Pemira
Aku duduk di sisi tembok gendung sosek ini dengan mengetik postingan blog di atas pangkuan. Di depan kelas, bapak dosen berbaju ungu berceloteh panjang lebar mengenai koefisien kontras, salah satu materi kuliah perancangan percobaan. Seulas senyum tergaris di bibirku menanggapi goyunan si bapak dosen.
Ragaku di kelas ini, namun pikiranku melanglang buana ke antah berantah. Berbagai hal berkecamuk dalam benak sempit ini. Di depanku terhampar laporan biologi laut yang masih memiliki banyak sisi rumpang. Masih banyak komponen konponen yang harus aku lengkapi.
Lain lagi dengan telepon pintar yang saat ini kugenggam,berkali kali menampilkan pop up message dari line berisi chat dari mbak fatih, kak agus, admin pemira, hingga ubud. Semua membahas topik yang sama. Perihal pencalonanku menjadi dirjen dema. Sejauh ini, aku bukanlah orang yang senang mengangankan kekuasaan, tahta, jabatan, atau apalah itu. Seringakali, impian terbesarku adalah menjadi manusia dengan kehidupan yang damai dan dapat melakukan suatu hal yang berguna bagi masyarakat berupa pengabdian.
Namun, karena suatu sebab aku kini terseret dalam ranah politik. Jangan berpikir aku terlibat partai politik. Sejatinya ini hanyalah politik kecil kecilan berupa pemilihan dirjen di fakultas tempatku kuliah.
Namun, alur pemilihannya cukup mendekati pemilihan nyata di pemerintahan kita. Kita harus mempeoleh minimal 10% dukungan dari mahasiswa jurusan yang sama. Hal ini dibuktikan dengan KTM yang mereka pinjamkan secara sukarela. Kita juga harus membuat visi misi dan program kerja yang akan kita lakukan. Selain itu juga kita harus mendapatkan surat rekomendasi terkait dari ketua HMJ. Di samping itu tentu saja masih ada syarat syarat yang harus dipenuhi oleh calon.
Memang, pernah terbesit sekejap dalam pikiranku mengenai keterlibatanku dalam dunia politik. Aku pernah membayangkan diriku duduk di kursi yang selama ini sering menjadi rebutan untuk mewakili suara rakyat. Namun itu hanya sekadar angan liar belaka.
Hingga tibalah moment di kala seorang temanku menawarkanku untuk menjadi dirjen. Dan saat itu aku menyetujuinya. Dan follow up pun berlangsung dengan diadakannya rapat angkatan. Awalnya, aku masih menanggapinya dengan kalem, namun mendekati hari terakhir pengumpulan berkas aku mulai frontal. Transkrip ipk, surat rekomendasi, pematangan visi misi proker, pengumpulan KTM, berkecamuk dalam kepalaku. Dan semua itu harus terselesaikan hari ini jika aku tidak menginginkan pemotongan suara karena keterlambatan pengumpulan berkas.
Meskipun begitu, kalian tidak usah ikut pusing. Aku sudah tau solusi untuk itu semua kok, dan aku pun yakin mampu menyelesaikan semuanya hari ini. Meskipun jujur saja jantungku berpacu lebih cepat dan otakku sibuk berpikir. Belum lagi laporan biologi laut yang teranggurkan karena aku kehabisan ide untuk menggarapnya. Padahal nanti pukul 13.15 harus sudah terkumpul di laboratorium.
Dalam keadaan seperti ini aku bisa berbuat frontal dengan panik tidak karuan, hilang fokus, bingung, emosional, tidak tahu harus bagaimana, gondok sendiri, hingga ujung ujungnya aku akan menangis. Tapi nyatanya apa yang aku lakukan sekarang? Apakah aku melakukan itu semua? Dan dengan sangat memyesal, jawabannya adalah: TIDAK.
Aku tahu itu semua berpotensi menyebabkan stress. Namun aku memilih untuk beraksi dengan kalem. Aku duduk dengan anggun, tersenyum, berpikir, fokus, yakin bisa, dan tetap melakukan usaha dan berdoa tak henti di dalam hati. Aku sudah dewasa, dan aku yakin aku bisa. Aku punya Allah, aku tidak sendiri. Sebesar apapun urusan yang harus aku selesaikan, aku punya Allah yang maha Besar.
Komentar