For You

Sebelumnya aku ingin meminta maaf kepada sahabat-sahanbatku yang super, maksudnya kepada my bro and my lil sist terkait postinganku pada Kamis, 12 November 2015 silam yang berjudul Baper, maaf. Lagi-lagi aku minta maaf banget gals, kata-kataku di situ mungkin agak nyinggung perasaan kalian. Maaaaf banget atas kelugasan bahasaku megekspresikan perasaan. Maklum, baper is the way of my life. Well, di sini aku nggak ingin membahas tentang the way of life atau baper itu sendiri, melainkan aku ingin membuat sebuah klarifikasi agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan diantara kita. Terserah apa kata kalian terkait metodeku mengungkapakan kata maaf ini. Kalian mau ketawa terbahak, silakan. Kalian anggap aku berlebihan, monggo. Tapi yang jelas tujuan aku di sini satu: memperbaiki segala sesuatu yang harus diperbaiki.

Jujur gals, jika kalian tahu saat-saat kemarin boleh dibilang saat-saat kritis dalam hidupku. Katai lebay, nggak apa-apa. Sejujurnya, aku belum pernah menghadapi peristiwa seperti kemarin. Boleh dibilang itu kali pertama aku mengalaminya. Sebenarnya nggak pertama-pertama juga sih. Soalnya rasanya juga mirip sih sama yang udah-udah. Apalah ini, bahasannya malah jadi ambigu. Lanjut. Karena padatnya jadwal kita sekarang, sehingga kita jadi jarang ngumpul dan bisa membahas duduk perkara ini sampai tuntas, maka anggap saja ini sebagai press conference. 

To My Bro,
Kita memang udah pernah bahas ini di BBM beberapa hari yang lalu. Dan yaa kurang lebihnya seperti itulah pokok permasalahannya. 

To My Lil Sist
Jujur aku belom mengenal kamu seperti aku kenal my bro. Boleh dibilang aku masih meraba-raba dalam yaa hidup berdampingan sama kamu. Jadi, aku juga mungkin belom begitu paham sama sifatmu. Aku nggak tahu sih, kemarin-kemarin kamu nyadar atau tidak jika ada yang berbeda dari perlakuan aku ke kamu. Karena emang aku tu dongkol sama kamu Lil Sist. Lagi-lagi aku minta maaf karena udah sempet dongkol sama kamu. Aku nggak tau kamu itu beneran nggak peka atau pura-pura nggak peka. Stop deh. Kalo inget setiap detik kejadian itu aku bete lagi. Untuk lebih detailnya kita omongin bareng aja deh yaa.

Kenapa aku harus menuliskan hal seperti ini di blog? Pertama, kita jarang bisa duduk bertiga dalam waktu yang lama untuk berdiskusi. Kedua, balik lagi ke alasan pertama. 

Jadi...

Oke...

Aku merasa bersalah sama kalian karena aku nggak seharusnya berpikiran jahat seperti kemarin, saat dua minggu yang lalu. Aku merasa jahat banget, karena bisa-bisanya aku berpikir seburuk itu tentang kalian. Aku merasa nggak pantes gitu lho, siapa gitu aku tu berani-beraninya ngejudge kalian seperti itu, Berpikir kalian tu nggak peduli, nggak peka, nggak setia kawan, tegaan, jahat, egois, masa bodoh, nggak mau tau, pura-pura nggak tau, pura-pura nggak peka, gitu deh. Maaf ya, kemarin-kemarin itu aku lagi labil, panik, kritis, pusing, nggak tau harus gimana, nggak tau harus ngapain, nggak siap ngadepin kenyataan, nggak siap mental, dan lemah. Dan aku sangat berharap akan dukungan, support, a shoulder to cry, help, support, kalimat penyemangat, someone beside me, kepedulian, kemurahan hati. Well, itu ekspektasi aku. Dan silakan kalian bayangkan apa yang terjadi dengan kondisi aku yang seperti kemarin ditambah ekspektasi aku terhadap kalian karena kalian orang-orang yang biasanya dekat sama aku tapi kenyataan yang aku dapat semua bertolak belakang dari ekspektasi aku. Kalian menghilang. Oke, kalimat itu udah cukup mewakili semua yang terjadi. Well, mohon maaf lagi-lagi kalo mendadak aku sempet benci sama kalian. Jahat ya? Silakan kalian menilai bagaimana.

Itu dua minggu yang lalu. Dan waktu pun bergulir. Satu persatu peristiwa demi peristiwa terlewati sudah. Dan emosiku pun mulai stabil lagi. Aku mulai bisa menerima kenyataan. Ya, kenyataan. Banyak kenyataan yang harus aku terima dengan lapang dada. Pertama dan utama adalah, yaa mungkin ini ketetapan Allah dan aku harus nerima. Mungkin ini emang jalannya hidupku gitu lho, Mungkin bila ditarik benang merah pun kejadian yang sudah-sudah akan mengarah ke sini. Dan bisa jadi ini adalah suatu anak tangga yang harus aku lalui untuk naik ke tahapan berikutnya dalam hidupku. Terserah deh kalian mau bilang lebay atau apa. Karena this is what I feel. Lalu kenyataan yang lain adalah bahwa kalian ya kalian. Mungkin memang begitulah kalian. Dan mungkin yaa aku musti nerima kalian seperti itu dengan segala atribut sifat dan karakter yang kalian punya. Aku nggak bisa dan aku nggak berhak untuk menyuruh kalian menjadi seperti apa yang tergambar dalam idealismeku. Maaf banget jika aku sudah berbuat dzolim sama kalian dengan berpikir seburuk itu terhadap kalian. Di sini aku punya kekurangan yang mungkin kalian belum tau, atau sudah tau. Tapi lebih baik aku kasih tau. Jadi, oke aku akui aku orangnya idealis. Kalo aku punya idealisme A, misalnya, aku bakal bener-bener pegang teguh idealisme itu. Sekalipun aku musti mati-matian mempertahankannya. Minusnya tau nggak apa? Aku jadi egois dan keras kepala.

Apa yang ada dalam pikiranku, ekspektasiku, dan realita yang ada semuanya bertentangan dengan idelalismeku. Karena ketidakcocokan itu lah terjadi semacam tubrukan yang menjadikan aku berpikir sebegitu buruk tentang kalian. Maaf yaa... cuman maaf yang bisa aku ucapin. 

Aku ngaku salah gals. Aku beneran nggak seharusnya gitu lho sekeras itu. Harusnya tu aku bisa nerima kenyataan kalo kalian ya kalian. Kalian bukan mereka, mereka bukan kalian. Kalian dan mereka berbeda. Dan aku nggak bisa memaksakan untuk membuat kalian seperti mereka. Aku nggak berhak buat maksa-maksa kalian gitu lho. Bahkan aku juga nggak berhak gitu lho berekspektasi sebanyak itu sama kalian. Dan satu lagi, aku nggak berhak marah dan benci ketika ekspektasi aku nggak sesuai dengan realita. Aku jadi merasa tolol. 

Gals, tolong maafkan temanmu yang tolol ini..
Aku dosa besar jika berpikiran untuk memanfaatkan kalian. Kalian udah terlalu banyak membantu dan menolong aku selama ini, Benar-benar dosa besar jika aku sampai kesal dan benci sama kalian hanya karena sepotong ekspektasi yang tidak sesuai dengan realita. Jahat banget e aku. 

Bro, sebenernya yang jahat bukan kamu tapi aku. If you know what I mean..

Sekarang, paling tidak aku sudah bisa berdamai dengan kenyataan.. semoga ke depannya aku semakin pintar berdamai dengan kenyataan.. 

Gute Nacht gals :"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rahasia Lolos Beasiswa International Summer Course di Nagoya University

Mengikuti Tes Psikologi dan Wawancara Psikolog Toyota Astra Finance (TAF) Service

Kompleksnya Manajemen Sumber Daya Perairan di Selat Bali