Segenggam Benda Berwarna Merah
Masih ingatkah kamu tentang sengketa sebidang langit setahun silam? Tentang penguasa langit yang memberiku sebidang langit dan ditentang oleh ratusan prajuritnya. Tentang rasa itu. Dan tentu saja tentang kamu. Ah, tidak mungkin kamu tahu. Bagaimana bisa? Sepatah kata pun tak pernah aku membahasnya denganmu. Aku telah berjanji pada penguasa langit. Tak akan menceritakannya padamu walau hanya seucap saja. Dan sang waktu kembali berputar. Setelah tragedi itu, sengketa itu. Yang membuat langit berguncang. Porak poranda di atas sana. Aku hanya membisu di tengah kekacauan itu. Diantara hinaan dan cacian, penguasa langit membelaku!
Tak perlu khawatir, aku baik-baik saja. Setahun kujalani hari demi hari. Dua kali aku terpana dan dua kali pula aku lari terbirit-birit, bersembunyi di bawah naungan awan. Sesekali aku melihatmu berjalan melewatiku. Sesaat mata kita bertemu. Kita hanya saling melempar senyum. Setelah itu semuanya kembali normal. Hingga suatu hari kau datang mengetuk pintuku. Kau datang dengan peluh berjatuham, wajah lusuh, dan mata yang bengkak. Kau kenapa? Di tengah hujan aku sendirian memapahmu. Mengajakmu duduk dan bicara. Kau ceritakan semua yang telah terjadi. Peristiwa tragis itu. Pertempuran itu.. ada darah jatuh dari pelipismu. Kau tidak hanya tergores. Luka itu cukup dalam. Sebilah pisah telah menorehkan garis merah itu. Aku diam tak berkata. Sembari membersihkan lukamu, mengompresnya, dan mengobatinya sebisaku.
Aku membiarkanmu datang ke pondokku keesokan harinya. Membiarkanmu duduk di bangku kayu mengamatiku merangkai jala. Hingga lukamu benar-benar sembuh dan musuhmu lenyap. Kau masih saja datang berkunjung. Aku tidak protes ataupun komentar. Setiap kali kau mengetuk pintuku, aku membukanya dan mempersilakanmu duduk. Aku berusaha menjadi tuan rumah yang baik, sebagaimana engkau menjadi tamu yang selalu sopan. Sampai pada hari di mana aku menatap kembali dua bola mata itu. Seketika aku terlempar kembali pada saat itu. Saat ratusan kupu-kupu mengepakkan sayapnya di dalam perutku. Saat aku terpaksa mencabut semua itu dan menghadap penguasa langit.
Tapi dua buah bola mata itu sungguh indah. Penguasa langit, maafkan aku.. Apakah sebidang langit itu telah lenyap? Mengapa rasa yang dulu kutitipkan di sana kembali lagi ke dalam saku kemejaku? Terlipat rapi di balik saku kotak ini. Tanpa perlu kusentuh aku sudah yakin bahwa saku kemejaku ini tidak kosong. Dan ketika kau pamit pergi meninggalkan aku duduk di sudut pondok, perlahan kuambil lipatan merah hati dari saku kemejaku. Aku tak percaya lipatan itu kembali lagi berada di tanganku. Aku semakin tak percaya tatkala jemariku dengan lihai membuka lipatan demi lipatan itu. Dan ketika lipatan itu telah terbuka semua, kini aku bisa melihat segenggam benda berwarna merah. Dia masih hidup. Denyutnya mengalirkan kehidupan. Aku terpana dibuatnya. Bagaimana bisa?
Sekarang aku masih duduk di sudut pondok, menatapnya nanar. Sesekali kualihkan pandangan ke arah pintu. Berharap mendengar ketukan darimu. Tapi malam sudah merayapi bumi. Langit gelap. Bintang gemintang enggan berkeliaran. Jangkrik dan kodok bersembunyi nun jauh di sana. Alam seakan paham, akan ada badai malam ini. Aku dilanda bingung luar biasa. Saat ini kau bisa datang kapan saja. Dan penguasa langit telah mengembalikan apa yang dulu kutitipkan padanya. Mungkin aku kalah sengketa dengan para prajurit menyebalkan itu. Atau penguasa langit enggan menjaganya untukku? Tapi penguasa langit amatlah baik. Tapi bisa saja ia kesal denganku. Ah, semua ini membingungkanku. Aku tidak tahu mau menaruh benda ini di mana di pondok kecil ini. Dan jika kau datang lagi, penjelasan apa yang harus aku berikan. Ah, mengapa semua ini menjadi rumit.
Dan semua ini bertambah rumit karena seekor kurang-kunang nakal dalam kepalaku terus meneriakkan namamu. Memanggilmu untuk duduk di hadapanku. Aku takut jika kau mendengar teriakan kunang-kunang nakal itu. Malam makin merajuk. Gelap makin menggeliat. Semilir angin menggelitik anak-anak rambutku. Seekor belalang tiba-tiba bertengger di hidungku, mengagetkanku. Sontak, aku menyebutkan namamu. Angin dingin membawa suaraku. Suara yang memanggilmu. Dia bergerak semakin jauh. Entah sampai atau tidak di telingamu. Yang jelas, peerku malam ini adalah mengamankan segenggam benda hidup di tanganku.
Selamat malam!
Tak perlu khawatir, aku baik-baik saja. Setahun kujalani hari demi hari. Dua kali aku terpana dan dua kali pula aku lari terbirit-birit, bersembunyi di bawah naungan awan. Sesekali aku melihatmu berjalan melewatiku. Sesaat mata kita bertemu. Kita hanya saling melempar senyum. Setelah itu semuanya kembali normal. Hingga suatu hari kau datang mengetuk pintuku. Kau datang dengan peluh berjatuham, wajah lusuh, dan mata yang bengkak. Kau kenapa? Di tengah hujan aku sendirian memapahmu. Mengajakmu duduk dan bicara. Kau ceritakan semua yang telah terjadi. Peristiwa tragis itu. Pertempuran itu.. ada darah jatuh dari pelipismu. Kau tidak hanya tergores. Luka itu cukup dalam. Sebilah pisah telah menorehkan garis merah itu. Aku diam tak berkata. Sembari membersihkan lukamu, mengompresnya, dan mengobatinya sebisaku.
Aku membiarkanmu datang ke pondokku keesokan harinya. Membiarkanmu duduk di bangku kayu mengamatiku merangkai jala. Hingga lukamu benar-benar sembuh dan musuhmu lenyap. Kau masih saja datang berkunjung. Aku tidak protes ataupun komentar. Setiap kali kau mengetuk pintuku, aku membukanya dan mempersilakanmu duduk. Aku berusaha menjadi tuan rumah yang baik, sebagaimana engkau menjadi tamu yang selalu sopan. Sampai pada hari di mana aku menatap kembali dua bola mata itu. Seketika aku terlempar kembali pada saat itu. Saat ratusan kupu-kupu mengepakkan sayapnya di dalam perutku. Saat aku terpaksa mencabut semua itu dan menghadap penguasa langit.
Tapi dua buah bola mata itu sungguh indah. Penguasa langit, maafkan aku.. Apakah sebidang langit itu telah lenyap? Mengapa rasa yang dulu kutitipkan di sana kembali lagi ke dalam saku kemejaku? Terlipat rapi di balik saku kotak ini. Tanpa perlu kusentuh aku sudah yakin bahwa saku kemejaku ini tidak kosong. Dan ketika kau pamit pergi meninggalkan aku duduk di sudut pondok, perlahan kuambil lipatan merah hati dari saku kemejaku. Aku tak percaya lipatan itu kembali lagi berada di tanganku. Aku semakin tak percaya tatkala jemariku dengan lihai membuka lipatan demi lipatan itu. Dan ketika lipatan itu telah terbuka semua, kini aku bisa melihat segenggam benda berwarna merah. Dia masih hidup. Denyutnya mengalirkan kehidupan. Aku terpana dibuatnya. Bagaimana bisa?
Sekarang aku masih duduk di sudut pondok, menatapnya nanar. Sesekali kualihkan pandangan ke arah pintu. Berharap mendengar ketukan darimu. Tapi malam sudah merayapi bumi. Langit gelap. Bintang gemintang enggan berkeliaran. Jangkrik dan kodok bersembunyi nun jauh di sana. Alam seakan paham, akan ada badai malam ini. Aku dilanda bingung luar biasa. Saat ini kau bisa datang kapan saja. Dan penguasa langit telah mengembalikan apa yang dulu kutitipkan padanya. Mungkin aku kalah sengketa dengan para prajurit menyebalkan itu. Atau penguasa langit enggan menjaganya untukku? Tapi penguasa langit amatlah baik. Tapi bisa saja ia kesal denganku. Ah, semua ini membingungkanku. Aku tidak tahu mau menaruh benda ini di mana di pondok kecil ini. Dan jika kau datang lagi, penjelasan apa yang harus aku berikan. Ah, mengapa semua ini menjadi rumit.
Dan semua ini bertambah rumit karena seekor kurang-kunang nakal dalam kepalaku terus meneriakkan namamu. Memanggilmu untuk duduk di hadapanku. Aku takut jika kau mendengar teriakan kunang-kunang nakal itu. Malam makin merajuk. Gelap makin menggeliat. Semilir angin menggelitik anak-anak rambutku. Seekor belalang tiba-tiba bertengger di hidungku, mengagetkanku. Sontak, aku menyebutkan namamu. Angin dingin membawa suaraku. Suara yang memanggilmu. Dia bergerak semakin jauh. Entah sampai atau tidak di telingamu. Yang jelas, peerku malam ini adalah mengamankan segenggam benda hidup di tanganku.
Selamat malam!
Komentar