Risau
Ada seekor nyamuk rese. Terbang-terbang ngelilingin laptop yang notabene lagi dipake ngetik sama pemiliknya. Pemiliknya ngantuk. Tapi belum mau tidur. Pikirannya sibuk. Otaknya terus berpikir. Berpikir dan berpikir. Hanya dipikirkan saja. Jam dinding tua berdetak. Detak jarum detiknya seperti bunyi seretan mesin tua. Mesin jam itu sudah tua. Bukan suara merdu tiktiktik yang dihasilkan. Melainkan suara berat mesin menyeret jarum detik agar bergerak. Jarum langsing itu bergerak berputar. Tiga ratus enam puluh derajat berulang-ulang. Setiap hari. Di atas, di dekat lampu ada seekor cicak. Cicak itu diam di tempatnya. Begitu ada nyamuk lewat, dengan gerakan cepat.. hap! Nyamuk itu dilahap.
Ada yang mengganggu pikiranku. Ada yang selalu mengusik batinku. Tapi apaan? Akhir-akhir ini aku kehilangan yang namanya kedamaian. Bukan, bukan akibat teror bom di Sarinah beberapa waktu yang lalu. Bukan juga karena kamu, bukan. Bukan kok. Apakah aku mengkhawatirkan nilai? Mmm, tidak juga. Seharusnya tidak perlu selebay ini. Apa aku mikirin tugas dirjen setahun nanti? Mmm, bisa jadi. Apa susahnya menggerakkan jari tangan agar mereka bernyanyi sesuai irama? Bukan sayang, bukan itu. Yang itu namanya dirijen. Kalo yang ini 'i' nya cuma satu. Paham?
Mungkin bukan hanya aku yang merasakan hal ini. Tetapi, teman-temanku yang lain juga merasakannya. Padahal, apa sih yang kamu risaukan, Ky? Apaan? Bukankah kamu sendiri yang bilang kalau tidak ada hal yang benar-benar sulit karena semuanya memiliki teknik dasar yang pasti bisa dipelajari? Mengapa malah meragukan perkataanmu sendiri?
Semua ini tidak akan lebih sulit dari rancob, atau matematika, atau statistik, atau segala bentuk mata kuliah yang kental akan unsur matematika. Tapi, bagaimana jika.. Jika apa? Secara naluri kamu pasti akan bisa menghandlenya ketika kamu sudah benar-benar terjun di dalamnya. Saat ini kamu seperti bocah di pinggir kolam yang ragu untuk nyebur atau tidak. Mau tidak nyebur sudah terlanjur basah dan sudah di pinggir sekali, sedikit lagi juga toh akan nyebur sendiri. Tapi mau nyebur kok ya risau kalau-kalau air itu berubah jadi galak bergerak membentuk pusaran lalu mengisapmu ke tengah dan melenyapkanmu. Walau hal itu mustahil terjadi, tapi kamu tetap kepikiran ya kan?
Belum lagi kehidupan rumah yang sangat menyamankanmu. Tidak ada kuliah, tidak ada rapat, tidak ada bangun pagi dan mandi pagi, mau makan tinggal ke dapur, mau minum tinggal ambil gelas, jajanan insyaAllah selalu ada dan diadakan, mau tidur selama apapun ya monggo, tidak punya kewajiban atau tanggungan yang harus kudu diselesaikan, tidak harus memeras otak memikirkan hal-hal seperti sabun habis, belum bayar listrik, cucian numpuk, jemuran belum diangkat, cucian piring segunung, baju belum disetrika, dan lain-lain. Tidak ada. Karena di rumah ibumu yang baik hati ini semua kebutuhanmu bisa dikatakan aman.
Dan ada lagi yang bikin galau, penilaian orang lain. Jika orang menilai buruk, paling aku hanya sedih, sakit hati, sedikit benci, lalu menangis. Bila orang lain mengejekku, paling aku hanya merasa terbully. Bila ada orang mencibir dan menghina, paling aku hanya sedih. Tapi apa kabar jika orang menganggapmu terlalu baik, terlalu pintar, terlalu cerdas, terlalu hebat, terlalu mandiri, terlalu strong, terlalu bisa, terlalu terlalu terlalu yang terlalu tinggi. Apa reaksimu? Tersenyum. Seneng. Bahagia. Mengamini. Membenarkan. Percaya. Setelah itu jadi sombong. Tapi pada tahapan selanjutnya pertanyaan bergaung dalam kepalamu: benarkah? Lalu kamu mulai meragukannya. Dan kamu mulai mendapati kegagalan-kegagalan, kenyataan-kenyataan yang tidak sesuai dengan apa yang orang nilai dan mungkin orang harapkan terhadap dirimu. Gimana rasanya? Nggak enak. Lebih nggak enak mana, dikecewain atau ngecewain? Sama-sama nggak enaknya tapi sensasinya beda banget. Karena kalau dikecewain kita kecewa sama orang lain tapi nggak lama kemudian kita bisa menerimanya kembali dengan legowo. Sedangkan ngecewain, urusannya sama diri sendiri. Yang harus kita maafin adalah diri kita sendiri karena kita yang bikin kecewa. Dan, believe it or not itu rasanya lebih susah.
Jadi, aku kudu pie?
._____.
Komentar