Sampah Pagi

Mungkin aku hanya akan wasting time kalo pagi ini aku merangkak lagi naik ke tempat tidur, menenggelamkan wajah diantara bantal, memeluk guling, lantas memejamkan mata. Biarpun itu nikmatnya kayak surga dunia. Apa sih yang lebih nyaman dari belaian sang kasur. Ketika permukaan kulit beringgungan dengan permukaan sprei dan ketika tubuh jatuh sepenuhnya dalam tangkupan kasur. Benar-benar kenikmatan surgawi banget. Apalagi di pagi yang sejuk dengan matahari yang belum nongol. Demi apapun ngebayanginnya aja bikin ngiler. Bayangkan ketika rasa nyaman itu kian lekat menyelimuti sekujur tubuh dari ujung kepala hingga ujung kaki. Lalu perlahan memejamkan mata. Menikmati semilir angin dari putaran baling-baling kipas. Membiarkan anak rambut menari-nari. Dan ketika embusan napas mulai teratur. Tarikan dan embusan itu mebentuk ritme yang ajeg. Percayalah, selangkah lagi kamu sudah nggak mampu lagi baca lanjutan tulisan ini.

Tapi, wake up baby! Ada hal lain yang memaksamu tetap terjaga. Membiarkan matamu tetap terbuka. Membuatmu tetap duduk menyaksikan jam di sudut layar yang menunjukkan pukul 5:04 AM. Ada sesuatu yang menggerakkan jemari tanganmu menari-nari dia atas keyboard. Merangkai kata demi kata. Dan yang pasti hatimu tak bisa tenang. Ada yang membuatmu gusar, mengusik pikiranmu, dan memecah kesunyian pagi. Dua gunung pakaian kotor yang nyaris tak bertuan, barang-barang yang berserakan di lantai, serta bayangan akan tanggung jawab yang harus kau emban selama setahun ke depan. Ada suara-suara kecil di dalam kepalamu yang terus saja mengganggumu. Hal kecil apapun yang bisa membuatmu tertawa tidak ada yang bisa melepas rasa gelisah atas tanggung jawab yang bercokol di otakmu. Tidak, semua pengalihan itu hanya semu. Sekeras-kerasnya kamu tertawa kamu tetap akan kembali lagi ke sudut kamar dan menyadari kenyataan hidupmu yang sudah berubah.

Mungkin kamu menderita dilema akut dan galau berkepanjangan karena kamu bingung harus mulai dari mana. Harus mulai dengan cara apa. Ada rasa takut yang iseng menghantui. Perasaan kalut yang membuatmu ragu terhadap dirimu sendiri. Pikiran yang boro-boro jernih, yang ada juga malah blank. Berusaha mengais ide tapi hanya menangkap udara, kosong. Bahkan inspirasi itu bagai bintang yang bersinar jauh di langit sana yang tak mampu digapai oleh tanganmu. Untuk beberapa detik kamu membayangkan waktu berputar kembali atau malah berputar lebih cepat meninggalkan saat ini. Supaya hatimu tak lagi bergejolak dan bisa tenang seperti danau. Dengan jelasnya kamu merasakan ada anak timbangan bergelantungan di dalam hatimu. Dan ada pula reminder bertoa yang bergaung di dalam kepalamu. Kamu sadar kamu harus bergerak, tapi kamu hanya bingung harus bergerak dari mana. Sebenarnya kamu tahu apa saja to do listmu, tapi ada rantai yang menjeratmu.

Kamu bingung sendiri ketika angka di sudut layar sudah menunjukkan pukul 5:18 AM. Waktu selalu berjalan dan kamu tahu kamu tidak bisa diam saja. Duduk manis berharap semua bisa berjalan sendiri tanpa kamu setir. Kamu harus berdiri, tapi kamu bingung. Kamu bagai meraba di tengah kegelapan. Mencari secercah cahaya. Entah lampu senter atau temaram nyala lilin. You need some lights to guide your steps. Dan semua kata-kata ini hanya akan menjadi sampah ketika kamu mengklik ikon 'publikasikan' dan menutup notebook lantas merangkak naik ke tempat tidur. Membiarkan dua gunung cucian itu teronggok tak berguna, membiarkan barang-barang berserakan, dan membiarkan kegelisahanmu kian bergelayut. Dan, sampah itu nyata. Kamu pun lebih memilih nyampah daripada menyingkirkan sampah itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rahasia Lolos Beasiswa International Summer Course di Nagoya University

Mengikuti Tes Psikologi dan Wawancara Psikolog Toyota Astra Finance (TAF) Service

Kompleksnya Manajemen Sumber Daya Perairan di Selat Bali