau, waktu telah merubah semuanya. Bukan hanya waktu sih sejatinya. Namun, ada pengalaman, masalah, kejadian, dan peristiwa-peristiwa krusial yang menuntutku untuk berubah. Berubah dari gadis kecil yang cengeng menjadi gadis dewasa yang lebih tabah. Semua yang terjadi menuntutku untuk berhenti merengek dan berproses menuju dewasa. Dan aku harus selalu siap sedia menghadapi segala tantangan baru yang menghadangku. Tak bisa dipungkiri satu tahun ke depan mungkin aku akan terlibat dengan lebih banyak hal. Mungkin aku akan dihadapkan pada masalah-masalah yang lebih kompleks. Mungkin juga aku harus lapang dada menghadapi tabiat-tabiat orang yang semakin beragam, yang belum pernah aku temui sebelumnya.
Apapun yang telah terjadi, sedang terjadi, dan akan terjadi, aku tidak boleh aku protes. Mengapa? Ya tentu saja karena ini adalah jalan yang aku pilih dari awal. Sebuah keputusan untuk berproses dengan cara seperti ini. Jika dari awal aku tidak ingin berlelah-lelah kuliah manual empat tahun, pusing-pusing mengerjakan laporan praktikum, capek-capek berorganisasi, tentu aku akan memilih berjuang di STAN. Melanjutkan ambisi akademik untuk menjadi yang terbaik, belajar sepanjang hari, mengejar nilai-nilai terbaik, lalu lulus, dan merintis karir. Tapi bukan itu jalan yang aku pilih. Alih-alih berpikir realistis aku malah mempertahan idealisme. Aku pilih kuliah manual di kampus negeri selama empat tahun, melakoni kuliah dan praktikum berikut tugas dan laporannya yang selalu menumpuk, mengais pengalaman berorganisasi dan terlibat kegiatan kepanitiaan, belajar menjadi aktivis, dan senantiasa memupuk idealisme bahwa hidup ini tak sekedar bekerja di kantor dengan penghasilan tetap yang mengalir setiap bulan. Idealismeku sebagai gadis di penghujung usia remaja adalah hidup tak melulu soal itu. Akan tetapi, aku yakin bahwa nanti pasti akan ada peristiwa-peristiwa yang lebih kompleks dari yang pernah aku bayangkan. Dan jika aku tidak benar-benar menyiapkanya dengan matang aku pasti hancur. Aku pasti ngeblank dan tidak tahu harus bagaimana. Jadi inilah alasan mengapa aku memilih jalan yang kata orang tua bukan jalan yang terlalu benar, malah justru beresiko. Mengingat tingginya lulusan sarjana yang menjadi pengangguran di negeri ini. Tapi, aku yakin. Aku pasti bisa survive dengan semua bekal yang sedang aku siapkan sekarang. Aku tidak khawatir akan rezeki Allah karena Allah Maha Kaya. Apapun jalan yang aku tempuh asalkan diridhoi-Nya, aku tidak takut kekurangan.
Bismillahirrohamanirrohiim...
Mungkin aku yang sekarang bukanlah sesosok manusia jadi yang orang sebut dengan 'orang'. Sebutan 'jadi orang' bukan berarti bentuk morfologi dan fisiologinya. Ya, aku manusia utuh sekarang, tapi mungkin belum matang pemikirannya, mentalnya, keberaniannya, keyakinannya, kemampuannya, skillnya, belum banyak ilmunya, belum banyak pengalamannya, dan belum bisa dibilang sukses. Entah mengapa kata sukses banyak sekali membius orang-orang. Iya, memang aku mengakui aku yang sekarang belum tuntas berproses. Ibarat barang pabrik aku ini masih setengah jadi. Ibarat makanan aku ini masih setengah matang. Kalau orang tua bilang aku ini masih bocah. Tapi, justru karena semua itulah aku menerjunkan diri ke dalam proses. Semua ini agar aku benar-benar diproses, digodok, diapain lagi, dijadiin 'orang'. Sabar saja lah.. Proses itu tidak instan. Tidak bisa sekali langsung jadi. Aku mungkin akan menghadapi trial and error. Tapi, jangan kaget jika aku telah tuntas melewati semua proses panjang itu dan kamu akan melihat sosok 'orang' yang membuatmu melongo.
Untuk bisa menjadi profesional, seorang atlet harus melatih dirinya ribuan kali. Untuk bisa menjadi pembicara yang hebat seseorang pasti melewati tahapan-tahapan mulai dari grogi saat memegang mic, keringat dingin saat berada di atas panggung, deg-degan saat menatap audience, hingga gagap saat mulai berbicara. Tapi, seiring berjalannya waktu lama kelamaan kejadian-kejadian itu akan terkisis dengan sendirinya dan dia bermetamorfosis menjadi pembicara yang luar biasa. Contoh lainnya adalah wirausaha. Seseorang yang pernah belajar berwirausaha pasti tidak asing dengan penolakan yang dilontarkan oleh calon pembeli. Rasa malu, kesal, sedih, dan kecewa saat dagangan yang ditawarkan ternyata ditolak pasti sangat akrab dirasakan oleh para pengusaha di awal perjuangannya. Namun, seiring waktu kejadian-kejadian itupun akan terkikis dengan sendirinya. Sudah terlalu banyak kisah sukses di dunia ini yang dibukukan perihal itu. Jadi, itu sudah merupakan pola jika kita ingin menjadi profesional di bidang yang ingin kita kuasai.
Aku percaya bahwa semua hal yang nyata pasti bisa dipelajari. Semua keahlian pasti bisa dilatih. Semua itu pasti ada ilmunya. Tinggal bagaimana kita mau mencari dan berusaha mempelajarinya hingga kita benar-benar expert. Memang, diperlukan kesabaran dalam belajar. Tapi, berapa sih harga kesabaran bila yang kita dapat di akhir adalah skill luar biasa yang mampu menolong kita dalam mengarungi bahtera kehidupan nantinya. Aku belum bisa menyebut diriku expert dalam menulis, karena kalau dibaca-baca postinganku masih acak-acakan tidak karuan. Tapi aku merasakan manfaat lain dari rutin menlis blog ini, yakni kata-kata yang keluar dari mulutku terdengar lebih terstruktur dan sistematis. Karena dalam menulis aku terbiasa mengolah kalimat di dalam otak dahulu sebelum menuliskannya. Jadi, lihat kan? Otakku jadi lebih cepat berpikir. Lalu, aku juga belum bisa menyebut diriku wirausaha expert hanya karena sudah setahun tergabung dalam biro kewirausahaan Dema. Tapi, setidaknya aku paham sedikit seluk-beluk dunia bisnis. Bagaimana mengatur uang, bagaimana berinteraksi dengan dunia keuangan, mengakrabkan diri dengan kata bendahara, setidaknya basic itu cukup lah untuk bekal melangkah ke tahap belajar selanjutnya.
Kemampuanku menjadi pemimpin memang belum dapat dibuktikan secara nyata. Dunia belum pernah menjadi saksi bagaimana kiprahku menjadi seorang pemimpin. Aku pun terkadang masih menyangsikan diriku apakah aku mampu atau tidak. Tapi, aku tidak pernah tahu jawaban pastinya jika aku hanya berandai-andai, menerka-nerka, mencoba menebak dan berspekulasi. Aku juga tidak akan bisa menjadi pemimpin secara instan hanya karena membaca berlembar-lembar buku tentang kepemimpinan. Aku perlu mencobanya. Aku perlu terjun ke medan perang. Aku perlu melatih diriku. Aku perlu mempraktekkan teori-teori yang telah aku baca. Baru, setelah aku melibatkan diriku dalam sebuah proses panjang aku bisa menemukan jawabannya. Jadi, bagaimanakah jawabannya? Sekarang, aku belum bisa menjawabnya. Tapi, satu tahun dari sekarang aku akan menerjunkan diriku ke medan perang. Tahun depan, di hari dan jam yang sama aku yakin akan memiliki jawaban pasti atas pertanyaanku sendiri. Jadi, mari kita lihat saja.
Hal penting yang harus dan kudu wajib aku butuhkan sekarang adalah keikhlasan untuk belajar. Belajar dari mana saja, dari media apa saja, dari siapa saja. Aku harus menurunkan egoku dan membuka pikiranku atas berbagai pelajaran baru yang akan aku terima nantinya. Well, Bismillah.. semoga Allah selalu menuntunku, aamiin.
Komentar